
Semuanya saling bermaaf maafan di hari raya yang tampak berbeda dengan kehadiran dua anggota keluarga baru. Lebaran pertama Jeff dan Jorda begitu berkesan. Keduanya tak berhenti tersenyum merasakan kebahagiaan yang luar biasa. "Pa. Mama minta maaf. Maafin kesalahan Mama yang di sengaja atau tidak yang mungkin bikin Papa kesal atau enggak enek hati." Jihan bersungkem sembari mencium tangan suaminya. Jeff meraih tangan istrinya membimbing wanita itu untuk duduk di sampingnya. "Iya Ma. Papa juga minta maaf kalau sering salah sama Mama. Maaf belum bisa jadi Iman yang baik." Ia memeluk istrinya setelah mencium lembut kening wanita itu dilanjutkan dengan anak anak yang meminta maaf pada kedua orang tua dan kakeknya lalu saling bermaafan satu sama lain.
Jihan dan keluarga mengunjungi rumah Ayah dan Bundanya. Ini adalah kunjungan Jeff yang kedua setelah melamar istri pada sang mertua. "Mau pulang." Seperti biasa Juma selalu tidak betah. Baru saja duduk selesai bermaaf maafan bocah itu sudah merengek minta pulang. "Nanti dulu ya." Bujuk Jeff sembari menggendong putranya. "Mau eskrim? Opa ambilkan." Juma menggeleng mengeratkan pelukannya pada sang Papa. "Mau pulang." Rengeknya tetap sama. "Mau apa Om belikan. Atau main sama Huda yuk." Ajak Jaffan. "Iya. Main sama Huda. Huda ajak adenya main dong." Bocah yang sedang duduk menempel dengan Jihan itu menghampiri sepupunya. "Ayo main." Ajaknya tapi tetap tidak mau turun. "Ibu mau pulang." Juma tak tahan lagi. Suara bocah itu sudah meninggi menandakan kemauannya sudah tidak bisa di negosiasi. "Iya. Pulang." Jawab Jihan berdiri kemudian segera mengajak anak anak untuk berpamitan.
__ADS_1
Sampai di rumah Jihan langsung duduk. Tubuhnya lemas dan kepalanya sedaritadi berdenyut. "Ibu sakit?" Tanya Jalwa melihat Ibunya yang pucat. "Cuman sedikit pusing. Jangan khawatir." Jawab wanita itu sambil tersenyum. "Minum dulu Bu." Kata Jaffan baru datang mengambilkan air untuk Ibunya. "Makasih." Ucap Jihan langsung meminumnya.
"Kenapa? Sakit ya?" Tanya Jeff menyentuh kening istrinya dengan telapak tangan. "Badan kamu anget Ma. Istirahat di kamar aja ya." Jihan hanya bisa mengangguk lemah. Jujur Ia tak tahan lagi. Semakin kesini Ia semakin merasa lemas. "Ayo." Jeff membantu istrinya berdiri. Baru beberapa langkah tubuh Jihan melorot ke bawah. Untung dengan sigap sang suami menopangnya. "Ma. Mama." Pria itu menepuk pipi sang istri pelan mencoba untuk menyadarkan. "Kalian hubungi dokter. Papa bawa Mama ke kamar dulu." Ucap Jeff menggendong istrinya dengan buru buru.
__ADS_1
Juma sesenggukan melihat Ibunya yang belum juga siuman sedang di periksa oleh dokter. "Bagaimana dok?" Tanya Jeff buru buru menghampiri wanita paruh baya itu. "Selamat. Nyonya Jihan hamil." Jawabnya membuat semua yang ada disana terkejut. "Hamil dok?" Jeff memastikan. "Iya Tuan." Jawabnya sambil tersenyum. "Untuk itu mohon di jaga kondisinya. Usia kandungan saya perkirakan masih 3 minggu namun lebih lanjut bisa cek ke ke dokter obgyn untuk USG. Ada baiknya saya sarankan untuk istirahat total. Jangan berkegiatan apapun mengingat Nyonya memiliki kondisi yang kurang baik akibat kecelakaan yang pernah dialami. Ini Saya meresepkan vitamin dan obat pereda mual." Jelas dokter kemudian memberikan kertas pada Jeff.
Jihan tidak mau makan. Wanita itu mengeluh mual dan pusing. Ia menolak apapun yang di berikan suami, Papa maupun anak anaknya. "Makan buah Bu. Pasti nggak bikin eneg. Ayo satu suap saja." Bujuk Jaffan namun hasilnya tetap sama. "Mau makan apa sih Ma?" Tanya Jeff barangkali istrinya ingin makan sesuatu. "Enggak. Lagi nggak kepengen apa apa." Jawabnya mengulas senyum di bibirnya yang pucat.
__ADS_1
Hanya tersisa Jeff yang menemani istrinya karena yang lain sudah keluar membiarkan Jihan untuk istirahat. Juma yang sedaritadi tertidur sudah di pindahkan oleh Jaffan ke kamarnya sendiri. "Jangan bikin Mama susah ya." Ucap pria itu mengusap perut istrinya yang masih rata. Ia akan menjadi seorang Ayah yang sesungguhnya. Ayah dari anak hasil menanamnya sendiri di rahim istri tercinta. "Papa senang?" Tanya Jihan melihat raut wajah suaminya yang tak berhenti tersenyum. "Sangat. Terimakasih Ma." Ucapnya mengecup bibir mungil sang istri.
Malam hari semuanya sudah berkumpul di kamar Jihan. Hidangan tersaji memenuhi meja, sengaja agar wanita itu bisa memilih makanan apa yang mau di makan. "Semuanya sehat sehat Ma. Ayo makan. Papa suapi. Mau yang mana dulu?" Tanyanya. Jihan meletakkan gelas susunya yang masih tersisa setengah. "Mau pudingnya." Jawab wanita itu setelah sekian lama berpikir. Mereka agak keberatan karena dari siang Jihan tidak makan dan siangnya wanita itu muntah muntah. Harusnya makan makanan berat. Tapi apa boleh buat daripada tidak makan sama sekali mereka hanya bisa menuruti saja. Jeff mulai menyuapi istrinya dengan telaten. "Huek.." Baru satu suap Jihan sudah menutup mulutnya. "Sudah jangan di lanjut lagi." Pinta wanita itu meneguk kembali susunya sampai tandas. Jeff iba. Untuk mengandung anaknya Jihan menjadi kesulitan seperti ini. Belum lagi nanti saat lahiran. Ia tak bisa membayangkannya. Di ciumnya kening sang istri kemudian membawa tubuh ramping itu dalam dekapan hangat.
__ADS_1