
Asli bingung mau nurutin yang mana. Yang satu minta Riza sama Jihan cerai yang satu lagi minta mereka bersatu. Biar adil ini author bikin Jihan yang sudah menjanda karena suaminya meninggal aja. Yang bercerai itu nggak jadi karena menuai banyak kontra.
Sekali lagi mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
__ADS_1
Jeff sedang sarapan bersama putra semata wayangnya. "Papa akan pulang sore hari ini." Ucap Pria itu memasukkan sesendok nasi goreng kedalam mulut. "Asin. Papa nggak selera sarapan." Keluhnya terpaksa menelan apa yang sudah ada di mulut. "Kapan Jordan bisa ketemu calon Mama?" Tanyanya menggoda. "Perbaiki dulu kelakuan kamu. Jangan sampai kalau Papa sudah berhasil menikah sama Mama kamu, di hari pertama jadi istri dia pingsan karena tingkah absurb kamu." Jawab Jeff sambil berdiri dari duduk. "Mupung belum menikah Jordan puas puaskan nakalnya. Nanti kalau sudah punya Mama Jordan baru akan berubah." Ia berdecak mendengar kata kata yang keluar dari mulut putranya. "Terserah. Papa berangkat." Ucapnya mengecup kepala remaja itu dan bergegas pergi.
Di sisi lain Jihan baru sampai di ruangannya. Wanita itu langsung duduk untuk mengecek berkas yang sudah bertumpuk di atas meja. "Masuk." Ucapnya karena mendengar ketukan pintu dari luar. "Ada yang ingin bertemu." Ucap Satria sambil mengatur napasnya. "Siapa?" Tanya Jihan masih fokus pada berkas yang sedang Ia baca. "Seseorang." Jawab Pria itu dengan raut wajah panik. "Tuan Jeff. Dia menunggumu di bawah." Lanjutnya. "Suruh pergi saja. Aku sibuk." Jawab Jihan tak peduli. "Dia nggak akan pergi sebelum kamu temui Ji." Keluh Satria karena tau perangai pria itu.
__ADS_1
Para karyawan saling berbisik. Mereka mencuri curi pandang pada seorang pria dengan tubuh atletisnya yang berbalut jas bermerek tengah duduk di sofa sambil membawa buket mawar merah yang begitu cantik. Tatapannya setajam elang dengan wajah datar menunjukkan ekspresi dingin yang membekukan siapa saja yang bertatapan dengan pria itu.
Jeff tersenyum menatap wajah cantik Jihan yang terlihat kesal. Keduanya kini sedang duduk di ruang VIP restoran milik wanita itu. "Ayo dimakan. Pekerjaanku bukan hanya untuk menemani kamu makan saja." Ucapnya. "Iya Sayang. Ini mau makan." Jawab Jeff menggoda. "Berhenti memanggilku seperti itu." Protes Jihan. "Lalu apa? Honey? Baby?" Tanya Jeff membuat Jihan bertanya tanya tentang kewarasan pria itu. "Aku masih waras sayang. Aku bersikap begini hanya ketika aku benar benar jatuh cinta dan wanita pertama yang bisa membuatku seperti ini adalah kamu." Bagai cenayang Ia tau apa yang di pikirkan Jihan. Jeff mengungkap dengan bersungguh sungguh. Jihan tak melihat kebohongan di mata pria itu.
__ADS_1
"Kamu tidak makan? Atau mau aku suapi?" Jihan menggeleng. "Aku masih kenyang." Jawabnya. "Oh iya. Hampir saja lupa. Besok ada acara peresmian di perusahaanku. Karena anak anak sekolah pasti tidak bisa datang. Aku jemput kamu besok ya. Kamu harus datang." Ucap Jeff sembari meminum jus jeruknya. "Aku tidak bisa. Jadwalku padat." Jawab Jihan menolak dengan alasan. "Aku tanya sekertaris mu katanya tidak ada jadwal. Acara ini sudah aku sesuaikan dengan jadwalmu lo." Jihan membelalakkan mata mendengar pengakuan pria di depannya. Bisa bisanya Satria bersekongkol dengan Jeff.
Satria terlonjak kaget saat pintu ruangannya di buka dengan kencang oleh seseorang. "Kenapa kau memberitahukan jadwalku pada Jeff?" Tanya Jihan menatap Sekertarinya tajam. "Dia memaksa. Aku bisa apa." Jawab pria itu sambil menunduk. "Benar benar keterlaluan kamu jadi manusia. Dasar, kamu tau kan kalau aku menghindarinya." Kesal Jihan sambil duduk dengan kasar di sofa. "Ya maaf. Eh dia suka sama kamu lo. Buktinya dia bersikap manis ke kamu. Kalau sama kamu tuh aura kejamnya seketika hilang berganti dengan tatapan hangat dan penuh cinta. Udah sih di gass aja. Dia kaya, tampan dan sukses. Sama anak anak dan Papa kamu juga dekat. Kurang bagian mana lagi? Aku dukung 100 persen." Jihan mengernyitkan keningnya. "Kenapa kamu seolah olah menjerumuskan aku untuk bersama pria menyebalkan seperti itu. Lagipula aku juga masih ingat Mas Riza." Ia berubah menjadi sedih mengingat suaminya yang telah tiada. Memang Jeff dekat dengan anak anak dan Papanya karena ternyata pria itu juga mengelola perkebunan seperti Papa. Namun Jihan tidak ingin menikah lagi. Ia benar benar nyaman sendiri sekarang. "Maaf." Ucap Satria. "Tidak masalah." Jawab Jihan tersenyum.
__ADS_1