
Hari ini Jihan pergi ke perusahaan. Wanita itu langsung duduk begitu sampai di ruangannya. "Eh Bu bos udah dateng." Ucap Satria baru datang sambil cengengesan lalu duduk di sofa. "Ini buat aku ya?" Tanyanya melihat dua kotak cake di atas meja. "Cepet banget kalau soal makanan. Iya buat kamu. Satunya kasih ke Dina." Ucap Jihan. "Makasih. Emang paling pengertian." Ia tertawa kecil segera memakan cake miliknya. "Mana yang harus di tandatangani?" Jihan memukul bahu sekretarisnya itu lalu ikut duduk di sofa. "Yang di meja itu. Ganggu aja deh orang lagi makan." Gerutunya. "Oh begitu. Potong gaji mau?" Satria seketika menggeleng. "Jangan kejam begitu lah Bos. Cukup suamimu aja." Jawabnya.
"Ji. Kamu tega banget sama aku." Ucap Satria tiba tiba. "Masa tadi pagi suami kamu telpon aku marah marah gegara kamu ke kantor karna harus tandatangani berkas. Kan aku sudah bilang kalau aku bisa antar ke rumah tapi kamu yang mau datang sendiri." Satria bercerita saja daripada menunggu respon sahabatnya yang lama. "Bosen di rumah terus. Pengen lah keluar. Sejak hamil nggak pernah keluar." Jawab Jihan masih fokus dengan Map di tangannya. "Bisa bisanya kamu korbanin kawan demi bisa keluar. Memangnya kamu bilangnya apa ke Jeff?" Jihan menutup berkasnya. "Aku bilang aja kalau aku harus ke kantor. Urgent banget. Kamu nggak bisa antar berkas ke rumah karna sibuk." Satria membulatkan mata mendengar jawaban sahabatnya. "Pantesan. Kan aku udah bilang bisa antar tapi nanti sore. Parah kamu. Mana cuman di bayar pake cake lagi. Padahal suami kamu marahin aku kejam banget." Kesalnya. "Gitu aja. Bantuin kawan kan nggak ada salahnya. Lagian juga di marahin doang lewat telpon nggak lihat wujudnya. Takut banget." Ucap Jihan membuat sekertarisnya berdecak. Dia nggak tau saja jika Ia tadi sampai gemetaran di bentak Satria. Tidak bertemu saja mampu membuatnya jantungan apalagi bertemu. Bisa bisa mati berdiri berhadapan dengan orang itu.
Satria hampir terkena serangan jantung. Bagaimana tidak, saat Ia keluar daru ruangan Jihan tiba tiba Jeff sudah ada di depannya. "Ngapain kamu?" Tanyanya sambil bersedekap dada dan menatap tajam pria yang berdiri di depannya. "Antar berkas Pak." Jawab Satria. "Minggir. Aku mau lewat." Tegasnya membuat pria itu seketika menyingkir. "Mimpi buruk ketemu dia. Astaga. Tatapannya bikin orang sulit napas." Gumam Satria bergegas pergi.
__ADS_1
"Mama." Pintu ruangan Jihan terbuka lebar. Sosok pria berjalan kemudian memeluk dan mencium istrinya sebelum duduk bergabung. "Mama baik baik aja kan?" Tanyanya memastikan. "Baik. Memangnya kenapa?" Ia balik bertanya pada suaminya. "Nggak. Cuman cemas aja. Tadi Mama kesini kan sama supir nggak sama Papa." Jawab Jeff.
Jihan menyuapi suaminya dengan telaten. Ia memang tidak makan karena merasa kenyang. "Habis ini kita langsung pulang ya Ma. Papa ngantuk banget pengen tidur sambil peluk Mama." Ucap Jeff sambil mengunyah makanannya. "Iya." Jawab Jihan. "Mama sakit ya?" Ia mengusap pipi sang istri. "Nggak. Cuman sedikit lelah saja. Jangan khawatir."
Jihan sudah sampai rumah bersama suaminya. Mereka langsung bersih bersih dan istirahat. Jeff memijit kaki sang istri setelah menutup jendela dan gorden kamar. "Katanya ngantuk Pa. Nggak usah di pijitin." Ucap Wanita itu. "Mama tidur duluan aja nanti Papa nyusul. Mama kan capek tadi habis jalan lama." Jawabnya masih terus memijit. "Nggak usah dipijit. Nggak capek kok. Ayo tidur aja." Jeff mengangguk kemudian segera berbaring sambil memeluk istrinya setelah meninggalkan kecupan di seluruh wajah wanita itu.
__ADS_1
"Pa." Panggil Jihan. "Iya. Mama butuh sesuatu?" Tanya Jeff. "Bukan. Selimutnya tolong dong. Kenapa tiba tiba dingin ya." Ucap Jihan. Jeff bergegas menyelimuti istrinya. "Mama sakit? Papa panggilkan dokter ya." Jihan menggeleng pelan. "Pengen tidur aja." Jawabnya sambil memejamkan mata.
Jeff terbangun merasakan suhu tubuh istrinya yang meningkat. Tau apa yang harus dilakukan pria itu segera mengambil plester demam dan menempelkan di kening istrinya. Ia menghubungi dokter sembari mengecek suhu tubuh istrinya. "40." Gumamnya.
Jihan masih tertidur. Wanita itu baru saja meminum obatnya. "Kita keluar dulu Pa." Ucap anak anak bergegas setelah meninggalkan kecupan di pipi Ibunya. "Juma mau disini sama Ibu." Ucapnya masih berbaring sambil memeluk sang Ibu. "Iya. Ayo tidur." Ajak Jeff memeluk istri dan putranya.
__ADS_1