Lembaran Baru Hidupku

Lembaran Baru Hidupku
Pengen Jajan


__ADS_3

Jeff sedang pusing sekarang. Istrinya sedari pagi tadi merengek minta dibawa jalan jalan untuk membeli street food di dekat taman. Bukannya apa apa. Ia hanya menghawatirkan kesehatan Jihan. Baru kemarin sembuh dari demam dan sekarang minta di bawa jajan. "Memangnya Mama mau beli apa?" Tanyanya sambil mengusap lembut kepala sang istri yang bersandar di lengannya. "Sate." Jawab Jihan cepat. "Biar Papa suruh orang belikan." Ucap Jeff langsung di tolak. "Jangan. Pengen pergi sendiri. Sekalian jalan jalan. Masa nggak pernah jalan jalan. Ibu hamil katanya harus rileks." Begitu pandai mencari alasan. Jeff yakin kalau di turuti sampai sana istrinya itu tidak hanya membeli sate saja. "Ya Pa. Papa begitu." Ia menduselkan kepala di lengan kekar suaminya. "Hua.......Semalam di buat nggak tidur gegara Papa nambah jatah terus masa giliran mau minta jajan aja ga boleh." Lanjutnya pura pura menangis. Tidak kasihan Jeff malah gemas melihatnya. "Lihat Nak. Papamu tega sama Mama." Ia mengusap perutnya mengadu pada sang anak. "Iya. Nanti sore. Sekarang tidur dulu." Jawab Jeff mengecup bibir istrinya kemudian menggendong wanita itu untuk diajak tidur siang.


Juma memasuki kamar Ibunya. "Hey. Mau ikut tidur siang?" Tanya Jeff pelan. Bocah tampan itu mengangguk lalu perlahan menaiki ranjang bergabung dengan kedua orang tuanya. "Juma sudah mandi?" Bisik Jeff. "Sudah. Baru saja selesai. Apa bau sabunnya sudah hilang?" Ia tertawa kecil karena geli sang Papa menciumnya. "Masih tercium baunya. Sabun Juma kan sama dengan sabun Mama." Jawab Pria itu. "Sudah ayo tidur. Nanti sore kita jalan jalan." Lanjutnya. "Kemana?" Ia penasaran. "Mama pengen sate. Tapi dibelikan nggak mau. Katanya mau beli sendiri sekalian jalan jalan." Jawab Jeff. "Ok. Juma tidur." Ia mulai memejamkan mata sembari memeluk Ibunya yang sudah pulas.

__ADS_1


Jihan terbangun dari tidurnya. Wanita itu tersenyum melihat suami dan anaknya masih terlelap. Perlahan Ia beranjak dari rajang lalu menuju kamar mandi.


"Sudah bangun?" Tanya Jihan yang sudah cantik dengan gamisnya. "Baru saja bangun." Jawab Jeff di angguki putranya. "Ayo segera mandi." Ia mendekat ke arah ranjang lalu mencium keduanya. "Tidak sabar pengen jalan jalan ya?" Goda Jeff. "Iya." Jawabnya cepat. "Ayo mandi Juma. Mama sudah nggak sabar tuh." Jeff turun kemudian menggendong putranya. "Kita mandi dulu Ibu." Pamitnya mengecup pipi sang Ibu diikuti Papanya juga. Jihan tersenyum melihat keakraban mereka. Meskipun tak ada ikatan darah namun keduanya begitu kompak. Sikap Jeff yang dewasa dan pengertian mampu dengan cepat mengambil hati Juma. Pria itu sangat tau cara mengatasi putra bungsunya yang keras kepala dan manja.

__ADS_1


"Sudah siap?" Tanya Jihan melihat suami dan anak anak menghampirinya. "Sudah. Ayo berangkat Ma." Jordan menggandeng tangan Mamanya untuk diajak jalan bersama. "Ini punya Papa." Jeff tidak terima melepaskan tangan putranya untuk menggantikan posisi. "Posesif." Gerutu Jordan melangkah mengikuti kedua orang tuanya.


"Ibu mau beli apa? Ibu duduk aja kita yang belikan." Ucap Jalwa khawatir Ibunya kelelahan. Jihan tampak mengangguk. Wanita itu mengetikkan sesuatu di ponselnya. "Sebanyak ini?" Tanya Jaffan yang baru membuka pesan di grup chat keluarga. "Iya. Boleh kan?" Tanyanya. "Tapi Ma....." Julian tampak keberatan. "Boleh lah. Masa nggak boleh." Ia mengeluarkan puppy eyes nya agar anak anak dan suaminya bisa luluh. "Belikan saja. Jangan sampai ada yang pedas." Ucap Jeff memberikan masing masing anaknya uang cash agar mereka bisa berpencar. "Minum dulu Ma." Ucap Jeff membukakan botol air mineral yang Ia bawa dari rumah. "Iya." Jawabnya. "Juma mau?" Tawar Jihan namun putranya menggeleng.

__ADS_1


Anak anak sudah kembali dengan membawa masing masing makanan pesanan sang Ibu. "Langsung pulang yuk." Ajak Jaffan. "Lah. Kok langsung pulang. Disini dulu aja." Jawab Jihan belum puas. "Pulang Ma. Mama janjinya nggak akan lama." Jeff bergegas membantu Istrinya berdiri. "Tapi..." Mereka semua menggeleng. "Pulang Bu." Ucapnya sependapat dengan sang Papa.


Malam hari Jihan masih sibuk mengunyah kacang yang di kupaskan suaminya. "Seenak itu?" Tanya Papa sambil terkekeh melihat putrinya. "Enak. Jagung rebus juga enak." Jawabnya. "Udah habis Ma." Jeff menyuapkan kacang terakhir. "Masa sih? Tadi banyak." Jihan tidak percaya. "Itu masih." Lanjutnya. "Biar aku kupas sendiri." Jeff menggeleng. "Bukan masalah kupasnya. Jangan banyak banyak makan kacang Ma." Tutur pria itu. "Kenapa?" Jihan bertanya. "Nanti badan Mama pegal pegal kebanyakan makan kacang." Jawab Jeff. "Ih. Masa sih." Ia tak percaya. "Iya. Ma. Apalagi kan sekarang Mama lagi hamil." Sahut Julian membenarkan Papanya. "Baru tau." Gumam Jihan pelan. "Satu lagi please..." Pintanya memohon. Jeff mengehela napas. Ia mengupaskan satu lalu menyuapkan pada istrinya. "Ini yang terakhir." Ucap Pria itu kemudian memijit kaki sang istri.

__ADS_1


__ADS_2