
Jeff baru saja pulang memeriksakan mata istrinya. Wanita itu akhir akhir ini sering menabrak hingga tak jarang juga jatuh. Ternyata mata Jihan minus. Akibatnya wanita itu harus menggunakan kacamata sekarang. Bukannya terlihat culun atau mengurangi kecantikannya. Jihan tetap cantik seperti biasanya. Pipi yang sedikit chubby, bibir mungil dengan kacamata bundar yang di pakainya membuat wanita itu terlihat menggemaskan.
__ADS_1
"Ibu." Juma berlari memasuki kamar Ibunya lalu memeluk wanita itu dengan erat. "Ibu pakai kacamata sekarang?" Tanyanya. "Iya. Mata Ibu sakit." Jawab Ji sambil mengusap kepala dan mencium kening putranya. "Ayo mandi dulu habis itu makan. Ibu masak ayam kecap." Juma mengangguk kemudian bergegas pergi melaksanakan perintah Ibunya.
__ADS_1
Jihan mandi lalu mengganti bajunya dengan daster rumahan. Wanita itu pergi ke kamar bayi langsung menyusui kedua anaknya. "Lahap banget." Ucap Jeff memeluk istrinya yang sedang menyusui. Pria itu menghirup aroma wangi dari ceruk leher sang istri. "Iya. Haus kayanya. Padahal tadi sebelum kita ke rumah sakit kan sudah minum ya." Jeff mengangguk membenarkan. "Kasih asi begini sampai usia berapa Ma?" Tanya Jeff. "6 bulan." Jawab Jihan. "Lama juga ya." Gumamnya.
__ADS_1
Selesai acara makan makan mereka berkumpul di ruang keluarga untuk bersantai sembari menimang nimang si kembar yang sudah bangun dari tidur. Bayi yang kini telah berusia tiga bulan itu selalu tenang dan tidak merepotkan Ibunya. "Kenapa hm?" Tanya Juma saat sang adik menggerak gerakkan tangannya. "Mau pegang wajah kamu itu." Ucap Jalwa. "Jangan dong. Nanti kamu garuk seperti kemarin." Ia sedikit menjauh. "Ma, untuk MP asi biasanya Mama beli apa?" Tanya Jeff. "Nggak pernah beli. Dari anak anak dulu biasa bikin sendiri pakai sayuran. Eh gedenya pada susah makan sayur." Jawab Jihan. "Juma dulu makan sayur Bu?" Tanyanya. "Iya. Kamu paling suka kalau disuapi wortel." Bocah tampan itu mengernyitkan keningnya. "Kamu masih bayi dulu mana ingat." Jason mengusap wajah sang adik dengan telapak tangannya. "La terus Juma mulai makan nasi umur berapa dong?" Ia lagi bertanya tentang masa kecilnya. "Kamu susah makan. Dari umur setahun sukanya makan puding sama bubur buatan Ibu. Baru mau makan nasi itu umur dua tahun lebih. Itu pun lauknya suka pilih pilih sesuai mood kamu aja. Paling sering mintanya makan sama kerupuk di umes umes campur nasi." Jelas Jihan. "Hah. Masa makan kerupuk sama nasi aja." Ia heran. "Tanya sama Bibi kalau nggak percaya." Sahut Jaffan. "Terus agak gedean Juma makan apa?" Jihan tersenyum. "Makan orang." Jawab Julian mengundang tawa. "Makan apa aja asal Ibu yang masak kamu suka." Jawab Jihan. "Ya kan memang masakan Ibu paling enak." Ia memeluk Ibunya. "Tiba tiba Juma pengen puding masa kecil Juma. Buatin ya." Pintanya. "Iya. Nanti Ibu buatkan."
__ADS_1
Jihan menyajikan puding untuk semuanya. "Enak?" Tanya wanita itu melihat Juma begitu lahap. "Sangat enak. Makasih." Ucapnya lalu mencium sang Ibu. "Sama sama." Jawab Jihan. "Lihat coklatnya sampai menempel di pipi Ibu." Jaffan mengusap pipi Ibunya dengan tissue. "Puding masa kecil Juma kaya gini? Pantesan suka." Ucap Jeff. "Bukan hanya Juma Pa. Kita juga suka." Ucap Jalwa. "Iya. Mereka sering ambilin punya adiknya." Jihan mengingatkan. "Oh kedua kakakku ternyata. Mencuri jatah orang." Juma menatap Jaffan dan Jalwa bergantian. "Abisnya enak. Kamu yang dapat paling banyak." Jawab Jaffan membuat Juma mendengus sebal.
__ADS_1