Lembaran Baru Hidupku

Lembaran Baru Hidupku
Tidak Akan Menyerah


__ADS_3

Seorang wanita paruh baya menghampiri Jeff yang sedang duduk termenung di ruang keluarga. "Pak. Ada kiriman." Ucapnya sambil memberikan beberapa paper bag pada pria itu. "Dari siapa?" Tanyanya. "Dari Mbak Jihan." Jawabnya membuat Jeff seketika tersadar dari lamunan. Tanpa menjawab pria itu langsung bergegas pergi.


"Jordan." Panggil Jeff sembari mengetuk pintu kamar putranya. "Ada apa Pa?" Tanyanya. "Mama pulang." Jordan tersenyum. "Sudah tau. Jordan tadi habis telponan sama Mama." Jawab remaja itu. "Ayo ke rumah Mama." Ajak Jeff begitu semangat. "Mama nggak di rumah Pa. Tadi sempat bilang mau keluar sama Juma tapi nggak tau kemana." Pria itu membalikkan badannya dengan cepat meninggalkan Putranya yang masih berdiri di ambang pintu.


Jeff kini sedang berada di ruang kerjanya. Pria itu bertelponan dengan seseorang sudah dari beberapa menit yang lalu. "Dimana posisinya sekarang?" Tanyanya dengan wajah datar dan suara terkesan dingin. "Selesai belanja Bu Jihan ke apartemen bersama Putranya." Jawab Pria di sebrang sana. "Hm. Kenapa tidak memberi kabar ketika dia pulang?" Jeff menekan nada bicaranya. "Maaf Pak. Kami sejak semalam sudah menghubungi namun tidak di angkat oleh Pak Jeff." Ia mengangguk membenarkan. Memang benar ada beberapa riwayat panggilan tak terjawab dari semalam. Jeff kira tidak penting karena kepulangan Jihan jika sesuai yang wanita itu katakan adalah hari ini namun entah kenapa semalam sudah pulang. "Baiklah." Ucap pria itu mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Jihan sedang berada di ruang tengah menikmati es tehnya sembari menonton film setelah menidurkan Juma. "Siapa?" Gumam wanita itu mendengar bel apartemennya berbunyi. Ia langsung bergegas menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang.


"Mama." Jihan tersentak mendapatkan pelukan erat dari seseorang ketika baru saja membuka pintu. Ia terus memberontak namun Jeff tidak peduli. Rasa rindunya sudah tak bisa dibendung lagi. "Lepaskan." Geram Jihan. "Maaf." Ucap Jeff merasa bersalah karena telah lancang. "Kamu kok bisa tau aku ada disini?" Tanya Jihan penuh selidik. "Apa sih yang nggak Papa tau tentang Mama." Jawab Pria itu tersenyum kemudian melenggang pergi masuk ke dalam tanpa dipersilahkan.


Beberapa saat hening keduanya sama sama tak bicara. "Ma." Panggil Jeff pelan. "Mari menikah." Lanjut pria itu membuat Jihan menghela napas. Sudah berkali kali Ia memberikan jawaban penolakan namun Jeff tetap tak ingin mundur. "Jawaban aku masih sama. Daripada menunggu lama. Ada baiknya kamu cari yang lain saja." Tambah Jihan untuk memperjelas. Ada rasa nyeri di hati pria itu meskipun sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. "Coba jelasin Ma. Kurangnya atau yang Mama nggak suka dari Papa apa?" Ia meminta penjelasan. "Tidak ada. Kamu baik dan perhatian dengan anak anak. Mungkin wanita di luar sana juga akan langsung mengatakan iya. Namun entah kenapa aku rasa aku belum siap memulai lagi. Aku sudah nyaman dengan anak anak." Jawab Jihan. "Seberapa banyak kamu menolak pasti selalu ada kesempatan. Sebenarnya lelah. Tapi hati berkata untuk tetap berjuang. Tidak ada kata mundur dalam hidupku." Ucap Jeff bersungguh sungguh menatap lekat wajah cantik Jihan yang menatap lurus ke depan.

__ADS_1


"Ma. Nomor Papa Mama blokir ya?" Tanya Jeff yang sedang duduk memangku Juma sembari menunggu Jihan yang sedang masak. "Iya." Jawab Jihan membuatnya berdecak. Ia mengambil ponsel wanita itu dan membebaskan nomornya. "Sudah." Ucap Jeff meletakkan kembali di tempat semula.


Jeff mendudukkan Juma di meja marmer. Pria itu membuka kulkas mengambil susu kotak dingin dan memberikan pada bocah tampan itu. "Enak ya?" Tanyanya di jawab anggukan. "Boleh minta?" Lagi lagi Juma mengangguk. Jeff tersenyum meminum satu teguk susu milik Juma. "Enak kan?" Tanya Juma sambil tersnyum. "Enak." Jawab Jeff mengusap kemudian mengecup kening calon putranya dengan sayang. Jihan melihat kedekatan keduanya terenyuh. Sebenarnya untuk masalah menikah anak anak sudah mengatakan jika mereka menerima Jeff sebagai papa sambungnya. Namun entah kenapa Ia belum siap berumah tangga lagi.


Ketiganya makan bersama setelah hidangan tersaji. "Hati hati masih panas." Ucap Jihan mengambilkan nasi dan lauk untuk Jeff. "Makasih Ma." Ucap Pria itu berasa punya istri jika seperti ini. "Iya." Jawab Jihan segera duduk dan makan bersama putranya. "Juma kalau puasa ikut?" Tanya Jeff membuka obrolan. "Ikut. Juma puasa Full." Pria itu mengangguk. "Hebat. Papa saja tidak kuat." Ucapnya membuat Jihan mengernyitkan kening. "Iya Ma. Nggak kuat haus dan laparnya. Kan baru pertama kali." Lanjut Jeff menjelaskan. "Belajar dong. Yang namanya puasa kan memang tahan haus, lapar dan hawa nafsu. Masa kalah sama anak kecil." Tutur Jihan di jawab anggukan. "Papa pengen puasa ini sudah jadi suami Mama. Biar bisa di bimbing." Jeff tersenyum menatap Jihan yang masih fokus menyuapi Juma.

__ADS_1


__ADS_2