Lembaran Baru Hidupku

Lembaran Baru Hidupku
Asal Tidak Berkurang


__ADS_3

Jihan menghampiri suaminya yang masih duduk sembari mengenakan sepatu. "Pa. Ini kartu Papa." Ucap wanita itu menyerahkan salah satu kartu yang di berikan suaminya. "Kenapa? Mama pegang aja." Jawabnya sembari memeluk pinggang sang istri. "Papa ada uang cash yang Mama kasih kemarin." Lanjutnya membenamkan wajah di perut rata Jihan. "Ya. Tapi kalau ada apa apa uang cash nggak menjamin bisa menolong. Papa pegang ini. Nggak perlu semuanya kasih ke Mama." Jeff tersnyum menatap wajah cantik sang istri. Alih alih seperti wanita di luar sana yang akan semangat 45 di beri kepercayaan suaminya untuk mengelola seluruh gaji namun Jihan tidak demikian. Wanita itu dari awal sudah menolak dan baru menerima saat Jeff sudah murka. Dan sekarang satu kartunya di kembalikan padahal Jihan sudah memberi uang untuk pegangan kalau kalau Ia butuh sesuatu. "Baiklah." Demi membuat istrinya lega Ia menerima kartu hitam itu dan menyimpannya di dompet.


"Pa. Hari ini Mama mau ketemu Carissa. Boleh?" Jihan meminta izin sambil mengantar suaminya menuju mobil. "Boleh. Jangan lama lama. Siang hari panasnya kebangetan." Ucap Pria itu memberikan penuturan sembari mengecup kening sang istri yang telah selesai mencium punggung tangannya. "Iya. Cuman ngobrol di butik kok sekalian mau pesan baju buat lebaran." Jawab Jihan. Jeff tersenyum segera masuk setelah mengucapkan salam.


Sebuah mobil berhenti di parkiran sebuah butik. Jihan turun dan melangkah terburu buru masuk ke dalam untuk bertemu sahabatnya. "Carissa ada?" Tanya wanita itu pada salah satu karyawan. "Ada Mbak. Nunggu mbak Jihan daritadi." Jawabnya sambil terkekeh.

__ADS_1


"Jihan." Carissa langsung memeluk sahabatnya dengan erat saat wanita itu masuk ke ruangan. "Sejak kamu nikah kamu nggak main." Ucapnya cemberut membawa Jihan untuk duduk bersama di sofa. "Maaf, lagi sibuk." Jawabnya membuat Carissa berdecak. "Sibuk apa? Sibuk enak enak? Kamu juga jarang ke kantor sekarang." Jihan tak menanggapi memilih untuk menyandarkan punggungnya di sofa. "Gimana rumah tangga kamu?" Tanya Carissa. "Alhamdulillah baik baik saja. Anak anak juga dekat sama Papanya." Jawab Jihan membuat sahabatnya lega. Setidaknya Jihan jatuh di tangan orang yang tepat. Ia tau betul Jeff orang yang baik dan mampu membahagiakan sahabatnya itu. "Mau tambah momongan Ji?" Wanita itu tampak menghela napas menanggapi Carissa. "Mau. Tapi entah kenapa Papanya anak anak ragu akhir akhir ini. Dia bilang kasian sama aku udah kebanyakan anak." Tuturnya dengan wajah sedih. "Wajar Ji. Semuanya yang urus ini itu kan kamu. Jadi kasihan lihat kamu kecapean." Ia menepuk punggung sahabatnya yang tampak lesuh.


"Aku mau pesen baju buat lebaran." Ucap Jihan setelah beberapa saat mengobrol dengan sahabatnya. "Mau warna apa dan modelnya bagaimana?" Carissa meraih buku catatannya. "Mau yang modelan biasa saja. Warna abu abu terang. Nanti ukuran Jordan samain kaya Dika. Terus yang ukuran Papanya samain kaya Jason agak besar dua senti. Berarti atasan baju koko delapan dan gamis dua." Jawab Jihan menjelaskan. "Aku langsung pulang ya. Tadi dah janji nggak lama." Carissa hanya mengangguk pasrah. Ia memeluk sahabatnya itu lalu mengantar sampai pintu.


Sore hari Jeff dan Jihan serta anak anak pergi ke bazar ramadhan untuk berburu takjil. Pria itu selalu menggenggam tangan istrinya yang beberapa kali berhenti untuk membeli sesuatu. "Mau semangka." Juma menarik tangan Ibunya menuju penjual semangka yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Iya. Pelan pelan." Tegur Wanita itu mengimbangi langkah putranya.

__ADS_1


Semuanya sedang buka puasa bersama. Jihan tersenyum melihat Juma begitu lahap makan semangka. "Jangan banyak banyak Juma. Nanti ngompol kamu. Semangka kandungan airnya banyak tambah kamu minum es juga." Tegur Jaffan namun tidak di hiraukan. "Punya telinga nggak?" Tanya Jason sambil menjewer telinga adiknya pelan. "Ih." Bocah tampan itu mulai kesal. "Sudah adiknya jangan digoda." Tegur Jihan.


"Gimana? Sudah terbiasa puasa kan?" Tanya Papa pada menantunya yang kini sudah tidak lemas seperti hari pertama. "Iya Pa, sekarang sudah nggak kerasa haus dan lapar lagi." Jawab Jeff sambil tersnyum. "Papa semangat karna pengen hadiah dari Mama." Sindir remaja itu membuat Papanya berdecak. "Kaya kamu nggak aja?" Jeff membalikkan keadaan. "Dika juga begitu." Jordan mencari teman. "Kalian ini. Sudah jangan saling menuding. Dapat hadiah itu digunakan untuk penyemangat. Tapi tetap niatnya harus ibadah." Tegur sang istri membuat Jeff tersenyum malu.


"Sudah besar makan comot begini." Jihan mengelap mulut Juma dengan tissue sambil memangkunya. "Kekenyangan." Keluh bocah tampan itu memeluk sang Ibu. "Kan sudah dibilang jangan kebanyakan makan semangka." Sahut Jalwa. "Ayo dipakai jalan biar enakan." Ajaknya langsung di tanggapi anggukan cepat.

__ADS_1


Juma berjalan sembari menggandeng tangan Ibunya menyusuri jalanan taman rumah. "Ibu jadi punya Baby?" Tanya bocah tampan itu. "Memangnya tidak apa?" Jihan balik bertanya. "Tidak asal perhatian Ibu ke Juma tidak kurang." Ia tersenyum mendengar penuturan putranya. "Tidak mungkin berkurang. Seorang Ibu cintanya akan tetap sama pada anak anaknya." Jawab Jihan membuat si bungsu tersenyum.


__ADS_2