Lembaran Baru Hidupku

Lembaran Baru Hidupku
Bimbang


__ADS_3

Jihan menghela napas melihat suaminya masih bermalas malasan di sofa padahal anak anak sudah berangkat sedaritadi. Pria yang tengah bertelanjang dada itu belum memakai pakaian kantor maupun sepatunya. "Pa. Katanya ada meeting. Papa kok belum siap siap. Ini sudah jam 7 lebih." Ucapnya membuat Jeff tersenyum. Mendengar omelan sang istri setiap pagi bagai angin segar karena Ia tak pernah di perhatikan seperti ini sebelumnya. Mendiang Daddy dan Mommy nya sibuk bekerja bahkan Ia sebagai anak tunggal di rawat oleh pengasuh. Mereka selalu hilir mudik berangkat pagi pulang malam hingga Jeff tumbuh jadi remaja yang liar karena kurang perhatian dari keluarga. "Iya Mama sayang. Sebentar lagi." Jawabnya memeluk pinggang wanita yang berdiri di depannya itu. Jihan tampak menghela napas. Ia meraih kemeja suaminya lalu memakaikan. "Kamu tuh sebagai atasan harus beri contoh baik." Tuturnya sembari mengikat dasi lalu berlanjut memakaikan Jas pria itu.


Jihan kembali ke dalam rumah setelah memastikan suaminya berangkat. Wanita itu menghampiri Papa dan duduk di dekatnya. "Pa. Papa ada jadwal cek rutin loh. Kita berangkat sekarang ya." Pria yang sedang membaca itu menoleh ke arah putrinya. "Sekali aja absen kenapa sih. Paling hasilnya juga sama." Jawab Papa begitu malas harus cek cek ke dokter. Ia tau Jihan khawatir dan begitu memperhatikan kondisinya. Namun Ia juga bosan karena setiap bulannya harus datang ke rumah sakit. "Ya nggak bisa dong Pa. Ayo ah." Dengan malas demi menuruti keinginan putrinya Papa mengangguk. "Jihan ambil tas dulu." Ucapnya bergegas pergi.

__ADS_1


Di sisi lain Jeff sedang duduk di ruangannya sembari mengecek berkas satu persatu dengan malas. "Ekm." Will berdehem karena keberadaanya di abaikan. Pria itu sudah berdiri di depan bosnya namun tidak di anggap. "Ada apa?" Tanya Jeff tanpa mengalihkan fokusnya. "Sertifikatnya sudah jadi. Sesuai keinginan kamu. Semuanya balik atas nama Jihan." Ia meletakkan dokumen dokumen penting itu di meja sahabatnya lalu duduk di sofa. "Kamu belum jawab pertanyaanku. Kenapa harus memberikan seluruh harta kamu ke istri?" Tanya Will untuk yang kesekian kalinya. Ia berharap kali ini mendapat jawaban yang sejelas jelasnya. Will tau dan sangat paham atas perangai sahabatnya itu. Jeff bukanlah orang yang mudah percaya. Bahkan Ia sangat ingat dulu berkali kali pernah diuji oleh pria itu untuk bisa menduduki jabatannya sekarang. "Dia wanita satu satunya yang aku percaya dan itu sebagai bukti cintaku padanya. Aku yakin istriku bisa mengelola semuanya. Aku memberikan hartaku di tangan orang yang tepat. Dia bisa aku andalkan. Seperti mendiang Papa Jason dan Julian yang memberikan hartanya pada Istriku. Ia menjaga sampai kelak dua anak kembar itu bisa mengelolanya sendiri." Jelasnya panjang lebar.


Jeff berdiri dari kursinya lalu ikut duduk bergabung bersama Will di sofa. "Aku ragu untuk memiliki anak lagi." Ucapnya membuat sang sekertaris menoleh menatap sang CEO. "Kenapa? Kamu belum memiliki keturunan." Will merespon cepat. "Aku kasihan sama istri. Mengurus anak segitu banyak tanpa bantuan siapapun." Jawabnya sambil menghela napas. "Mereka kan sudah besar. Istri kamu bisa lah tambah momongan lagi." Kata Will. "Iya benar mereka sudah pada besar. Tapi Juma. Si manja itu nggak mau lepas sama Ibunya. Kadang liat istri sibuk urus ini itu kasian banget. Nggak kebayang capeknya urus anak dan rumah tangga belasan tahun dan tidak pakai pengasuh. Anak anak suka rewel kalau nggak sama Ibunya. Jadi istri apa apa serba istri, dia masak sendiri walaupun ada Bibi. Kadang mau kasih pengertian ke anak juga nggak enak. Secara aku orang baru masa mau terlalu ikut campur. Posisi aku serba sulit. Di sisi lain kasian sama istri dan di sisi lain juga nggak berani tegur anak." Jeff mencurahkan semua isi hatinya. "Tenang aja. Nanti kalau punya adik mereka pasti berubah." Ucap Will menepuk pundak sahabatnya.

__ADS_1


Kumandang adzan terdengar. Selesai membatalkan puasa semuanya sholat magrib berjamaah dengan Jaffan sebagai imamnya. Suara merdu terdengar membaca takbir untuk memulai sholat wajib tiga rakaat itu.


"Ma." Jeff mencekal tangan istrinya yang hendak keluar dari mushola sambil menggandeng menggendong Juma. "Ada apa?" Tanya wanita itu. "Minta upah. Tadi Papa ngajinya kan benar semua." Ucap Jeff sambil tersenyum. "Minta hadiah apa?" Tak menjawab Ia mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Jihan sambil menutup mata Juma. "Minta cium." Jawabnya menunjuk pipi. Jihan mengangguk lalu mencium pipi suaminya singkat. "Jangan cuma pipi Ma." Ia beralih menunjuk bagian wajah yang lain dan Jihan hanya menurut. "Juma lapar." Rengek bocah tampan itu. "Oh. Maaf sayang." Ucap Jeff. Ia langsung mengecup pipi Juma dengan lembut di ikuti Ibunya juga.

__ADS_1


__ADS_2