
Jeff hendak mengurungkan niat untuk ke dapur melihat mertuanya keluar kamar sembari memegangi dada. "Papa kenapa?" Tanyanya. "Nggak tau. Dada Papa sakit. Sulit bernafas." Jawabnya. "Kita ke rumah sakit.
Tengah malam Jihan dan Jeff masih menunggu di depan ruangan tempat Papa ditangani. "Pasien ingin bertemu dengan Ibu dan Bapak." Ucap dokter yang baru keluar. Jihan berjalan terburu buru masuk ke dalam diikuti suaminya.
"Papa." Panggil Jihan sembari menggenggam dan mencium tangan papanya. Beliau tersenyum. "Jangan menangis." Ucapnya dengan susah payah karena sedang menahan sakit. "Jeff. Papa titip putri Papa. Jangan sakiti dia." Pesannya pada menantu. "Tidak. Jeff akan jaga sama sama dengan Papa. Kita jaga bareng bareng." Jawabnya ikut meneteskan air mata. Memang Ia belum mengenal mertuanya lama. Namun pria itu sudah seperti orang tuanya sendiri. "Papa titip putri Papa." Tak berselang lama suara monitor jantung berbunyi membuat dokter buru buru masuk ke dalam.
__ADS_1
Jihan langsung menghampiri dokter yang baru keluar. "Bagaimana dok? Papa saya baik baik saja kan? Papa sehat kembali kan?" Tanya wanita itu bertubi tubi. "Mohon maaf. Beliau tidak terselamatkan." Jawab dokter. "Kami turut berduka." Lanjutnya lagi. Jihan diam membeku di tempat. Ia sekarang sudah benar benar kehilangan penopang hidupnya. Pria yang selama ini menjadi sandarannya telah tiada. Papanya meninggalkan dia untuk selamanya. "Sabar Ma." Jeff memeluk istrinya dengan erat sembari mengusap punggung wanita itu. "Ini bohong kan? Papa masih hidup kan?" Tanyanya sambil menangis. "Papa sudah tiada Ma. Mama ikhlaskan." Jihan menggeleng. "Tadi masih bicara sama kita. Papa masih hidup." Jihan meraung meratapi kesedihannya yang begitu dalam. "Apa Papa nggak mau lihat cucunya lahir. Kenapa dia pergi secepat ini." Lanjutnya lagi dengan tangisan pilu yang menyayat hati.
Pagi hari di rumah Jihan sudah ramai oleh pelayat. Wanita itu duduk bersama sahabat dan keluarga sembari menatap kosong jenazah Papanya yang belum di semayamkan. "Minum dulu susunya Ma." Ucap Jeff namun lagi lagi istrinya hanya menggeleng. "Iya Dek. Pikirkan kandungan kamu juga." Ucap Bunda. "Aku tidak mau." Jawab Jihan pelan.
"Mama di rumah saja." Jeff tidak mau istrinya ikut ke pemakaman karena khawatir dengan keadaan wanita itu. "Aku mau ikut." Jawab Jihan bersikeras. "Ini terakhir kali aku sama Papa. Aku Pengen ikut." Lanjutnya kembali menangis. "Iya. Ayo." Putus Jeff menggandeng tangan sang istri.
__ADS_1
Tak banyak bicara Jihan hanya dia di sepanjang perjalanan. Sampai mobil berhenti di depan rumah pun wanita itu turun lalu menaiki tangga masuk ke dalam rumah. "Kalian mandi dulu terus makan. Papa mau susul Mama." Pasan pria itu diangguki oleh anak anaknya.
Jeff masuk ke dalam kamar sembari membawa makan dan susu. Ia mencari keberadaan istrinya hingga ke balkon kamar namun tidak ada. "Ma." Ucapnya melihat Jihan yang baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berganti. "Makan dulu Ma." Ia memeluk tubuh ramping Jihan dengan hangat. "Ikhlaskan Ma. Kalau Mama seperti ini Papa juga sedih disana. Ingat ada anak anak kita di dalam. Mereka juga butuh makan." Ucap Jeff. "Maaf aku egois." Jihan menangis lagi. "Tidak. Papa mengerti bagaimana perasaan Mama. Sekarang makan ya." Wanita itu akhirnya mengangguk menuruti kemauan sang suami.
Dengan telaten Jeff menyuapi istrinya. "Papa sudah makan?" Tanya Jihan di jawab gelengan. "Setelah ini Papa makan." Jawabnya. "Papa makan juga." Pinta wanita itu. "Iya. Papa makan." Jawab Jeff menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri setelah menyuapi sang istri.
__ADS_1
Jihan sudah tertidur pulas dalam dekapan suaminya. Jeff tau sang istri begitu lelah dan mengantuk karena dari semalam tidak tidur. Ia memang menyuruh Jihan istirahat. Semua keperluan untuk penggajian nanti malam sudah diurus oleh anak anak dan sahabat istrinya yang tutut membantu. "Jeff akan jaga Pa. Papa jangan khawatir. Tanpa Papa suruh pun Jeff akan menjaga Istri Jeff dengan baik." Lirihnya pelan sembari mengecup bibir sang istri.