
"Auh..." Keluh Jihan beberapa saat setelah selesai sholat subuh. "Ma. Mama kenapa?" Panik Jeff. "Sakit." Ucap Wanita itu sembari memegangi perutnya. "Sepertinya mau melahirkan." Ia bergegas menggendong istrinya. "Jaffan. Suruh siapkan mobil." Perintah Jeff langsung di laksanakan putranya.
Anak anak sedang cemas di depan ruang persalinan menunggu Ibu mereka yang sedang berjuang. "Ibu." Juma masih menangis dalam pangkuan Kakak perempuannya. "Sudah jangan nangis. Doakan semoga lancar." Jason menenangkan sang adik.
__ADS_1
Jeff menggenggam tangan istrinya. Pria itu sampai menangis melihat Jihan yang berjuang untuk melahirkan buah hati mereka. Beberapa kali wanita itu tampak mengatur nafas kemudian mengejan kembali sesuai dengan instruksi dokter. "Kepalanya sudah kelihatan." Ucap dokter yang menangani hingga beberapa saat kemudian suara tangisan bayi terdengar diikuti suara tangisan bayi ke dua setelah beberapa menit berlalu. "Terimakasih." Jeff menciumi wajah sang istri yang tampak lelah kemudian mengusap bulir keringat di dahi wanita yang begitu di cintainya.
Jeff tak berhenti bersyukur karena telah di karuniai dua anak yang cantik dan tampan. Pria itu baru saja selesai mengadzani keduanya. "Siapa namanya Bu?" Tanya Jalwa menggendong adik perempuannya sementara adik laki lakinya masih di susui sang Ibu. "Jamia dan Jabar." Jawab wanita itu sambil tersenyum. "Juma lega." Bocah tampan itu tiba tiba bicara. "Juma lega kenapa hm?" Tanya Jeff sembari menggendong putra bungsunya. "Juma lega karena masih ganteng Juma daripada adek." Jawabnya membuat mereka tertawa. Wajah Juma memang sangat mirip Jihan. Tidak ada unsur sang ayah dalam paras tampan anak itu. Berbeda dengan kedua kakaknya yang masih membawa ciri fisik almarhum Ayahnya terutama alis. Kalau Juma perempuan mungkin akan cantik seperti Ibunya. Mata biru dengan alis, bibir dan hidung yang semuanya plek ketiplek dengan sang Ibu. Beda lagi dengan kedua anak Jihan yang baru lahir. Matanya menurun dari sang Ayah meskipun bola mata kedua bayi cantik dan tampan itu biru kehijauan perpaduan antara mata Jihan dan Jeff namun dengan bingkai yang sipit karena sang suami keturunan tionghoa.
__ADS_1
Siang hari Jihan sudah diperbolehkan pulang karena memang keadaannya baik baik saja. Sebenarnya dokter menyarankan untuk pulang besok namun wanita itu tidak sabar untuk segera berada di rumah.
Malam hari suara tangisan bayi terdengar di ruang keluarga. "Shut...Jangan nangis sayang. Mama masih sama Kakak." Ucap Jeff menenangkan putranya. "Sini." Jihan mengambil alih segera menyusui putranya. "Kakak. Juma pengen gendong." Ucap Bocah tampan itu. "Pelan pelan." Jason memberikan adiknya untuk di gendong Juma. "Kenapa tidur?" Tanyanya. "Kan sudah kenyang baru minum asi." Jawab Jalwa. "Ayo buka matanya." Juma mencolek colek mata adiknya. "Jangan begitu nanti nangis." Tegur Jordan. "Masa?" Ia tak percaya beralih memainkan bibir mungil bayi yang belum genap berumur satu hari itu. "Yah dia nangis." Juma panik. "Kan sudah dibilang."Jaffan menggendong adiknya untuk menenangkan namun tidak berhasil. "Sini biar Ibu saja." Ucap Jihan mengambil alih putrinya. "Langsung diam dia." Ucap Jalwa.
__ADS_1
Jeff memeluk istrinya yang masih mengamati kedua anak mereka yang sudah tertidur pulas. "Ayo bobok Ma." Ucapnya sambil mengecup pundak dan pipi wanita itu. Ia sangat paham jika istrinya begitu lelah. "Mereka sangat tenang." Jihan membelai pipi si kembar bergantian. "Terimakasih telah mau berjuang untuk mengandung dan melahirkan anak kita. Terimakasih telah menjadi istri dan Ibu terbaik untuk anak anak kita." Ucap Jeff. "Sudah kewajibanku Pa." Jawab Jihan berbalik kemudian memeluk suaminya. "Ayo tidur." Ia menggendong tubuh ringan sang istri setelah mengecupi seluruh wajah wanita itu.
Juma memasuki kamar Ibunya. Bocah tampan itu ikut naik ke ranjang. "Belum tidur?" Tanya Jeff melepaskan pelukannya dari sang istri lalu mengajak putranya untuk tidur bersama. "Ibu sudah tidur?" Tanyanya. "Sudah. Ibu lelah. Ayo tidur juga." Juma mengangguk. "Selamat Malam Papa. Ibu." Ia segera memejamkan mata setelah mencium kedua orang tuanya.
__ADS_1