
Jeff menghampiri istrinya yang sedang tiduran di sofa balkon kamar. Ia ikut berbaring setelah mengecup pipi Jihan dengan lembut. "Ada yang Mama pikirkan?" Tanyanya sembari mendekap tubuh ramping itu dengan hangat. "Hanya kepikiran tentang Jordan. Apa dia pernah bertemu Ayahnya?" Tanya Jihan dan Jeff mengangguk. "Hanya dua kali sebelum pria itu masuk penjara karena kasus pemerkosaan. Dan dua kali itu pula Jordan mendapat perlakuan buruk dari Ayahnya. Pria bajingan itu tidak mau mengakui darah dagingnya sendiri. Karena itu Papa memperjuangkan hak asuhnya." Jelas Jeff membuat hati Jihan tercubit. Sungguh malang nasib remaja itu. Mungkin karena faktor itu pula Jordan sering membuat ulah.
__ADS_1
"Ma. Besok puasa kan ya?" Tanya Jeff sambil mengusap punggung istrinya. "Iya. Besok sudah puasa. Nanti malam sholat tarawih dan sahur." Jawab Jihan sudah mulai mengantuk. "Pindah ke dalam saja." Jeff melepaskan pelukan lalu menggendong istrinya ke kamar. Setelah meletakkan Jihan di ranjang Pria itu menutup semua jendela dan gorden karena Ia tau betul istrinya sangat nyaman tidur dalam keadaan minim penerangan.
__ADS_1
Kamar Jason begitu gelap. Hanya ada pencahayaan dari LCD yang menampilkan film yang tengah di toton dengan kelima saudaranya. Tepatnya dua, karena Juma, Dika dan Jordan kompak tertidur di karpet. "Papa segitunya ya. Izin ke kita segala mau tambah anak lagi." Ucap Julian tiba tiba. "Itu artinya Papa benar benar memikirkan kita." Sahut Jaffan. "Menurut kalian bagaimana?" Tanya Jason ingin tau pendapat saudara saudaranya. "Ya nggak papa. Lagian si paling manja juga sudah kasih lampu hijau. Tapi dia request adek cewek. Katanya kalau cowok menyebalkan." Jawab Jaffan sambil tertawa kecil. "Menyebalkan bagaimana?" Tanya Julian meminta penjelasan. "Tau tuh." Jaffan tak bisa memberi jawaban. "Ibu." Satu kata yang keluar dari mulut Juma ketika bangun. "Tidur lagi aja Dek. Ibu juga lagi tidur." Ucap Jaffan mengusap punggung Juma. "Mau sama Ibu." Jawabnya bergegas pergi. "Sikapnya begitu bertahan berapa lama?" Julian terkekeh melihat Juma yang tak bisa lepas dari sang Ibu. "Sampai umur belasan. Dulu aku sama Jalwa juga begitu sih." Jaffan tersenyum mengingat masa lalunya dengan sang kembaran yang juga sama seperti Juma.
__ADS_1
Semuanya menyusul Jihan dan Papa yang sedang duduk berdua di taman. "Ibu. Lihat kelinci Juma besar." Ucap bocah tampan itu sangat senang memainkan dua kelincinya yang berwarna putih. "Siapa yang belikan?" Tanyanya. "Papa." Jawab Juma cepat. "Sudah bilang makasih?" Ia mengangguk menanggapi Ibunya. "Sudah." Jeff menatap istrinya dengan penuh kekaguman. Wanita itu sangat luar biasa dalam mendidik anak. Hanya hal sepele seperti berterima kasih Jihan begitu memperhatikan. "Siapa nama kelincinya?" Tanya Jason. "Jaffan dan Jalwa." Jawab Juma spontan membuat mereka membelalakkan mata. "Kenapa pakai nama kakak?" Protes Jaffan dan kembarannya bersaman. "Mereka kan kembar. Kata penjual ini cewek dan cowok. Kan seperti kak Jaffan dan kak Jalwa." Jawabnya. "Kakak tidak mau." Jaffan tidak terima. "Kenapa? Kelincinya bagus." Juma menatap saudaranya heran. "Kalau nama Juma di pakai untuk nama kambing atau kucing memangnya boleh?" Tanya Jalwa. "Boleh asalkan bersih dan tampan." Jawanya membuat Jeff tertawa atas tingkah absurb anak bungsunya itu.
__ADS_1
"Ibu. Besok puasa ya?" Tanya Juma sembari duduk manja di pangkuan Ibunya. "Iya Sayang." Jawab Jihan lembut. "Nanti malam jangan ada yang tidur kemalaman lo. Jangan sampai kalau di bangunkan untuk sahur susah." Lanjutnya memberi pesan. "Ok Ma." Jawab Jordan cepat. "Ramadhan di pesantren bagaimana Dik?" Tanya Jeff penasaran. "Kegiatannya banyak Pa. Dari sahur nggak boleh tidur lagi. Lanjut tadarusan sampai subuh. Habis subuh siap siap mandi terus istighosah. Habis istighosah sholat dhuha terus baru masuk kelas dan sorenya ngaji lagi." Jawab remaja itu. "Untung tidak mondok." Ucap Jason di angguki saudaranya yang lain. "Kalian baru beberapa hari aja sakit minta pulang." Sahut Jihan. "Tersiksa jauh dari Ibu. Kita nggak terbiasa." Jawab Jaffan bergidik mengingat momen masa kecilnya yang di paksa sang Ayah untuk mondok. "Ini kali pertama Papa puasa ya?" Tanya Jihan di angguki oleh suaminya. "Dan puasa kali ini Papa kalau bisa full Mama kasih hadiah apa?" Tanya Pria itu menggoda. "Puasa aja dulu hadiahnya belakangan. Semuanya nanti dapat bukan cuman Papa." Jawab Jihan. "Beneran Bu? Ibu bungkus hadiahnya kan?" Jaffan begitu antusias. "Ya. Tahun ini Ibu bungkus biar surprise." Mereka tersenyum kemudian memeluk Ibunya. "Lepasin." Juma mulai lagi mode posesif namun tidak di hiraukan. Jeff tersenyum karena sang istri yang mendapat cinta yang luar biasa dari anak anaknya.
__ADS_1