
Jihan sedang menimang nimang kedua anaknya. Wanita itu tak memperdulikan Jeff yang terburu buru memakai sepatu. Ia sedikit kesal, daritadi sudah dibantu bersiap mulai dari memakai pakaian dan lain sebagainya tapi Jeff leha leha tak kunjung berangkat. Dan di jam jam mepet yang baru disadari dan akhirnya pria itu kelabakan.
"Papa berangkat Ma." Ucap Jeff mencium istri kemudian kedua anaknya. "Jangan nakal. Jangan bikin Mama repot." Lanjutnya berpesan. "Hati hati." Jawab Jihan sambil mencium tangan sang suami. "Iya. Mama mau dibawakan apa Ma?" Tanyanya menawari. "Bakso aja deh." Pria itu mengangguk kemudian segera bergegas setelah meninggalkan kecupan di pipi istrinya.
__ADS_1
Jeff memasuki ruangannya. Ia berdecak saat melihat sekertaris laknat nya sudah duduk santai sambil menikmati minuman di sofa. "Sekarang kamu bosnya?" Ia menyindir sembari ikut duduk bergabung. "Heh....Siapa yang ngerjain semuanya kalo bukan aku. Berapa lama aja kamu nggak masuk kantor? Aku wara wiri kesana kemari kamu enak enak di rumah sama istri. Lagipula kamu datang begini kalo lagi penting aja. Kayanya fungsi aku lebih dari bos deh. Katanya mau kasih aku cuti. Cuti apaan? Cih...." Will berdecih. "Kamu aku yang gaji jadi jangan banyak protes. Untuk liburan kamu boleh berangkat sekalian aku kasih bonus." Ucap Jeff. "Beneran?" Mata Will berbinar. "Heum. Pesenin bakso dulu buat istriku. Aku bawa pulang nanti." Jawabnya malas sambil memerintah. "Abis meeting aja." Ia merebahkan tubuhnya di sofa tak menghiraukan perintah atasannya. "Sekarang. Selesai meeting nanti aku langsung pulang." Will berdecak lalu meraih ponselnya untuk memesan. "Mau bakso apa?" Tanyanya. "Lupa tanya. Telpon istri pasti nggak bakalan di angkat. Beli semua jenis aja." Jawab Jeff.
Will baru keluar dari ruangan meeting bersama bosnya. Ia mengikuti Jeff hingga masuk ke dalam ruangan pria itu. "Duitnya mana?" Tanyanya sembari menengadahkan tangan. "Duit apaan?" Tanya Jeff sambil menyipitkan mata. "Eh. Mata sipit nggak usah begitu. Kaya merem tau nggak." Kesalnya. "Wah keterlaluan kamu. Menghina. Gini juga dapat bini cakep." Ia meninju pundak Will hingga pria itu mengaduh kesakitan. "Kalo bukan Jihan risih di kejar terus juga nggak bakal di terima." Jeff menatap tajam sekertarisnya. "Sialan. Kaya dulu kamu nggak gitu aja sama istri kamu. Yang tiap hari curhat karna surat cintanya di buang siapa?" Will berdecak diingatkan masa lalunya. "Tau ah. Duit bakso mana? Aku harus ganti uang resepsionis depan. Sini 250 ribu." Ucapnya. "Aku nggak ada uang cash. Ngutang dulu lah." Jawab Jeff sambil tersenyum. "Mana ada bos ngutang sama bawahan. Ganti pake transfer sekarang." Ucap Will. "Nanti. HP aku lagi lowbat. Dah, Aku pulang dulu." Ucapnya bergegas pergi. "Sialan. Aku aduin ke istri kamu." Ia berdecak lalu mengambil ponselnya.
__ADS_1
Jeff yang baru sampai rumah langsung ke dapur menyuruh bibi untuk menyiapkan bakso istrinya sementara Ia akan mandi sebentar karena dari luar takut membawa bakteri dan kuman untuk buah hati dan keluarga. Sudah menjadi kebiasaan Jeff seperti itu. Bahkan Ia mewajibkan seluruh tamu yang datang untuk memakai hand sanitizer mengingat istrinya yang begitu sensitif dan alergian. "Kok nggak ada." Gumam pria itu tidak mendapati Jihan di kamar.
"Kenapa sebanyak ini?" Tanya Jihan terkejut dengan bakso yang dibeli suaminya. "Papa nggak tau Mama mau yang mana makanya Papa beli semua." Jawab Jeff sambil tersenyum. Pria itu mulai makan sambil menyuapi Istri dan anak bungsu yang kini sudah tidak bungsu lagi. "Juma jam segini kok sudah pulang?" Ia bertanya sembari mengusap sudut bibir putranya. "Ada rapat Pa." Jawab bocah tampan itu.
__ADS_1
Malam hari semuanya berkumpul di ruang keluarga. "Ibu. Dika boleh keluar sebentar." Ucapnya meminta izin. "Mau kemana?" Tanya Jihan sembari mengusap kepala putranya. "Mau beli sate tahu depan. Dika pengen." Jawabnya. Jihan mengangguk. "Jangan pergi sendiri. Minta temani." Ia memberikan uang. "Ayo sama kakak." Jason berdiri. Remaja itu mengangguk. "Kami berangkat Ma." Keduanya berpamitan lalu segera berangkat.
Lima belas menit keluar keduanya baru kembali langsung bergabung lagi dengan keluarga. "Ketularan Mama. Katanya mau beli sate tahu nyatanya enggak." Sindir Julian. "Biarin. Enak kok." Jawab Jason. "Mama mau nggak?" Lanjutnya menawari. "Pedes nggak?" Tanya Jeff memastikan. "Enggak Pa. Bumbu kacangnya nggak pedes kok." Jawab Jordan yang sudah makan duluan. "Boleh." Jason langsung menguapi Mamanya setelah mendapat jawaban. "Baru ditinggal lima belas menit dia sudah tidur?" Dika tertawa kecil melihat Juma tiduran di karpet dengan paha Ibunya sebagai bantal. "Dia gampang tidur padahal tadi heboh banget." Ucap Jaffan menarik hidung adiknya namun bocah tampan itu masih tetap pulas. "Jangan di ganggu Kak. Bangun nanti." Jalwa memukul lengan kembarannya. "Um..." Juma terbangun bukan karena ramai melainkan pipinya yang kena tetesan sambal sate Jalwa. "Maap." Gadis itu langsung mengusapnya dengan tissue. "Mau." Ucapnya ketika sudah duduk dengan mata terpejam. "Iya." Jawab Jihan. "Matanya itu melek dulu kenapa sih. Nanti tangan Mama yang kamu gigit." Ucap Jason membuat mereka tertawa.
__ADS_1