
Jihan tersenyum. Ia berlari memeluk suaminya. "Aku kangen Mas." Ucapnya memejamkan mata menikmati kerinduan yang terobati. "Mas juga kangen Adek." Jawab Riza pelan. Ia melepaskan pelukan kemudian menggenggam kedua tangan wanita cantik itu dan menciumnya beberapa kali. "Sudah waktunya Adek bahagia. Mulailah lembaran baru. Anak anak butuh sosok Ayah. Mas cinta kamu sampai akhir. Tapi Mas iklhas kamu bersama yang lain." Ucap Riza melepaskan tangan istrinya dan pergi. "Mas...Mas..."Jihan terbangun dari mimpinya dengan napas terengah engah. Ia menangis dalam diam karena takut akan membangunkan Juma. "Mas." Lirihnya sambil memegangi dada.
Pukul setengah lima pagi Jeff sudah berada di dapur. "Pak Jeff." Ucap beberapa koki yang terkejut dengan kedatangan majikannya di pagi buta seperti ini. "Saya mau masak nasi goreng untuk calon istri. Siapkan bahannya. 3 menit dari sekarang. Saya tunggu." Ucap Pria itu dalam satu tarikan napas. Mereka sudah terbiasa dengan perintah Jeff yang banyak dan tiba tiba langsung melaksanakan.
Jeff mulai memasak sambil membaca resep. Pria itu memasukkan bawang merah, bawang putih dan cabai ke dalam blender lalu menghaluskannya. Setelah bumbu halus Jeff memotong sosis dengan sangat hati hati. Baru dua kali ini memasak membuatnya canggung dan keteteran. Dengan pelan Ia memecahkan telur ke dalam mangkuk dan mengocoknya setelah menambahkan sedikit garam. "Goreng nugget dulu." Gumam pria itu menyalakan kompor lalu menuangkan minyak. Ia memasukkan nugget ke dalam penggorengan tanpa menunggu minyaknya panas.
__ADS_1
"Buat Mama Pa?" Tanya Jordan menghampiri Papanya yang sibuk menata makanan di kotak bekal. "Iya." Jawab Pria itu. "Cobain enak nggak?" Lanjutnya. "Enak." Jawab Jordan. "Yang kamu makan itu nugget ya jelas enak karna yang masak pabrik. Cobain nasi gorengnya." Ia mengambil satu sendok dan menyuapkan pada putranya. "Lumayan." Jeff tersenyum mendapat jawaban dari Jordan. Setidaknya lumayan daripada tidak enak sama sekali.
"Selamat pagi Ma." Ucap Jeff dengan senyum sumringahnya membuka pintu. Jihan mengangkat kepala menatap pria yang baru datang itu. "Pagi." Jawabnya singkat. "Papa bawain nasi goreng buat Mama. Mama udah janji buat cobain masakan Papa." Ia duduk di sofa kemudian membuka kotak bekal yang di bawanya.
Setelah dari kantor calon istri Jeff langsung ke perusahaan nya. Dengan wajah dingin dan tatapan datarnya Ia berjalan dengan langkah lebar memasuki kantor. "Panggilkan Will untuk ke ruangan Saya." Ucap Jeff tanpa menatap lawan bicaranya. "Baik Pak." Jawab salah satu karyawannya.
__ADS_1
Will memasuki ruangan bosnya. "Ada apa?" Tanya pria itu sembari duduk di sofa. "Belikan kura kura. Juma pengen kura kura. Pulang kantor nanti harus sudah ada." Jawab Jeff membuat Will yang sedang minum seketika tersedak. Pekerjaannya sedang banyak dan pria itu seenak jidat menyuruh Ia untuk mencari kura kura dan pulang nanti tepatnya jam 1 terhitung dua jam dari sekarang harus sudah ada. Bolehkan jika Will mengumpat atau mengatai Jeff gila sekarang? "Dua jam lagi? Aku harus cari kemana?" Tanyanya heran. "Tidak tau dan tidak mau tau. Bergegaslah aku tunggu." Will dengan kesal berdiri kemudian segera pergi. "Bisa gila aku lama lama." Gerutunya sembari menutup pintu ruangan sahabat sekaligus bosnya itu dengan kasar.
Sore hari Jeff dan anaknya mengunjungi rumah Jihan. Pria itu langsung menuju ruang keluarga karena semua sedang berkumpul disana. "Mama." Jordan langsung memeluk Jihan. Ia begitu merindukan sosok wanita itu. "Ayo duduk. Makan eskrim." Ajaknya di jawab anggukan. "Juma. Buat kamu." Ucap Jeff ikut bergabung sembari meletakan akuarium berisi kura kura. "Untuk Juma?" Tanyanya berbinar. "Iya. Juma suka?" Bocah tampan itu mengangguk kemudian berterimakasih sembari memeluk Jeff. "Om tau darimana Juma pengen kura kura?" Tanya Jaffan. "Feeling." Jawab Pria itu sambil tersenyum. "Kita tadi sudah cari tapi katanya sudah di beli orang. Jangan jangan itu Om." Jason menduga duga hanya di tanggapi senyuman oleh pria itu.
"Kamu serius dengan anak saya?" Tanya Papa yang sedang mengobrol dengan Jeff di taman belakang. "Serius Om. Tapi lamaran saya berkali kali belum di terima." Jawabnya sambil menghela napas. Papa tau Jeff orang yang begitu perhatian. Ia juga yakin pria itu sangat mencintai Jihan dan bisa menerima anak anak dengan baik. Ketulusan Jeff tidak bisa di tutupi lagi. "Dan kau tidak menyerah?" Tanyanya lagi. "Tidak Om. Sampai kapanpun saya tidak akan menyerah. Ada tuhan yang bisa membolak balikkan hati. Saya yakin suatu saat nanti pasti akan luluh." Papa mengangguk menanggapi kegigihan Jeff yang luar biasa. "Semoga berhasil." Ucapnya sambil menepuk pundak pria itu.
__ADS_1