
Untuk menutup acara liburannya di dua negara Jihan akan menetap dua hari di pulau Mactan yang berada di provinsi Cebu, Philipina. "Juma mau susu dingin." Ucap bocah tampan itu ketika sedang sarapan bersama di restoran hotel. "Pagi pagi kok minum dingin sih Dek." Tegur Julian. "Yang hangat tidak enak." Jawabnya. "Sebentar Ibu pesankan." Ucap Jihan memanggil pelayan lalu memesan susu dingin untuk anaknya.
__ADS_1
"Sudah puas jalan jalannya?" Tanya Jihan yang sedang makan sambil menyuapi Juma. Ia sudah menuruti keinginan semuanya untuk mengunjungi tempat tempat wisata yang mereka inginkan. "Sudah Bu. Tinggal istirahat terus besok pulang." Jawab Jalwa sambil tersenyum. "Dika kenapa? Nggak doyan ya?" Tanyanya karna Dika makan tidak begitu berselera. "Doyan kok Bu. Hanya kekenyangan saja habis minum jus." Jawab remaja tampan itu lalu memasukkan makanan ke dalam mulut. "Kamu mau tetep mondok Dik?" Tanya Jaffan. Remaja itu menatap Ibunya untuk meminta pertimbangan. "Mama terserah kamu Dik. Mama ngikut nyamannya kamu gimana." Sahut Julian tau apa jawaban Mamanya. "Sebenarnya Dika mau sekolah biasa saja biar bisa sama Ibu terus." Jawabnya sambil menunduk. "Nanti Ibu bilang ke pengurus pondok. Kamu bisa sekolah di tempat bisa." Sebuah senyuman terbit di bibir remaja itu. "Makasih Bu." Ucapnya dengan mata berbinar. "Sama sama. Kan Ibu sudah bilang senyamannya kamu gimana." Tutur Jihan mengusap kepala Dika yang duduk tak jauh darinya.
__ADS_1
Siang hari Jaffan dan saudaranya menjaga Juma yang sedang tertidur pulas karena Ibunya dan Jalwa sedang pergi untuk spa. "Om Jeff suka sama Mama kamu tau Dik?" Tanya Jason. "Tau Kak. Siapapun juga tau. Kentara banget." Jawabnya sambil tersnyum mengingat tingkah pria itu. Memang Ia hanya beberapa kali saja bertemu. Tapi perlakuannya pada sang Ibu sudah cukup menjelaskan semuanya. "Menurut kamu, kamu setuju nggak kalau Om Jeff jadi Papa sambung kita?" Jaffan merebahkan tubuhnya di sofa dengan nyaman sambil memejamkan mata. "Om Jeff sepertinya orang baik Kak. Sama Juma juga dekat. Ya memang ada orang yang perhatiannya hanya sandiwara. Tapi kalau Dika lihat Om Jeff pria itu tulus. Kalau kakak bagaimana?" Ia balik bertanya karena tak mau menyimpulkan sendiri. Bagaimanapun juga Dika sadar posisinya bukan anak kandung. "Kalau Kakak mau saja. Terserah Ibu. Kakak juga percaya dia bisa jaga Ibu dengan baik." Jawabnya.
__ADS_1
"Salah sendiri. Orang Jihan agamis begitu kamu ngomongnya macem macem. Ya jelas dia nggak nyaman. Sukurin dia ngambek. Lagian sih mulut asal nyerocos aja." Ucap Will yang sudah berdiri daritadi di depan Jeff mendengarkan percakapan bosnya namun pria itu tak menyadari. "Siap siap di tendang kamu." Lanjutnya sambil duduk nyaman di sofa. "Kamu nggak bisa ya kasih solusi jangan cuman berkomentar aja." Will berdecak. Jeff pikir yang mengatasi semua masalahnya selama ini siapa kalau bukaan dia. Pekerjaannya bukan hanya menjadi sekertaris saja. Namun Ia juga merangkap menjadi konsultan dan pesuruh pria itu di dalam maupun di luar jam kerja. Bayangkan saja tengah malam Ia disuruh untuk beli hadiah yang akan di berikan pada Jihan keesokan paginya. Parahnya lagi waktu dia sudah dalam posisi akan bercumbu dengan sang istri Jeff menelpon dan menyuruhnya untuk mencari resep nasi goreng. Belum lagi semua hal konyol yang dilakukan bosnya itu mulai dari perkara dengan hukum karena arogan di jalan, di laporkan Jihan karena ketahuan menguntit dan lain sebagainya juga Will yang menyelesaikan. Jika bukan orang yang sabar dia mungkin akan mencekik orang yang telah memberinya gaji itu. "Kenapa diam? Kamu mengumpati aku dalam hati ya?" Tanya Jeff sekalian menuduh. "Tidak. Tidak salah." Jawabnya lirih di akhir. "Apa?" Pekik Sang CEO menatap tajam sekertarisnya. "Iya. Gimana nggak kesel. Bayangin jadi aku baru mau *** *** sama istri dah kamu kasih tugas lagi." Ungkapnya kesal. "Resiko. Lagian kamu nggak ada empatinya sama sekali. Orang aku lagi gencar perjuangin cinta kamu malah enak enak." Ucap Jeff membuat Will berdecih. "Sudah. Gimana ini aku hubungi nggak bisa." Ia kembali ke topik pembahasan. "Mungkin di blokir. Sabar aja. Baru di tinggal beberapa hari aja uring uringan nggak jelas. Gimana kalau di tinggal kawin? Mungkin emang takdirnya bukan untuk kamu. Dah...Ikhlasin biar sama yang lain." Jawab Will santai sambil melenggang pergi. "Sialan Will. Aku potong gaji kamu." Kesalnya membuat pria itu berbalik arah dan melangkah cepat menghampiri bosnya untuk meminta maaf.
__ADS_1