
Jihan menghampiri anak anak dan suaminya yang sibuk menyiapkan sarapan di dapur. "Kalian masak apa?" Tanyanya. "Mama kenapa kesini sih. Istirahat di kamar saja." Ucap Jeff menghampiri istrinya. "Bosan Pa." Jawab Jihan sambil duduk nyaman di kursi. "Lagi masak Omlet, nasi goreng sana pancake Bu." Jawab Jalwa sambil tersenyum. "Mama mau sesuatu?" Tawar sang suami. "Buah ya. Papa ambilkan." Tanpa menunggu jawaban dari istrinya Jeff langsung bergegas. Pria itu mengobrak abrik kulkas lalu kembali lagi dengan buah buahan. "Mau makan apa Ma?" Tak menjawab Jihan menunjuk jeruk di depannya lalu dengan segera di kupaskan oleh sang suami.
Semuanya sedang sarapan bersama. Jason dan Julian kembali dengan membawa satu dus besar. "Apa itu?" Tanya Jihan yang sedang makan buah di suapi suaminya. "Susu ibu hamil." Jawab keduanya kompak. "Susunya masih kenapa beli lagi dan sebanyak itu." Jihan menggelengkan kepala. "Sengaja Papa beli macam macam rasa kalau Mama bosan." Jawabnya. "Lagian Mama kan nggak doyan makan. Mual." Jeff tersenyum melihat wajah terkejut istrinya yang begitu lucu dan menggemaskan. "Itu apa lagi?" Jihan di buat shock lagi saat Jaffan, Jordan dan Dika kembali membawa masing masing satu dus. "Itu cemilan sehat buat Mama." Lagi lagi Ia ingin menjerit mendengar jawaban suaminya. "Ini berlebihan." Gumam Jihan menatap pria di sampingnya dengan heran. Kehamilan sang istri yang begitu disyukuri membuat Jeff melakukan apapun untuk istrinya. Memang jika orang melihat akan menyimpulkan jika ini berlebihan. Namun sama sekali tidak untuk pria itu. Malah Ia merasa senang melakukannya.
Jeff menggandeng tangan istrinya sambil menggendong Juma. "Kita berangkat ya." Ucap Pria itu berpamitan. "Iya. Hati hati." Jawab Mereka mengantarkan kedua orang tuanya sampai ke depan dan menunggu sampai mobil keluar dari halaman.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit Jeff tak melepaskan tangannya dari sang istri. Ia merangkul pinggang ramping Jihan dan melayangkan tatapan tajam pada para dokter yang tersenyum pada Istrinya.
Jihan bertegur sapa dengan dokter kandungan langganannya. Wanita itu diarahkan untuk berbaring dan Jihan sudah hapal selanjutnya bagaimana karena Ia sudah hamil dua kali. Berbeda dengan Jeff yang begitu antusias mengurusi istrinya yang tengah mengandung. Maklum, ini adalah pengalaman pertamanya. Dulu saat masih dengan Mama Jordan semua tentang wanita itu Ia serahkan pada pelayannya. Ia hanya ingin wanita itu melahirkan Jordan yang dikira putranya dan setelah itu usai. "Kandungannya baik. Oh tunggu. Kembar." Ucap dokter wanita paruh baya itu sembari menunjuk layar monitor. "Juma punya adik kembar?" Tanya Bocah itu di jawab anggukan. Jeff benar benar tak tahan. Kebahagiaannya membuncah hingga air matanya tak terbendung lagi. "Terimakasih Ma." Ucapnya menangis haru sambil mengecup kening sang istri penuh cinta.
Jeff mendengarkan wejangan dari dokter sendiri karena Jihan sedang menemani Juma di depan. Ada unsur dewasa dalam hal ini membuat pria itu memutuskan untuk membiarkan istrinya keluar bersama si bungsu. "Baiknya Nyonya Jihan istirahat total. Jangan sampai kelelahan karena bisa berakibat fatal pada kesehatannya. Saya sudah menjadi dokter kepercayaannya semenjak hamil pertama jadi saya paham betul bagaimana kodisinya." Dokter itu menuturkan. "Kalau berhubungan suami istri dok?" Tanya Jeff tanpa malu sama sekali. "Untuk aktifitas ranjang agak di kurangi. Boleh melakukan tapi harus pelan karena kondisi kandungan Nyonya masih lemah. Vitaminnya jangan lupa diminum. Penuhi nutrisi harian. Makan makanan sehat seperti buah dan sayuran. Buat istri senyaman mungkin jangan sampai merasa tertekan." Jelas dokter panjang lebar. "Baik Dok. Terimakasih." Ucap Jeff kemudian segera berpamitan pulang.
__ADS_1
"Makan dulu yuk." Jeff meletakkan makanan yang di bawanya di meja depan tempat mereka duduk. "Belum lapar Pa." Jawab Jihan. Pria itu menghela napas kemudian membantu istrinya minum susu. "Masa sudah Papa bawakan Mama nggak mau makan." Ia memelas berharap istrinya bisa luluh. "Makan buah saja." Jawabnya. Jeff mengangguk segera menyuapi istrinya buah buahan yang sudah tersaji di mangkuk.
Selesai mengurusi Jihan makan Jeff beralih mengeluarkan cemilan agar istrinya mencoba. "Mau yang mana dulu?" Tawar Pria itu setelah membuka kardus. "Yang coklat." jawabnya. Pria itu mengangguk segera membukakan kotak kecil itu lalu menyuapkan kepada Jihan. "Enak?" Tanyanya di jawab anggukan. "Aku bisa makan sendiri Pa." Ucap Sang istri namun Jeff bersikeras menyuapi.
"Ayo tidur siang dulu Ma." Jihan seketika menggeleng menanggapi suaminya. "Nggak ngantuk Pa. Masih mau disini." Jawab wanita itu. "Ayo istirahat." Sikap seenaknya Jeff sedang kumat. Ia menggendong istrinya untuk di bawa ke dalam lalu meletakkan di ranjang dengan hati hati. "Papa tutup gordennya dulu." Ia bergegas pergi setelah meninggalkan kecupan di bibir sang istri.
__ADS_1
Jeff kembali lagi. Kini pria itu meletakkan kepala Sang istri di lengan kekarnya dan tangan satunya mengusap perut Jihan dengan lembut. "Kakinya capek nggak Ma? Papa pijitin ya." Ucapnya. Jihan mencekal tangan sang suami. "Tidak usah. Tidak capek kok." Jeff kembali lagi ke posisinya semula. "Nggak nyangka dapat dua sekaligus." Ucapnya sambil tersenyum mengecup pipi sang istri. "Papa senang?" Tanya Jihan. "Tentu saja. Mulai sekarang Mama nggak boleh ke kantor. Nggak boleh keluar tanpa Papa. Mama harus tetap di rumah." Kata Jeff membuat sang istri protes. "Sudah jangan protes Ma. Ayo tidur." Jawabnya memeluk wanita itu.