Lembaran Baru Hidupku

Lembaran Baru Hidupku
Di Tinggal Pergi


__ADS_3

Jeff masih belum tidur memikirkan tentang Jihan. Pria itu terbayang bayang wajah cantik wanita yang membuatnya tergila gila selama ini. "Kalau aku nikah mau tambah anak nggak ya? Kan sudah banyak." Ia bertanya tanya pada diri sendiri sambil menatap langit langit kamar yang di sinari cahaya temaram dari lampu tidur. "Malam pengantin." Sudut bibirnya terangkat menciptakan senyuman. Otak Jeff di penuhi dengan fantasi liar. "Ouh." Keluh pria itu bergegas ke kamar mandi untuk menidurkan apa yang telah bangun.


Pagi hari.

__ADS_1


Jeff mampir ke kantor Jihan. Pria itu melangkah lebar sembari menenteng paper bag di tangan kanannya. "Satria." Panggilnya melihat sekertaris Jihan yang berjalan ke arah lift. "Mau ketemu siapa Pak?" Tanyanya heran. "Mau ketemu calon istri. Memangnya siapa lagi." Jawab Jeff masuk ke dalam lift diikuti Satria yang menyusul. "Bu Jihan nggak masuk." Kata Pria itu. "Kenapa? Apa dia sakit?" Jeff mulai berpikir macam macam. "Tidak. Dia berangkat ke Myanmar bersama anak anak semalam." Tatapan tajam di layangkan Jeff pada Satria. "Jangan bohong kamu. Lagipula kenapa kamu nggak kasih tau aku." Kesalnya. "Saya juga baru dihubungi subuh tadi Pak." Jawab Satria jujur.


Pintu ruangan Jihan di buka dengan kasar. Sosok pria masuk mencari kesana kemari namun tidak menemukan. "Ma." Lirih Jeff terduduk lemas di sofa. "Hanya beberapa hari Pak. Jangan menyusulnya. Dia ingin waktu bersama anak anak." Ucap Satria ikut duduk di sofa. "Buat kamu." Tak merespon, Jeff bergegas pergi dengan kecewa. "Apa ini?" Gumam Satria membuka kotak makan berwarna hitam itu. "Manisnya. Dia yang masak sendiri. Seorang Jeff masak di dapur? Aku tidak bisa membayangkan." Ia tertawa kencang mengamati nasi goreng yang di tata cantik itu.

__ADS_1


"Papa kenapa nggak makan? Itu lauk dari Mama lo." Ucap Jordan yang sedang duduk makan siang dengan Papanya. "Dari Mama? Kamu tau Mama ke Myanmar?" Tanya Jeff di jawab anggukan oleh putranya. "Kenapa kamu nggak bilang Papa." Kesalnya. "Jordan kira Papa sudah tau. Biasanya kan Papa yang paling tau duluan soal Mama. Kemarin Mama ketemu Jordan waktu pulang sekolah. Dia kasih makanan sama pamit katanya mau ke Myanmar. Jordan awalnya mau ikut. Tapi kata Mama Jordan masih sekolah nggak boleh bolos." Cerocos remaja itu sambil makan dengan lahap. "Ini lauk dari Mama?" Tanya Jeff. "Iya. Tadi kan Jordan sudah bilang." Jawabnya sambil menghela napas. "Pantesan kamu makan kaya orang kesetanan." Gerutu pria itu kemudian mulai makan untuk mengatasi kerinduan. Setidaknya dengan masakan Jihan Ia bisa sedikit tenang.


Jeff tersenyum akhirnya berkali kali mencoba menghubungi Jihan diangkat juga. "Assalamualaikum." Suara merdu yang begitu Ia rindukan terdengar. "Waalaikumsalam Ma. Mama kenapa pergi nggak bilang bilang sih. Kenapa Mama cuma pamitan sama Jordan aja. Tadi Papa ke kantor Mama buat antar nasi goreng yang Papa buat sendiri tapi Mama nggak ada. Papa buatnya dari subuh lo Ma. Mama tega banget ninggalin Papa." Cerocos Jeff dengan wajah kecewanya. Jihan hanya diam. Kata orang Jeff begitu irit senyum, irit bicara dan kejam. Nyatanya tidak, selama Jihan kenal pria itu sangat cerewet dan mendominasi obrolan. "Hanya beberapa hari. Nanti pulang aku cobain masakan kamu." Entah kenapa ada rasa untuk menghibur di hatinya melihat ekspresi Jeff yang menyedihkan. "Beneran?" Jihan mengangguk menanggapi pria di sebrang sana. "Mama lagi ngapain?" Tanya Jeff yang moodnya sudah membaik. "Lagi cari angin di balkon hotel mupung Juma tidur." Jawabnya. "Papa ngantuk Ma. Semalam nggak bisa tidur mikirin Mama." Ia mengadu manja pada Jihan sambil mengucek matanya seperti anak kecil. "Yaudah tidur saja." Jeff mengangguk karena benar benar mengantuk. Pria itu mengganjal ponselnya dengan bantal hingga memperlihatkan wajahnya yang tiduran dengan posisi miring. Namun Ia tidak mengizinkan Jihan mengakhiri panggilan Video yang di lakukan. Jeff meminta untuk dibacakan surah sebagai pengantar tidur. Suara merdu lantunan ayat demi ayat membuat mata Jeff semakin memberat. Jihan kemudian mengakhirinya setelah menyadari Pria menyebalkan itu benar benar tidur. "Assalamualaikum." Ucapnya mengakhiri panggilan yang masih berlangsung.

__ADS_1


__ADS_2