
"Ini semua diantar ke alamat yang ada di daftar ini ya pak." Ucap Jihan pada driver taxi online. "Oh baik Bu." Jawabnya sambil menerima secarik kertas setelah memasukkan dus dus ke dalam mobil. "Mau lebaran masih kerja saja ya Pak." Jihan tertawa kecil. "Iya Bu. Malah banyak yang order menjelang lebaran begini." Pria itu tersenyum. "Oh iya. Yang ini untuk bapak." Jihan memberikan satu dus dan paper bag. "Bu. Ini...." Ia terkejut. "Anggap saja hadiah." Jawab Jihan. "Dan ini uang ongkosnya." Lanjutnya sembari memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan. "Bu. Ini kebanyakan." Protesnya lagi. "Rezeki bapak karena sudah tua masih giat bekerja. Diterima ya." Ia berkata dengan lembut. "Terimakasih Bu. Semoga sehat sekeluarga dan rezekinya lancar." Doa baik dan tentu saja Jihan langsung mengamininya. "Sekali lagi terimakasih Bu. Saya berangkat dulu." Wanita itu mengangguk. "Sama sama. Hati hati Pak." Ucapnya.
"Mama." Panggil Jeff menghampiri dan memeluk istrinya yang masih berdiri di halaman rumah. "Mama lagi ngapain?" Tanyanya sambil meletakkan dagu di pundak wanita itu. "Minta Driver buat antar kue ke orang orang. Mama lagi males keluar keluar." Jawabnya. "Masuk yuk. Panas." Ajak Jeff menggandeng tangan istrinya untuk diajak berjalan bersama.
Sampai di dalam Jihan langsung duduk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. "Bukannya sudah bagikan THR sama sedekah ya Ma?" Tanya Jeff heran karena istrinya memasukkan lagi uang ke dalam amplop. "Ini untuk zakat fitra." Jawab Jihan. "Apa itu zakat fitra?" Jeff tak mengerti. Pria itu bertanya sembari meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri. "Zakat fitra itu zakat yang wajib di keluarkan bagi setiap orang muslim baik laki laki atau perempuan di bulan ramadhan berupa bahan makanan pokok atau uang. Kalau bahan makanan pokok contohnya beras itu kita wajib bayar 2,5 kg. " Jihan tersenyum melihat suaminya ber Oh riya. "Selain itu ada lagi nggak Ma. Papa pengen tau lebih tentang Zakat." Ucap Jeff meminta penjelasan. "Ada banyak macam zakat, ada zakat fitra yang sudah Mama jelasin tadi, ada zakat Mal atau zakat harta. Ada beberapa ketentuan dalam menjalankan zakat maal ini antara lain: zakat hasil pertambangan, hasil pertanian, hasil laut, dan hasil ternak. Masing-masing jenis zakat memiliki ketentuan dan perhitungannya sendiri. Misalnya emas yang nisabnya 85 gram milik penuh dalam satu tahun terkumpul dan mencapai haul itu wajib bayar 2,5 % nya. Misalnya Papa beli emas 100 gram 2,5 % nya kan 2,5 gram itu dikalikan harga mas yang di tetapkan terus itu yang wajib dibayarkan untuk zakat. Yang terakhir zakat penghasilan sama seperti zakat mall sih. Hitungannya kalau gaji Papa dalam satu tahun setara dengan harga emas 85 gram maka Papa wajib bayar 2,5 % sebagai zakat." Jelas Jihan panjang lebar. Jeff berpikir keras. Kiranya berapa banyak zakat yang dikeluarkan istrinya tiap tahun mengingat harta Jihan yang segitu banyak. "Mama tiap tahun keluar Zakat berapa dong?" Tanyanya penasaran. "Tidak tau. Sudah ada yang konsultan keuangan yang mengurusi." Jawab wanita itu.
"Adeknya diapain sih?" Tanya Jihan mendengar rengekan Juma. "Ibu." Bocah tampan itu langsung melepaskan tangan kakaknya dan berlari memeluk sang Ibu. "Nakal Bu. Masa mau berenang sama ikan ikan Ibu." Jawab Jaffan. "Nanti ikan Ibu takut. Lagian ini kan puasa. Jangan berenang dong." Tegur Jihan mengajak putranya itu untuk duduk.
"Jason, Julian. Karyawan kalian sudah digaji dan diberi THR?" Tanya Jihan mengingatkan. "Sudah Ma. Baru kemarin." Jawab pemuda itu. "Jalwa dan Jaffan. Ruko dan toko bunga karyawan kalian sudah?" Keduanya mengangguk. "Sudah Bu. Semuanya sudah beres. Ibu tenang saja." Jihan mengangguk menanggapi putrinya. Wanita itu menggendong Juma kemudian berjalan menuju piano.
Jihan memposisikan jarinya di tuts tuts piano. Begitu juga dengan Juma. Bocah tampan itu tak mau kalah dengan Ibunya. Keduanya saling bekerjasama menciptakan sebuah nada yang luar biasa.
I was born a fool
Broken all the rules
Huh
__ADS_1
Seeing all null
Denying all of the truth
Huh
Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn't something we fought for
Turned myself so cold and heartless
But one thing you should know
__ADS_1
Kowe ra iso mlayu saka kesalahan Ajining diri ana ing lathi
Pushing through the countless pain
And all I know that this love's a bless and curse
Everything has changed
It all happened for a reason
Down from the first stage
It isn't something we fought for
Jeff tersenyum mendengar suara merdu sang istri. Baru pertama kalinya Ia melihat Jihan bernyanyi dan itu sangat luar biasa.
Selesai sholat tarawih semuanya berkumpul di halaman belakang untuk bakar jagung dan sosis. "Papa tidur dulu ya. Ngantuk." Pamit pria paruh baya itu. "Iya Pa. Ayo Jeff antar." Papa menggeleng. "Disini saja temani anak, Istri kamu. Papa bisa sendiri." Jawabnya bergegas pergi setelah menepuk pundak sang menantu.
__ADS_1
"Papa mana?" Tanya Jihan duduk di samping suaminya. "Tidur duluan. Katanya ngantuk." Wanita itu mengangguk. "Mau nggak Pa?" Tawarnya. Jeff mengangguk sambil tersenyum. "Hati hati masih panas." Jihan meniup lalu menyuapkan pada suaminya. "Makasih Ma." Ucapnya mencium bibir mungil sang istri dengan lembut.