
Jihan akan liburan ke dua negara sesuai keinginan anak anaknya yaitu di Vietnam dan Myanmar. Ia mengurus semua keperluan sendiri karena Jika menyuruh orang apalagi Satria pria itu pasti membocorkannya pada Jeff. Laki laki menyebalkan yang selalu mengganggunya.
"Masuk." Ucap Jihan karena mendengar suara pintu ruangannya di ketuk. "Sibuk banget Ji." Suara seorang wanita membuatnya lega. Alhamdulillah bukan Jeff. Tapi dari ciri ciri kedatangannya memang bukan. Yang pertama pria itu tidak pernah mengetuk pintu. Yang kedua pasti ketika masuk langsung mengatakan 'Mama.' Jihan sangat hapal betul. "Carissa. Tumben kesini." Jihan meletakkan laporan yang sedang dibacanya. Wanita itu berjalan mengambil minuman dingin dari kulkas lalu ikut duduk bergabung bersama sahabatnya di sofa. "Aku bosen. Jalan jalan yuk." Ajaknya. "Kamu sibuk nggak? Kalau sibuk tinggalin aja pekerjaan kamu. Ayo jalan jalan sama aku. Kamu nggak perlu mikir pun udah kaya. Jangan perhitungan dengan teman sendiri." Cerocosnya membuat Jihan berdecak. Dia bukan mengajak melainkan memaksa. Dengan cara halus pula. "Mau jalan jalan kemana?". Carissa tampak berpikir. "Mall depan. Ayo." Tanpa mendapat persetujuan. Wanita berambut hitam itu menarik tangan sahabatnya dengan semangat.
__ADS_1
Di sisi lain seorang pria sedang duduk berkutat dengan kertas kertas di mejanya. Berkali kali Ia berdecak karena sedari tadi tidak selesai juga. "Kapan ini akan berakhir." Keluhnya. "Salah sendiri. Seharusnya jika kamu disiplin waktu untuk membagi antara kencan dan kerja tidak akan seperti ini. Tandatangani semuanya. Masih banyak." Omel Will yang merupakan sekretarisnya. "Katanya suruh kejar terus." Gerutu Jeff. Will melirik bosnya dengan tajam. Memang benar Ia berkata begitu. Namun bukan berarti juga Jeff bisa seenaknya meninggalkan pekerjaan. Belum lagi beberapa meeting yang di batalkan karena memperjuangkan cintanya. Jika tau begini Jihan pasti juga kecewa karena Jeff tidak bisa membagi waktu. Tak mau menanggapi, Will hanya diam sembari membuka lembaran lembaran yang perlu di tandatangani oleh pria menyebalkan yang menyandang status sebagai CEO itu.
"Bagaimana cincin yang aku pesan? Sudah jadi?" Tanya Jeff kini sedang memainkan tabnya. Ia tersenyum melihat beritanya saat kemarin mengambil raport dan makan siang dengan Jihan di rilis di beberapa media. Banyak respon positif dari masyarakat. Dua pasangan CEO yang di gadang gadang menjadi pasangan yang begitu serasi. "Belum. Kamu banyak mau dan beberapa kali minta ganti sampai mereka yang melayani bingung." Jawab Will. Menata kembali kertas kertas yang sudah selesai di tandatangani. "Oh calon istri menelpon." Ia begitu girang langsung menjawab panggilan yang masuk. "Waalaikumsalam Ma." Jawab Pria itu dengan senyumnya yang lebar membuat Will berdecih. Semenjak kenal Jihan karakter Jeff banyak berubah. Bosnya itu lebih banyak tersnyum tentu saja karna Jihan bukan yang lain. "Tolong beritanya di hapus. Sekertaris aku udah hubungi media tapi nggak boleh di hapus karena kamu." Jeff tersenyum membayangkan ekspresi kesal Jihan sekarang. "Nggak bisa Ma." Jawabnya. "Aku nggak bisa keluar dari kamar mandi Mall gara gara banyak wartawan di depan. Kamu keterlaluan tau gak. Bahkan orang orang yang datang buat jemput nggak bisa." Tak basa basi lagi Jihan memarahi Jeff sekarang. "Sabar Ma. Papa kesana." Jawabnya bergagas pergi meninggalkan Will sendiri. "Bos laknut." Umpatnya terkejut melihat pintu yang tertutup dengan kencang.
__ADS_1
"Tuan Jeff. Apakah tuan sudah menikah dengan Mbak Jihan? Bagaimana klarifikasi anda tentang berita anda dan mbak Jihan yang kemarin mengambil raport di sekolah putra anda?" Tanya para wartawan saat melihat kedua orang yang menjadi bahan perbincangan tengah berjalan keluar. "Ya. Kami akan segera menikah secepatnya." Jawab Jeff terus berjalan sambil merangkul Jihan agar wanita itu tak bersentuhan dengan pria lain.
"Ma." Panggil Jeff mengikuti langkah Jihan yang menuju ruangannya. "Ma. Jangan marah dong." Ucapnya namun tak di respon juga. "Ma. Maaf." Suara Pria itu terdengar melemah lalu duduk di sofa. "Kamu kenapa bilang begitu sih. Jangan sembarangan." Kesal Jihan berbalik menatap pria yang sedang tiduran. "Jangan tidur. Katanya boleh mengomeli kamu sekarang." Jihan memutuskan untuk mendekat karena tidak mendapat respon. "Kamu kenapa?" Ia mulai panik mengguncangkan bahu Jeff namun tidak juga di respon. "Heh. Jangan begini. Jangan pingsan. Kamu kenapa?" Ia benar benar panik sekarang setelah beberapa saat Jeff tak kunjung membuka mata juga. "Papa baik baik aja Ma." Jawabnya sambil tersnyum lebar. Ia bahagia melihat Jihan yang begitu perhatian. "Menyebalkan." Kesal wanita itu lalu bergegas pergi. "Ma. Papa cuman bercanda." Ucap Jeff melihat Jihan dari ruangan dengan kesal.
__ADS_1