
Jeff bersama putranya mengunjungi rumah Jihan. Tak mau menyerah, pria itu selalu gencar berusaha untuk mendekati wanita pujaannya. "Om." Sapa Jalwa menghampiri dua orang yang masih berdiri di teras. "Kak. Kita mau belajar mengaji sama Mama." Ucap Jordan sambil tersenyum. "Ayo masuk." Ajak gadis itu langsung di angguki oleh keduanya.
"Juma." Jordan berlari memeluk bocah tampan menggemaskan itu. "Mama mana?" Tanyanya sambil menggendong Juma. "Ada di kamar." Jawabnya. "Kami mau belajar mengaji." Jeff tersenyum mengusap kepala Juma kemudian mengambil alih dari gendongan putranya untuk di ajak duduk bergabung bersama yang lain.
Papa tertawa mendengar cerita Jeff tentang kenakalan putranya. Mereka sedang duduk mengobrol sembari menunggu Jihan yang belum datang. "Parah sih Om. Kepalaku di buat berdenyut kalau berhadapan dengan dia." Keluhnya. "Memang anak remaja seperti itu. Kamu hanya perlu mendekati saja supaya bisa luluh." Kata Papa sembari menepuk pundak pria yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Ibu." Panggil Juma memasuki kamar Ibunya. "Hey sayang. Ada apa?" Tanya Jihan sembari membenarkan Jilbabnya. "Ibu dicari Om Jeff sama Kak Jordan. Katanya mereka mau belajar mengaji." Jawab Juma. "Kenapa nggak bilang dulu." Gerutu Jihan kesal karena Jeff selalu seenaknya. "Ayo kita ke bawah kalau gitu." Ia menggandeng tangan putranya untuk diajak berjalan bersama.
Jihan mengernyitkan keningnya melihat sosok pria yang mengenakan baju koko tengah mengobrol bersama Papanya. Dari suaranya seperti Jeff namun penampilannya membuat Ia ragu. "Kenapa? Aku tampan ya hingga kamu melihat sampai begitu." Tanya Jeff menggoda membuat Papa terkekeh atas tingkah konyol duda satu anak itu. "Bukan. Aku pikir orang lain." Jawab Jihan. "Ayo mengaji. Katanya kamu mau mengajari aku. Kalau Jordan sudah diajari Jaffan duluan." Ucap pria itu. "Aku tidak bilang akan mengajari kamu." Jihan tidak terima. "Tapi aku mau." Jawabnya sambil tersnyum.
Jihan mengajari Jeff sementara anak anak juga ikut mengaji bersama di mushola. "Sudah tau kan semua huruf hiyaiyah. Sekarang baca menurut tanda bacanya. Kalau garis di bawah begini huruf vokal di ganti i. Misalnya ini bacanya Bi....." Jihan menjelaskan dengan detail. "Kamu dengar atau tidak?" Tanyanya karena sedaritadi melamun. "Dengar kok Ma. Jangan galak galak kenapa sih." Jihan berdecak. "Kalau tidak serius aku tinggal." Ancam wanita itu. "Iya. Maaf." Ucap Jeff kemudian meminta untuk diulangi lagi penjelasan yang terlewat tadi.
__ADS_1
"Jordan, Juma. Ayo makan dulu." Panggil Jason melihat keduanya sedang mengamati ikan sambil berceloteh riang. "Ayo kakak gendong." Ucap Jordan berjongkok. "Jangan mengeluh kalau pinggang kakak sakit." Ucap Juma naik ke punggung remaja itu. Jason tersenyum segera mengikuti langkah keduanya.
"Kenapa gendong gendongan begitu?" Tanya Jihan melihat kedatangan putranya. "Kak Jordan yang menawari." Jawab Juma yang kini sudah duduk di samping sang Ibu. "Satu piring berdua." Ucap bocah tampan itu makan sepiring berdua bersama Ibunya. "Mau pakai apa?" Jihan menawari. Juma tampak mengamati semua menu yang ada di meja. "Ayam kecap." Putusnya.
Jeff tersenyum melihat Jihan makan dengan tangan sambil menyuapi putra bungsunya. "Kayanya enak dari tangan Mama. Jordan mau coba." Jihan mengangguk kemudian segera menyuapi remaja itu. "Gimana? Enak? Lebih asin kan?" Tanya Papa sambil terkekeh. "Enak beneran Kek. Nggak asin juga." Jawab Jordan. "Enak nggak Om?" Tanya Julian. "Enak. Enak banget." Jawab Jeff makan dengan lahap. "Papa kalau makan itu selalu nggak habis. Paling tiga suap sudah nggak mau." Jordan bercerita. "Kenapa begitu?" Tanya Jihan. "Nggak enak. Jordan bilang enak tapi di lidah aku nggak enak." Jawabnya sambil mengunyah.
__ADS_1
Jihan tidur bersama Juma setelah tamunya pulang. "Dah tidur ya Bu?" Tanya Jaffan pelan ikut berbaring di samping sang adik yang memeluk Ibunya erat. "Iya. Kamu nggak tidur?" Tanya Jihan. "Jaffan ikut tidur di sini." Jawabnya ikut memeluk Jihan. "Aku janji aku akan selalu bahagia Mas." Batin Jihan lalu memejamkan matanya.