
Hampir seluruh rumah sudah Jeff periksa namun Ia belum juga menemukan keberadaan istrinya. "Julian." Panggilnya melihat pemuda itu baru masuk dari halaman belakang. "Mama mana?" Tanyanya. "Mama lagi ke pasar sama Juma, Jordan, Dika dan Jalwa." Jawab pemuda itu. "Papa mau susulin kalo gitu." Julian langsung melarang Sang Papa. "Nggak usah Pa. Sebentar lagi juga pulang. Soalnya sudah daritadi." Jeff hanya bisa mengangguk pasrah menurut dengan putranya.
Di pasar cukup ramai. Jihan selalu memastikan anak anak tidak berpisah. "Mau beli apa lagi Bu?" Tanya Jalwa. "Sudah semua. Kalian mau apa?" Jihan balik bertanya pada anak anaknya. "Nangka, nangka." Jawab Juma cepat. "Apa ada sih Dek?" Ucap Jalwa karena sedaritadi berkeliling tidak menjumpai. "Kita coba cari dulu." Jihan menggandeng tangan putra bungsunya untuk diajak berjalan lagi.
"Assalamualaikum." Jeff buru buru menghampiri istrinya yang baru memasuki rumah. "Pergi pergi kok nggak ngajak Papa sih Ma. Kan Papa bisa antar." Cerocos pria itu. "Papa lagi tidur. Lagian juga sebentar. Salamnya di jawab dulu dong." Jawab Jihan sekaligus menegur. "Waalaikumsalam." Ucap Jeff sembari membantu membawakan belanjaan sang istri. "Beli apa?" Tanyanya sembari berjalan mengimbangi langkah Jihan. "Beli bahan buat bikin es dawet. Jordan pengen cobain katanya."
__ADS_1
Jeff terus mengekori istrinya sampai di dapur. "Ibu. Pandannya kita tanam di belakang ya." Ucapnya di tanggapi anggukan oleh sang Ibu. "Hati hati. Minta pak Bon bantu kalo nggak bisa." Jawab Jihan. "Ok Bu." Dika langsung bergegas pergi diikuti dua saudaranya yang lain. "Nggak istirahat dulu?" Tanya Jeff yang kini hanya berdua di dapur bersama istrinya karena Bibi sedang mengupas nangka bersama Jalwa dan yang lain di belakang. "Nggak capek kok." Pria itu meletakkan dagunya di pundak istrinya yang sedang sibuk mengupas buah. "Maaf ya Ma Jordan ngerepotin kamu." Ia merasa tidak enak hati. "Apaan sih. Nggak repot. Jordan juga anak aku. Semuanya dapat perlakuan sama. Dia minta apa apa seperti yang lain boleh. Kita pernah bahas ini Pa. Jangan diungkit lagi deh." Jihan tak mengungkit masalah anak atau membedakan mana yang anak kandung dan bukan. Sebisa mungkin semuanya akan mendapat perlakuan sama. Yah kecuali Si bungsu yang sikapnya lebih manja dari gang lain membuat Jihan harus sedikit lebih pada anak itu. Toh yang lain juga sudah paham. Jadi mereka tidak merasa keberatan.
Jihan dan suami menghampiri anak anak yang sedang di halaman belakang. "Juma itu kotor. Lihat baju kamu lumpur semua." Ucap Jaffan sedang mengomeli adiknya. "Ada apa sih?" Tanya Jihan saat sudah sampai di tempat. Anak anak menyingkir memberikan Jalan hingga terlihat sosok bocah yang membuat Wanita itu seketika menghela napas. "Lihat Bu. Kotor semua begitu. Dia mandi lumpur." Julian tertawa melihat adiknya yang cemong dan kotor karena lumpur. "Pamitnya tadi mau tanam pandan. Malah begini." Jawab Jihan dan lagi lagi Ia menghela napas dengan tingkah absurb putranya. "Kenapa main lumpur?" Tanyanya duduk berjongkok di depan Juma yang masih sibuk sendiri. "Juma cari cacing. Katanya cacing bisa buat tanah subur. Juma mau kubur cacing sama pandannya biar subur." Jawabnya begitu polos atau entah sedang beralasan Jihan juga tidak paham. "Nanti cacingnya datang sendiri tanpa Juma cari. Ayo mandi." Jeff tersenyum melihat betapa sabarnya sang istri. "Gendong." Rengeknya. "Kotor begitu minta di gendong? Jangan mau Ma." Jason memeluk Jihan membuat Juma kesal. "Ayo sama Papa." Bocah tampan itu menggeleng. "Mau Ibu " Jawabnya. Jihan berdiri kemudian meraih tubuh putranya lalu menggendong.
Juma tak berhenti tertawa karena ulah Sang Papa yang selalu menggelitiki ketiaknya. Mereka masih bercermin di kamar mandi padahal acara mandinya sudah selesai sedaritadi. "Kalian belum selesai juga?" Tanya Jihan menghampiri keduanya. "Sudah Ma. Tinggal menyisir rambut Juma saja." Jawab Jeff sambil tersenyum.
__ADS_1
Malam hari setelah sholat tarawih semuanya berkumpul di ruang keluarga. Jihan di bantu anak anak memasukkan uang ke dalam amplop untuk sedekah dan angpao. "Lebaran sudah dekat ya?" Tanya Jeff. "Masih lama. Biasanya kita memang jauh jauh hari sudah siapkan." Jawab Jihan. "Juma nggak bantu?" Tanya Papa melihat cucunya tiduran di pangkuan sang Ibu. "Ini bantu." Jawabnya sambil menoleh menatap kakeknya. "Dia bantu sambil tiduran Kek." Sahut Jordan sambil terkekeh.
Lapangan belakang rumah tampak terang. Jihan berpasangan dengan Jaffan dan Julian bersama Jeff. Mereka akan bertanding bulu tangkis. Jeff tak berkedip melihat istrinya yang begitu sekseh dengan jersey dan rambut yang diikat ke atas menampilkan leher jenjangnya yang mulus. "Pa." Julian menyenggol pria itu agar tersadar. "Ah iya." Jawabnya.
Jeff melepas semua pakaiannya. Pria itu memeluk tubuh polos istrinya yang sedang mandi di bawah guyuran shower. "Pa." Jihan membalikkan tubuhnya menatap sang suami. Tanpa menjawab Jeff meraup bibir indah itu dengan penuh gairah sembari tangan menjelajah sampai pada intinya. "Ungh.." Suara itu terdengar dari Jihan membuat Jeff semakin gencar.
__ADS_1
Jeff menggendong tubuh istrinya yang polos dan basah lalu meletakkannya di sofa tanpa sandaran yang ada di walk in closet. "Ma." Bisiknya sensual. Pria itu menyusuri seluruh tubuh Jihan hingga berhenti di bawah. "Pa.." Ia menekan kepala sang suami yang mengobrak abrik miliknya. Jeff tersenyum lalu membungkam sang istri dengan ciumannya. "Ah..." Ucap Pria itu saat berhasil menerobos masuk. "Sempit." Rancunya sambil sedikit demi sedikit menggerakkan pinggulnya.
"Akh..." Jeff mengerang panjang saat mencapai pelepasan yang kesekian kalinya. Pria itu jatuh lemas berada di atas tubuh istrinya. "Makasih Ma." Ucapnya mengecup bibir Jihan sambil tersenyum. "Jangan begini Pa. Kamu berat." Keluhnya dengan cepat Sang suami menyingkir. Jeff memeluk Jihan dengan posesif. Ia begitu puas dengan istrinya yang bisa diajak lembur tanpa lelah.