
Jihan menggandeng tangan Juma menghampiri semua orang yang sudah duduk di meja makan. Si bungsu sedang rewel sejak pagi tadi karena di goda kakaknya. Jika sudah ngambek hanya Jihan lah yang bisa menenangkan. "Ayo duduk sarapan. Nanti telat kalau Juma berlama lama." Tutur Wanita itu penuh kelembutan. "Suapi." Jawabnya masih dengan wajah cemberut. "Iya. Ibu suapi." Ia meraih sendok mulai menyuapi putranya. "Kamu sudah mau punya adek dua masih minta di suapi." Ucap Papa. "Kan sudah Juma bilang punya adek pun Juma nggak akan berubah." Jawab bocah tampan itu sembari mengunyah.
"Kenapa menatap Kakak seperti itu?" Tanya Jaffan melihat adiknya menatap Ia dengan kesal. "Nggak." Jawab Juma memalingkan wajahnya. "Masih marah? Kamu sendiri yang salah. Taro kertas sembarangan ya Kakak buang." Ucap Jaffan namun di abaikan. "Memangnya kertas apa?" Jalwa yang tidak tau apa apa menjadi penasaran. "Origami. Yang warna warni itu." Jawa Jordan. "Oh. Nanti Kak Julian belikan. Sudah jangan manyun begitu." Ia mencoba menenangkan. Jeff menghela napas. Selalu ada perdebatan kecil di pagi hari. Untung saja istrinya sabar dan tenang dalam menengahi masalah.
"Juma nanti ada futsal. Ibu nggak bisa nonton?" Tanyanya sambil menatap Jihan. "Tidak. Ibu tidak bisa nonton. Ibu kan sedang hamil." Jawab Jaffan cepat. "Nanti Kak Dika nonton Kok. Jangan khawatir." Ucapnya sambil mengusap kepala Juma. Jordan mengangguk. "Kakak juga nonton. Nanti malah duduknya paling depan." Sahut remaja itu. "Baiklah." Lirih Juma mencoba tersenyum.
__ADS_1
Jeff memeluk dan mencium istrinya. "Pa. Nanti liat Juma ya." Ucap Jihan pelan. "Mama kan lagi hamil." Jawab Pria itu sembari menangkup wajah cantik sang istri. "Nggak papa kok. Kan sudah nggak mual lagi. Boleh ya...." Ia meminta izin. "Baiklah. Nanti sama Papa." Jihan tersenyum bahagia karena Jeff begitu pengertian. "Makasih Pa." Ucapnya. "Masa makasih cuman gitu aja. Cium dong." Ia tersenyum menggoda sang istri. Jihan mengangguk kemudian mencium bagian wajah yang di tunjuk oleh suaminya. "Sudah ah. Makin siang makin macet. Papa berangkat gih." Ia membenarkan dasi Jeff yang sedikit miring. "Iya Ma. Love you." Ucapnya meninggalkan kecupan singkat di bibir istri lalu bergegas pergi.
Siang hari Jeff sudah pulang. Pria itu bergegas mandi dan sholat bersama istrinya. "Makan dulu ya. Habis makan baru berangkat." Ucapnya sembari membantu membuka mukena sang istri. "Papa aja. Aku nggak lapar." Jawab Jihan. "Yasudah kalau nggak mau makan nggak jadi pergi." Ancam Jeff sembari membalikkan badan memunggungi istrinya. "Iya. Makan." Jawabnya cepat. "Papa ambilkan sekalian bikinin Mama susu." Pria itu bergegas pergi setelah meninggalkan kecupan untuk sang istri.
Beberapa saat kemudian Jeff kembali. Ia satu piring yang akan di makan berdua dengan istrinya. "Jaffan sama Juma dari dulu memang begitu ya Ma?" Tanya Jeff karena kedua anak tirinya itu sering berdebat. "Ya memang begitulah. Jaffa juga keras dan Juma sama kerasnya malah lebih lebih. Ya kadang kalau lagi akur ya akur kalau lagi berantem ya debat." Jawab Jihan. "Udah kenyang Pa." Lanjut wanita itu. "Mama baru makan sedikit. Ayo makan lagi. Dikit lagi. Masa cuman tiga suap aja." Bujuknya. "Dah kenyang Pa. Serius Deh." Ucap Wanita itu membuat suaminya pasrah.
__ADS_1
Mata Juma berbinar melihat sosok wanita yang baru datang. Bocah tampan itu mengangguk melihat Ibunya menyemangati. "I Love You Ibu." Teriaknya kencang sambil berlari ke lapangan bergabung bersama teman temannya.
"Oh dia mania sekali." Ucap Jeff terkekeh melihat tingkah putranya. "Yah dia memang begitu. Banyak tingkah." Sahut Jihan tertawa kecil. "Kalian sudah makan?" Dika dan Jordan mengangguk menanggapi Ibunya. "Sudah." Jawab mereka kompak. "Ibu sudah makan belum?" Dika balik bertanya. "Sudah." Ia mengulas senyum mengusap lembut kepala kedua putranya. "Makannya susah. Baru tiga suap sudah nggak mau." Sahut Jeff. "Mana boleh begitu sih Ma. Mama kan lagi hamil. Makan yang banyak dong." Tutur Jordan mengomel.
Juma memeluk Ibunya erat. "Terimakasih sudah datang. Juma senang." Ucapnya. "Sama sama sayang. Ibu bangga sama Juma." Jawab Jihan membalas pelukan putranya kemudian mengelap keringat bocah tampan itu. "Papa juga bangga sama Juma." Jeff memeluk putra bungsunya kemudian menggendong.
__ADS_1
"Mama." Julian terkejut melihat kedatangan kedua orang tua dan saudaranya. "Mama kenapa keluar keluar." Jason bergegas menghampiri. "Mama bandel sih." Ucap Jeff bergegas mengajak istrinya duduk karena takut wanita itu kelelahan. "Mama mau makan sesuatu." Jihan tersenyum. "Kami siapkan. Mama tunggu sebentar." Jason dan Julian bergagas tak mau membuat Mamanya menunggu lama.
Jeff mengusap perut Jihan tak memperdulikan semua pengunjung yang memperhatikannya. Pria itu juga membantu istrinya minum susu padahal sudah ditolak berkali kali. "Mau makan Pa." Ucapnya menyudahi minum susu yang masih tersisa setengah botol. "Mau makan yang mana dulu?" Tanya Jeff penuh perhatian. "Eskrim." Jawab Jihan cepat. Jeff mengangguk langsing menyuapi sang istri. "Juma mau mandi? Mandi di sini saja." Kata Jordan. "Di rumah saja. Masih malas." Jawabnya sambil sibuk makan kentang goreng. "Ibu mau kentang goreng?" Si bungsu menawari langsung di jawab anggukan cepat. "Juma suapi tapi nggak boleh pakai saos." Bocah tampan itu mulai menyuapi dengan telaten. Jeff tersenyum mengamati sikap putranya yang begitu manis. Seperti apa Juma ketika besar nanti? Manja, perhatian dan hangat hanya pada Ibunya saja.