
Jihan sedang berada di Mall dengan Jalwa dan juga putra bungsunya. Wanita itu hanya menuruti keinginan Juma yang mau jalan jalan padahal kemarin baru saja terjadi insiden yang membuat kepalanya berdarah. "Mau beli apa?" Tanya Jihan. "Makan ayam goreng krispi yuk Bu. Sudah lama nggak makan." Alih alih Juma kini Jalwa yang menjawab. "Ayo deh. Ibu juga kepengen." Jawab Jihan menyetujui.
Ketiganya sudah duduk bersama menikmati hidangan berkalori yang tersaji di meja. Jihan makan seperti biasa sambil menyuapi Juma. "Kenapa ayam goreng yang paling enak kulitnya?" Tanya Juma. "Karena kan bumbunya disana." Jawab Jalwa sambil tersenyum. "Oh iya. Kita mampir ke pondok ya. Tengokin Dika. Ibu juga mau belikan beberapa perlengkapan buat dia." Kata Jihan di tanggapi anggukan oleh anak anaknya.
__ADS_1
"Ibu." Dika berlari memeluk Jihan yang baru turun dari mobil. "Hy. Habis potong rambut kamu?" Tanya Wanita itu mengusap rambut Dika yang terlihat pendek daripada seminggu yang lalu. "Iya. Bu." Jawabnya sambil tersenyum. "Juma kenapa?" Tanyanya meraih tubuh bocah tampan itu dan menggendongnya. Ia menatap luka yang tertutup kapas dan plester di kening adiknya dengan khawatir. "Jatuh di kamar mandi." Jawab Juma yang sekarang sudah akrab dengan Dika.
Mereka mengobrol bersama di gasebo setelah bersilaturahmi dengan pengurus pondok. "Odol, sikat gigi sama sabun nya ada di sini. Terus yang satunya lagi cemilan sama susu." Ucap Jihan. "Makasih Bu." Wanita itu mengangguk lalu mengusap kepala Dika. "Kamu liburnya kapan Dik?" Tanya Jalwa sambil minum air yang Ia bawa. "Kalau libur panjang masih lama Kak. Kalau hari jumat, sabtu, minggu nanti Dika pulang." Jawabnya. "Kalau pulang bikinin gethuk. Kata Ibu gethuk buatan kamu enak. Ibu lagi pengen makan gethuk tuh dari kemarin." Jalwa tertawa kecil sambil menatap Ibunya. "Ibu kenapa nggak bilang. Dika kan bisa bikinkan terus kirim ke Ibu kalau Ibu kepengen." Ucap Dika. "Nanti kalau kamu pulang saja." Jawab Jihan tersenyum.
__ADS_1
Di sisi lain seorang pria tengah bersitegang dengan anaknya. Keduanya sama sama tak mau mengalah dan saling beradu argumen. "Mereka bukan berandalan Pa. Mereka teman Jordan." Ucap Remaja itu. "Pantesan kamu sering bermasalah. Teman kamu begitu semua. Papa mau kamu jauhi mereka. Nggak ada lagi keluar keluar. Duduk diam dan belajar di rumah. Papa malu nilai kamu merah semua. Papa bosen setiap kali harus di panggil ke sekolah gara gara kamu berulah." Kesal Jeff memarahi putranya. "Papa. Kalau nilai jelek itu memang jordan jarang belajar. Kalau soal panggilan ke sekolah itu kan bukan sepenuhnya salah Jordan. Jordan korban disini. Papa nggak mau cari tau asal salahkan Jordan sih." Gerutunya di akhir. "Papa nggak mau tau. Kamu harus tetap di rumah. Papa ada rapat penting. Kalau sampai kamu macam macam awas saja. Papa nggak segan buat kurung kamu di kamar." Ia bergegas pergi setelah memberikan peringatan pada putranya.
Sore hari Jason tergesa gesa menghampiri Ibunya yang duduk berkumpul dengan saudara dan kakeknya. "Ibu. Dari Dika." Ucapnya ikut duduk setelah memberikan kotak dari besek bambu kepada sang Ibu. "Apa ini?" Tanya Jihan membukanya. Wanita itu tersenyum melihat catatan kecil bertuliskan 'Gethuk untuk Ibu'. Jihan membuka daun pisang di dalamnya lalu mulai makan makanan sederhana itu. "Ibu langsung di buatkan." Kata Jaffan karena Dika begitu cepat menuruti keinginan Ibunya. "Iya. Ayo makan." Ajak wanita itu. "Suapi." Ucap mereka kompak. Ia mengangguk kemudian menyuapi anaknya bergantian satu per satu. "Papa nggak mau Pa?" Tanya Jihan. "Seret. Kalian aja." Jawabnya kembali fokus ke layar Tv.
__ADS_1
Jeff menghela napas menatap ke arah luar jendela besar yang menyuguhkan pemandangan kota dari ketinggian. Seharian ini Ia tak bertemu Jihan membuatnya merindu. Tapi pekerjaannya benar benar tak bisa di tinggal ataupun di gantikan oleh asistennya. Sampai malam begini pun Ia masih berada di kantor karena baru selesai. Ia sempat pulang siang tadi karena harus memberi peringatan untuk Jordan yang berulah. "Angkat dong. Hanya pengen dengar suara kamu." Gumamnya sedari pagi menghubungi Jihan namum tidak ada jawaban. Pesan yang Ia kirim pun tak di balas. Jeff cukup tau wanita itu jarang melihat ponsel ketika tidak ingin. Namun keterlaluan juga jika dari pagi Ia menelpon dan sampai sekarang tidak di respon. "Harus pakai cara apa lagi biar bisa luluhkan hatimu sih Ma." Keluh Jeff benar benar kalang kabut mengejar Jihan. Namun Ia juga tak mau menyerah. Ia akan berjuang sampai akhir.