
"Jangan gerak Ma." Ucap Jeff yang tiduran sambil memeluk istrinya. Pria itu benar benar sedang tersiksa karena menahan sesuatu. "Kenapa sih?" Tanya Jihan merasakan deru napas suaminya yang tidak beraturan. "Papa nggak bisa sentuh Mama. Papa lagi nahan sesuatu." Jawabnya dan istrinya langsung paham. "Mama mau bantuin Papa nggak?" Lanjutnya bertanya sembari mengarahkan tangan sang istri untuk memegang asetnya yang sudah terasa sesak di bawah sana.
"Ah." Suara Jeff terdengar saat tangan lembut sang istri mulai mengurut miliknya. Dalam kamar yang temaram pria itu mulai membuka selimutnya dan membuang ke sembarang arah. Ia benar benar tak tahan lagi. "Papa akan pelan. Janji." Ucap Jeff mengungkung tubuh sang istri. Hanya dengan lima jari Ia tak akan puas. Tak mendapat jatah hampir sebulan membuatnya hampir gila. Jihan hanya bisa mengangguk pasrah saat sang suami membuka satu persatu kancing piyamanya. Jeff yang sudah telanjang bulat membuang semua pakaian Jihan ke sembarang arah. Mulut pria itu mencium dan menyusuri seluruh tubuh indah istri yang begitu membuatnya kecanduan.
"Ungh..." Lenguh Jihan membuat suaminya lebih bersemangat. Jeff mulai membenamkan miliknya dengan pelan lalu mendorongnya hingga terbenam sempurna. Ia menggerakkan pinggulnya perlahan. Begitu lembut sesuai dengan apa yang dijanjikan tadi. "I Love you Ma." Desa han Jeff memenuhi ruangan yang kedap suara itu. Keringat membasahi tubuh kekarnya yang menggoda. "Hah...Hah..." Ia melepaskan pangutannya sebentar untuk mengatur napas lalu kembali lagi untuk memainkan bagian dada sang istri dengan lidahnya. Tangan Pria itu menggenggam erat tangan Jihan untuk berpegangan sembari yang di bawah sana tetap bekerja.
__ADS_1
"Terimakasih Ma. I Love you." Ucap Jeff sambil memeluk istrinya. Dua insan itu masih sama sama polos karena baru selesai dengan kegiatan panas yang mereka lakukan. Seperti biasa Jihan selalu bisa mengimbangi permainan suami. Wanita yang tengah hamil itu tak mengeluh di bajak sang suami berjam jam lamanya. "Mau mandi Pa." Ucapnya dengan suara pelan. "Iya. Tunggu disini Papa siapin airnya dulu." Ucap Jeff bergegas pergi setelan meninggalkan kecupan di seluruh wajah sang istri.
Jeff kembali lagi menjemput Jihan setelah airnya siap. Pria itu menggendong istrinya dengan hati hati lalu meletakkan di bathup begitu sampai. Ia ikut masuk untuk berendam sembari memangku sang istri. "Lapar." Keluh Jihan tumben tumbenan. Jeff tersenyum sambil memeluk tubuh istrinya. "Mau makan apa? Papa siapkan." Ucap Pria itu. "Spaghetti." Jawab Jihan setelah beberapa saat berpikir. "Iya. Nanti Papa buatkan." Jeff mengecup leher sang istri kemudian pundak mulus wanita itu juga.
Jihan tersenyum melihat suaminya yang berkali kali membaca kemasan hanya untuk membuat mie. Suatu hal yang sangat mudah namun bagi calon ayah itu sulit karen tidak pernah memasak. Pernah sebenarnya. Hanya dua kali yaitu membuat nasi goreng dulu saat dalam masa pendekatan dengan sang istri.
__ADS_1
"Minyaknya kalau mau goreng telur sedikit aja Pa." Ucap Jihan. "Sini biar aku aja." Lanjutnya langsung mendapat penolakan keras. "Mama diem aja di situ." Jawab Jeff menuangkan sedikit minyak ke pan lalu menuangkan telur yang sudah Ia kocok tanpa menunggu minyaknya panas. Jihan hanya bisa menghela napas. Setidaknya sudah berusaha. Ia hanya perlu menghargainya.
Sepiring mie instan goreng sudah tersaji di meja. Jihan tersenyum melihat tampilan maha karya suaminya yang acak acakan namun Jeff kata itu sudah di tata sedemikian rupa. Mie nya sih tidak masalah. Hanya telurnya yang berantakan. Pria itu bilang jika ini telur dadar. Namun lebih mirip telur orak arik karena bentuknya tidak karuan. Mungkin Jeff tidak bisa ketika membaliknya tadi.
"Mau minum apa Ma?" Tanyanya menawari sang istri. "Es teh." Jawab Jihan. "Malam malam begini? Teh hangat saja ya." Pria itu mulai menawar dan bernegosiasi tapi istrinya bersikeras. "Baiklah." Putusnya segera mengambil teh kotak dari dalam kulkas menuangnya ke gelas lalu ditambah beberapa es batu. "Terimakasih." Ucap Jihan langsung meneguknya dengan semangat. Jeff mengangguk kemudian segera duduk. "Ayo makan Ma." Ia mulai memegang garpu. Menggulung mie yang lembek itu dan meniupnya sampai dingin sebelum menyuapkan pada sang istri. "Gimana? Enak nggak?" Tanya Jeff di jawab anggukan. "Masa sih enak." Gumam pria itu tak yakin kemudian mencobanya. "Yah...Ini telurnya keasinan Ma. Papa buatin lagi ya." Ucapnya tak enak hati. Baru saja Istrinya doyan makan Ia malah mengacaukan. "Nggak usah. Kalau dimakan pakai mie nya nggak terlalu asin Kok." Jawab Jihan. Jeff tersenyum lalu mengecup bibir istrinya yang sibuk mengunyah. Sebegitu besarnya Jihan menghargai apa yang Ia lakukan membuat hatinya menghangat. Sebelumnya tidak pernah ada yang seperti ini. Di mata orang Ia di hargai dan ditakuti karena jabatan dan hartanya. Selebih itu jika Ia bukan siapa siapa mungkin kehidupannya akan berbeda. "I Love You. Terimakasih untuk segalanya." Ucap Jeff sambil mengusap lembut pipi istrinya.
__ADS_1