Lembaran Baru Hidupku

Lembaran Baru Hidupku
Sebuah Fakta


__ADS_3

Tepat tengah malam Jeff kembali ke kamar. Ia tersenyum melihat Jihan yang sudah pulas di ranjang. Juma memang tidur sendiri lebih tepatnya tidur dengan Jordan dan Dika. Ketiganya membangun tenda di kamar dan tidur di dalamnya. Entah ingin merasakan rasanya camping atau bagaimana Jeff sendiri juga tidak paham.


Selesai dari kamar mandi pria yang hanya mengenakan boxer itu naik ke atas ranjang. Ia duduk di samping istrinya sambil mengusap wajah cantik itu dengan lembut. Baru pertama kalinya Jeff melihat Jihan tanpa hijab dan begitu cantik dengan rambutnya yang pirang. "Ma." Panggil Jeff namun tak mendapat respon. Jangankan di respon menggeliat saja tidak. "Ma. Ini malam pengantin kita masa Mama tinggalin Papa tidur." Ia mulai gencar memainkan rambut dan meniupi wajah sang istri agar terbangun. "Umm..." Akhirnya setelah sekian menit istrinya membuka mata.

__ADS_1


"Bolehkah." Bisik Jeff dengan manja sembari memainkan kancing piyama istrinya. Jihan tak menjawab memilih untuk diam. Tanpa mendapat persetujuannya pun kini Jeff sudah mencium bibirnya dengan rakus. Pria yang kini sudah berada dia atasnya itu mulai memperdalam ciuman hingga lidah masuk mengobrak abrik rongga mulut Jihan. Ia memberikan jeda sang istri untuk bernapas kemudian menautkan bibirnya lagi dengan tangan yang bergerilya kesana kemari. Ciuman Jeff begitu mengalihkan hingga tanpa sadar semua pakaian Jihan sudah hilang di buang Suaminya dengan asal. Beralih dari bibir pria itu turun ke bawah menyusuri setiap inchi tubuh indah sang istri tanpa terlewat.


"Akh...." Suara Jeff terdengar saat memasuki lubang kenikmatan sang istrinya. "Mama masih perawan ya?" Pertanyaan itu seketika terlontar saat miliknya kesulitan untuk di benamkan. "Ini sangat sempit Ma." Lanjut pria itu mendorong pinggulnya hingga berhasil. "Perawan bagaimana? Aku sudah melahirkan 3 anak." Jawab wanita itu memukul lengan kokoh suaminya Ia gunakan sebagai tempat berpegangan. "Ini sangat nikmat dan sempit." Jeff mulai bergerak dengan perlahan hingga tempo yang sedikit cepat. Peluh keringat berjatuhan. Keduanya sama sama hanyut dengan suasana panas di kamar ber AC itu. "Ini yang kedua kalinya bagi Papa. Ini sangat nikmat." Rancunya dengan napas terengah engah mempercepat temponya hingga mereka mencapai pelepasan.

__ADS_1


Subuh hari Jeff menggendong Juma menuju mushola diikuti istri dan anak anak yang berjalan di belakang. Mereka akan sholat subuh berjamaah. Ini pertama kalinya bagi Jeff mengetahui kehidupan harmonis di rumah istrinya. Semuanya begitu kompak dan saling menyayangi satu sama lain. "Jordan nanti mau sarapan apa?" Tawar Jihan. "Sama seperti yang lain Ma. Jordan ngikut." Jawab remaja itu. "Papa nggak di tawari Ma?" Tanya Jeff. "Kamu mau apa?" Tanya Jihan. "Samain." Jawab pria itu membuat istrinya seketika menghela napas.


Suasana sarapan terasa beda dengan kehadiran dua anggota baru. Ini sarapan pertama Jeff dan Jordan dengan keluarga. Biasanya Ayah dan anak itu sarapan hanya berdua. "Dika sudah nggak mondok lagi ya?" Tanya Jeff mencoba dekat dengan anak sambungnya yang jarang Ia temui. "Tidak Pa. Dika mulai sekolah di sekolah biasa." Jawabnya. "Puasanya masih lama ya Ma?" Jordan mengunyah makanannya sambil bertanya. "Nggak lama. Seminggu lagi sudah puasa. Kamu puasa ya." Remaja itu mengangguk semangat. "Papa juga puasa." Lanjutnya menyindir. "Iya Ma." Jawab Pria itu sambil tersenyum.

__ADS_1


Siang hari Jihan, suami dan anak anak sedang asik bermain bilyard. "Kalian lanjutkan." Ucap wanita itu kemudian duduk di sofa yang tak jauh dari sana. Jeff juga undur diri memilih untuk menyusul dan duduk bergabung bersama sang istri. "Capek ya Ma?" Tanyanya sembari merangkul bahu sang istri. "Enggak." Jawab Jihan lalu meneguk air dinginnya. "Kenapa mas kawinnya sebanyak itu? Kamu memberikan semuanya ke aku memangnya nggak mikirin Dika?" Tanya Jihan ingin tau alasan suaminya. "Papa percaya sama kamu Ma. Makannya Papa serahkan semuanya ke Mama." Jawab Jeff mengusap lembut rona alami di pipi sang istri. "Jordan bukan anak Papa." Satu kalimat yang terlontar dari mulut Jeff membuatnya terkejut bukan main. Selama ini teka teki yang ada di pikirannya terjawab sudah. Dari pertama kali melihat Ayah dan anak itu tidak ada kemiripan sama sekali. Jeff yang wajahnya ke barat baratan berbanding terbalik dengan Jordan yang mirip orang asia. "Dia anak hasil selingkuh dengan mantan pacarnya. Untuk pertama kali Papa juga sudah menaruh rasa curiga hingga Papa memutuskan untuk tes DNA saat Mamanya meninggal dan ternyata benar Jordan bukan anak Papa." Lanjut pria itu. "Dan Jordan tau tentang semua ini?" Tanya sang istri di jawab anggukan oleh Jeff. "Papa bilang kalau bagaimanapun juga Jordan akan tetap Papa anggap sebagai anak Papa meskipun menyakitkan. Anak itu juga tak bahagia sedari kecil. Mamanya tidak pernah peduli. Bahkan menyusui atau menyentuhnya pun enggan." Ia tersenyum kecut mengingat masa lalunya yang pahit. "Sekarang Papa punya Mama dan Papa bahagia." Ungkapnya mencium dan memeluk sang istri dengan penuh cinta.


__ADS_2