
Jeff menghampiri istrinya. Pria itu kemudian berjongkok untuk memasangkan sepatu kets sang istri yang masih sibuk minum susu dingin yang Ia buatkan tadi. "Kriuk...Kriuk." Ia tersnyum melihat kebiasaan istrinya yang suka mengunyah es batu. "Jangan makan es batu Ma. Nanti anak kita dingin kaya Mama waktu belum jadi istri Papa." Jeff terkekeh kemudian duduk di samping sang istri sembari mengelus perut Jihan yang semakin membesar. Ya, usia kandungannya sudah empat bulan dan kemarin baru saja mengadakan acara empat bulanan besar besaran di rumah. Jihan dan Jeff bahkan mengundang seluruh karyawan untuk hadir. "Maklum dong. Kan belum halal." Jawab wanita itu cepat. "Sekarang sudah halal juga Mama sering cuek sama Papa." Ia bicara pelan namun istrinya tak menanggapi meskipun mendengar.
Jihan dan suaminya sudah sampai di rumah sakit. Keduanya langsung masuk ke ruang dokter kandungan kerena sudah membuat janji sebelumnya. Setelah berbasa basi sebentar Jihan seperti biasa langsung berbaring untuk melakukan USG. Mata Jeff berbinar melihat calon anaknya di layar monitor. Pria itu sampai meneteskan air mata karena terharu.
"Masih mual?" Tanya dokter ketika semua prosedur selesai. "Mual tidak dok. Tapi susah makan." Jawab Jeff mendahului istrinya. "Saya makan kok dok." Ucap Jihan tidak terima. "Makan? Mama cuman mau camilan sama minum itu sama saja nggak makan." Dokter hanya menggelengkan kepala melihat sepasang suami istri di depannya. "Ya makan nasi dong. Sayur dan buah buahan sangat penting untuk nutrisi Ibu hamil. Saya resepkan vitamin seperti bisa lagi sama untuk penambah napsu makan juga." Jelas dokter sambil memberikan secarik kertas.
__ADS_1
"Pa. Mampir ke Mall dulu lah." Jihan terus merengek di sepanjang perjalanan karena sang suami tak kunjung mengabulkan. Bukannya apa apa. Jeff hanya khawatir istrinya kelelahan karena sedang hamil. "Nggak. Mama lagi hamil. Harus banyak istirahat." Jawab pria itu memalingkan wajahnya karena tak ingin luluh. "Hu...Ayo dong Pa. Masa di rumah terus. Keluar juga cuman sekali lihat Juma futsal waktu itu sama kalau ke rumah sakit buat cek kandungan. Ayolah Pa.....Papa tega banget sih." Jihan tak berhenti merengek membuat supir yang fokus ke jalan juga tersenyum melihat tingkah majikannya itu. "Kita ke Mall Pak." Ucap Jeff seketika membuat istrinya berhenti. "Makasih Pa." Ia sangat senang sekali. "Hm. Sama sama. Tapi nggak boleh lama." Jeff mengusap dan mencium kening dan pipi istrinya.
Sampai di Mall Jeff tak melepaskan tangannya dari sang istri. Pria itu begitu posesif hingga membuat Jihan tak leluasa. "Nonton yuk Pa." Ajak Jihan. "Di rumah saja. Lagian Mama kan sudah janji nggak akan lama. Kok malah ngajak nonton." Jawab Jeff cepat. "Tapi Pa...." Keluh wanita itu. "Nggak mau nurut kita pulang sekarang." Ancamnya membuat Jihan seketika diam.
Semuanya sedang makan siang bersama setelah sholat dhuhur berjamaah. Jihan makan cemilannya sendiri karena yang lain tidak tertarik sama sekali. Makanan rumahan yang di buat sang Ibu lebih enak dari yang lain. Ya, sekarang Jihan sudah diizinkan memasak dan tentu saja dengan pengawasan suaminya. "Mau kemana?" Tanya Jeff melihat istrinya berdiri. "Mau es batu." Jawab wanita itu. "Sudah cukup Ma. Pilek nanti." Tutur Pria itu. "Nggak patuh sama suami dosa." Lajut Jeff membuat istrinya seketika duduk. "Ibu. Tadi gimana hasil pemeriksanya?" Tanya Jalwa. "Baik. Alhamdulillah." Jawab wanita itu sambil terus mengunyah. "Vitaminnya jangan lupa di minum Ma." Ucap Julian mengingatkan. "Iya Ma. Mama juga harus banyak makan buah dan sayur. Jangan ngemil mulu nggak ada gizinya." Tambah Jason di tanggapi anggukan oleh Mamanya.
__ADS_1
Juma berlari menghampiri Ibunya yang sedang duduk santai bersama Papa dan saudaranya yang lain. "Kenapa?" Tanya wanita itu melihat anaknya menggaruk garuk leher dan lengan. "Gatal." Jawabnya. "Kena ulat bulu ini. Ayo mandi dulu habis itu dikasih krim biar gatalnya hilang." Ajak Jihan menggandeng tangan putranya untuk bergegas.
Selesai mandi Jihan langsung mengolesi bentol bentol di tubuh anaknya dengan krim untuk gatal. "Sekarang tidur siang." Ucap Jihan. "Temani." Wanita itu mengangguk kemudian segera berbaring di ranjang. "Ibu kalau dua adik Juma lahir Ibu akan tetap sayang Juma Kan?" Tanyanya. "Tentu saja. Ibu akan tetap sayang Juma seperti biasa." Jawab Jihan sambil tersenyum. Sebegitu takut Juma akan kehilangan kasih sayang darinya. "Juma lega dengernya." Ia mulai memejamkan mata sambil memeluk Ibunya setelah memberikan ciuman bertubi tubi pada wajah wanita yang begitu dicintainya.
Jeff yang hendak masuk ke kamar putra bungsunya mengurungkan niat mendengar percakapan bocah tampan itu dengan sang Ibu. Ia membiarkan keduanya menghabiskan waktu bersama. Jeff tau diri dan tak ingin menganggu. Baginya melihat besarnya kasih sayang antara Ibu dan anak itu membuat hatinya menghangat.
__ADS_1