
Jihan mengangkat pandangannya saat pintu ruangan tiba tiba terbuka. "Ibu." Juma berlari menghampiri wanita cantik yang tengah sibuk itu. "Juma sama siapa hm? Ibu kan mau jemput." Tanyanya sambil membalas pelukan. "Aku." Jawab seseorang yang baru masuk. Jihan menghela napas kemudian tersenyum pada putranya. "Ayo makan Bu. Juma sudah lapar." Ucapnya dengan semangat. "Ayo ganti baju dulu." Jihan menggendong putranya untuk diajak masuk ke ruang istirahat.
Selepas mengganti pakaian anaknya Jihan buru buru menyiapkan bekal yang di bawanya dari rumah. "Untung bawa tiga." Ucapnya tak menyangka jika Jeff akan datang. "Kenapa bawa tiga? Ini malah membuatku curiga." Sahut Pria itu. "Satu lagi biasanya Kak Satria ikut makan. Karna sedang tidak ada maka ini untuk kamu." Jawab Jihan membuat Jeff berdecak kemudian langsung makan makanan yang sudah tersaji untuknya.
Jihan tersenyum melihat Jeff dan Juma makan begitu lahap. "Kamu kok bisa jemput Juma?" Tanyanya heran. "Jemput anak sendiri masa tidak boleh." Jawabnya berbisik membuat Jihan menatap pria itu dengan kesal. "Juma. Juma setuju nggak kalau Om jadi Papa Juma?" Dengan usil Ia bertanya dan di jawab anggukan cepat oleh bocah tampan itu. "Lihat. Juma yang paling rewel saja setuju. Kamu mau mengelak bagaimana lagi. Ayo kita menikah." Ajak Jeff. Jihan menatap lawan bicaranya dengan kesal. Pria itu sudah berkali kali di beri peringatan namun rasanya tidak kapok juga.
Jeff menggendong Juma menuju kantin. "Mau apa?" Tanya pria itu ketika sudah sampai. "Yogurt." Jawabnya menunjuk lemari pendingin yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Ok." Ia langsung mengambil dua kemudian mengajak untuk duduk. "Enak?" Tanyanya melihat Juma begitu lahap. "Enak." Jawab bocah tampan itu.
__ADS_1
"Mau pipis." Keluh Juma setelah menghabiskan Yogurt dinginnya. "Ayo Om antar." Jawab Jeff. "Tidak. Juma pergi sendiri. Kamar mandinya dekat." Ia bergegas pergi meninggalkan Jeff yang masih duduk di tempat.
Cukup lama Juma pergi dan tak kunjung kembali membuat Jeff risau. Pria itu memutuskan untuk mengecek keadaan di kamar mandi karena takut akan terjadi sesuatu. "Juma." Panik Jeff melihat bocah itu tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan kening berdarah. Ia langsung merengkuh tubuh ringan itu dan menggendongnya keluar.
"Jihan." Satria membuka pintu ruangan bosnya dengan kasar. "Ada apa? Kebiasaan deh." Kesal Jihan. "Juma." Kata Pria itu panik. "Juma? Juma kenapa? Anakku kenapa?" Tanyanya ikut panik juga. "Juma jatuh di kamar mandi. Sekarang sedang ada di klinik depan dengan Pak Jeff." Jawabnya.
"Bagaimana Dok?" Tanya Jihan melihat dokter yang baru keluar dari ruangan. "Tidak ada masalah. Hanya mendapat beberapa jahitan saja di lukanya." Jawab dokter. "Kami akan pindahkan ke ruang perawatan sembari menunggu pasien siuman." Lanjutnya menjelaskan.
__ADS_1
Jihan menggenggam tangan putranya yang masih setia memejamkan mata. "Maaf." Ucap Jeff pelan. "Kenapa?" Tanya wanita itu sembari menatap lawan bicaranya yang menunduk. "Karna tidak bisa menjaga Juma dengan baik." Jawabnya. "Bukan salahmu. Ini musibah." Ia berjalan keluar sebentar lalu kembali lagi menghampiri Jeff yang menunggui Juma. "Ganti bajumu. Itu kotor." Ucap Jihan memberikan paper bag berisi kemeja baru. "Terimakasih." Ia bergegas pergi ke kamar mandi setelah mengecup kening Juma.
Jeff menggendong Juma menuju parkiran diikuti Jihan yang berjalan di belakangnya. Bocah tampan itu di perbolehkan pulang setelah beberapa jam di klinik. "Ibu." Rengeknya saat sudah berada di dalam mobil duduk di pangku sang Ibu. "Kenapa ada yang sakit?" Tanya Jihan. "Pusing." Jawabnya menyandarkan kepala di dada wanita itu.
Malam hari semuanya berkumpul di ruang keluarga untuk menjenguk Juma. "Udah deh. Terima aja. Lihat dia dekat begitu sama anak anak kamu." Bisik Mia memperhatikan Jeff yang begitu perhatian dengan anak anak sahabatnya. "Mulutnya. Diem." Kesal Jihan. "Iya. Dia strateginya bagus. Deketin anaknya dulu baru Ibunya. Patut di acungi jempol." Sahut Dewi. "Udah deh nggak usah di bahas." Geram Jihan. "Ibu." Juma menghampiri Ibunya dan duduk di pangkuan wanita itu. "Ayo di habiskan dulu." Ucap Jeff berjongkok hendak menyuapi Juma lagi. "Sudah kenyang Om." Jawabnya. "Tinggal satu suap. Anaknya nggak mau Ma." Kata Jeff sambil menatap Jihan membuat semua sahabatnya menahan tawa. "Mulutnya." Ucap Jihan pelan. "Kenapa sih Ma." Jeff tak gentar membuat wanita itu akhirnya diam tak menanggapi.
"Makasih cake nya Ma." Kata Jordan memeluk wanita itu. "Sama sama." Jawab Jihan sambil mengusap kepala kepala Jordan. "Makasih Ma." Ucap Jeff ingin merentangkan tangannya membuat Jihan seketika menghindar. "Mau ngapain?" Tanyanya. "Mau peluk. Anaknya boleh masa Papanya enggak." Jihan menatap pria di depannya dengan tajam. "Jangan macam macam." Jawabnya kesal.
__ADS_1
Suara gelak tawa menyambut kedatangan Jihan yang baru memasuki rumah. "Minta peluk Ma." Goda Carissa. "Dasar tukang ngintip." Mereka tertawa melihat ekspresi kesal wanita cantik itu. "Udah si buruan di terima." Ucap Satria. "Nggak." Jawab Jihan bergegas pergi meninggalkan mereka. "Mama galak." Mia buru buru menyusul.