Lembaran Baru Hidupku

Lembaran Baru Hidupku
Malam Takbir


__ADS_3

Jihan sedang berbincang dengan Carissa di ruang tengah. "Makasih kuenya kemarin Ji. Enak. Langsung aku makan sama anak sama suami." Ucap Wanita itu sambil tertawa kecil. "Sama sama." Jawabnya sambil mengeluarkan baju baju pesanannya dari paper bag. "Gimana sesuai dengan kemauan kamu nggak?" Carissa memastikan. "Ya. Sesuai. Makasih." Ucap Jihan.


Jeff menggendong Juma yang sedang menangis menghampiri istrinya. "Kenapa nangis?" Tanya Wanita itu meraih tubuh putranya lalu duduk kembali sambil memangku. "Kenapa nangis hm?" Tanya Carissa mengusap kepala si bungsu. "Jatuh dari ranjang." Jawab Jeff. "Mana yang sakit?" Jihan mengecek keadaan anaknya. "Memar di lutut. Sudah Papa kasih obat tadi." Carissa tersnyum melihat perhatian Jeff pada Juma yang begitu besar. "Papa mau mandi dulu." Ucapnya berpamitan dan bergegas pergi setelah mengecup kening sang istri tanpa beramah tamah terhadap sahabat Jihan.


"Hari ini terakhir puasa ya Ji." Kata Carissa di angguki oleh sahabatnya. "Kamu mudik ke rumah suami?" Tanya Jihan di jawab gelengan cepat. "Ipar aku pulang waktu lebaran. Aku kesananya pas dia udah balik. Tau sendiri kan hubungan kita makin memanas." Carissa menghela napas mengingat selalu di hina oleh kakak suaminya karena berprofesi hanya sebagai pemilik butik bukan memiliki profesi yang mapan seperti saudara saudara sang suami yang kebanyakan dokter, perawat dan bidan. "Sudah. Semoga hubungan kalian akan membaik dan ipar kamu cepat sadar." Ucap Jihan hanya bisa menenangkan sembari mengusap lengan wanita itu.

__ADS_1


Jihan menghampiri anak anak yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Wanita itu langsung membagikan baju untuk masing masing. "Jordan muat nggak?" Tanyanya. "Muat Ma. Makasih." Ia memeluk dan mencium Jihan. "Yaudah. Mama mau mandi dulu ya." Ia berpamitan. "Ma. Hadiah buat kita jadi kan?" Tanya Julian sekaligus mengingatkan. "Insyaallah, nanti malam." Jawabnya.


"Dari tadi baru selesai mandi Pa?" Tanya Jihan melihat suaminya baru keluar dari kamar mandi hanya mengenakan celana pendek. "Iya." Jawab Pria itu sambil tersenyum menghampiri sang istri dan memeluknya. "Mau cobain bajunya nggak? Siapa tau nggak muat. Aku pakai ukuran Jason lebih besar sedikit. Kamu kan kalau di ajak ke butik begitu susah." Ucapnya panjang lebar. "Boleh. Ayo pakaikan." Jihan mengangguk segera memakaikan untuk suaminya. "Pas. Makasih Ma." Jeff mengecup pipi istrinya. "Sama sama. Aku mau mandi dulu ya." Jawab Jihan bergegas pergi.


Suara takbir berkumandang. Mereka berkumpul di halaman belakang menemani Juma yang asik bermain kembang api bersama kakak kakaknya. "Kenapa sekarang Juma mau main kembang api yang begitu? Biasanya juga yang meledak di langit." Ucap Jason heran. "Dia nggak mau kelincinya takut." Jawab Jalwa sambil tertawa kecil. "Oalah gara gara kelinci." Sahut Jaffan. "Masuk yuk. Dingin. Nanti kalian masuk angin." Ajak Jihan. "Iya Ibu." Jawab mereka patuh. Juma langsung berlari minta di gendong Ibunya.

__ADS_1


Jeff menghampiri istrinya yang sudah berada di ranjang. Wanita itu tampak menggoda dengan gaun tidurnya yang pendek. "Cup." Satu kecupan mendarat mulus di bibir Jihan membuat wanita itu menutup bukunya dan meletakkan di atas nakas. "Makasih parfumnya Ma. Papa suka." Ucap Pria jeff sembari menidurkan kepala di pangkuan sang istri. "Sama sama." Jawab Jihan mengelus surai hitam kecoklatan suaminya. "Mama sakit?" Tanyanya khawatir melihat wajah sang istri yang pucat. "Hanya sedikit lelah." Ia tersenyum menanggapi suaminya.


Pukul 1 malam Jihan terbangun. Wanita itu mendapati sang suami masih terjaga sambil mengusap punggungnya. "Kamu belum tidur Pa?" Tanyanya di jawab anggukan. "Nggak bisa tidur." Jawab Jeff sambil tersenyum. "Kenapa?" Ia hanya menggeleng pelan. Jujur saja perutnya terasa lapar namun juga tak mau merepotkan Jihan. "Lapar?" Tebaknya tepat sasaran membuat pria itu tak berkutik.


Sepasang suami istri sedang sibuk di dapur. Jihan bersikeras membuatkan makan untuk suaminya padahal Jeff sudah melarang. "Makasih Ma." Ucap pria itu saat Jihan menghidangkan spaghetti bolognese di depannya. "Sama sama." Jawab Jihan berjalan menuju kulkas mengambil jus jeruk lalu duduk lagi bergabung untuk menemani suaminya makan. "Mama makan juga ya." Jeff hendak menyuapi namun sang istri menolak. "Masih kenyang. Papa aja." Jawabnya. "Minta suapi Ma." Mulai manja, kini pria itu menyodorkan piringnya di depan sang istri untuk di suapi dan Jihan hanya bisa menurut saja.

__ADS_1


Selesai makan keduanya kembali melanjutkan tidur. "Mama sering perawatan?" Tanya Jeff sembari mengusap paha mulus sang istri. "Nggak. Kalau sibuk kerja baru perawatan. Biar capeknya ilang." Jawab Jihan sambil memejamkan mata karena mengantuk. "Oh." Tangan nakal suaminya merembet semakin ke atas namun Ia diam saja. "Ma." Bisik Jeff sensual. "Huek." Pria itu berubah panik saat istrinya menutup mulut. "Mama kenapa?" Tanyanya.


Selepas muntah muntah Jihan kembali tidur. Ia juga sudah meminum obat lambungnya. "Sudah nyaman?" Tanya Jeff memastikan. "Sudah." Jawabnya lemah. Pria itu mengangguk lalu ikut berbaring setelah mengecupi wajah sang istri. Jef memeluk istrinya dengan hangat sembari mengusap punggung Jihan agar nyaman.


__ADS_2