
Keadaan Jihan juga berangsur membaik. Infus di tangannya sudah di lepas kemarin. "Kenapa Papa belum mandi juga sih. Ini sudah hampir jam tujuh." Ucap wanita itu melihat Jeff berjalan kearahnya sembari membawa segelas susu. "Papa nggak ke kantor. Temani Mama di rumah saja." Jawab Pria itu mengecup kening istrinya lalu ikut duduk untuk membantu Jihan minum. "Ke kantor aja. Tadi kan sudah di telponin sekertaris Papa karena ada meeting penting." Jeff menghela napas. Sebenarnya memang ada meeting penting. Namun Ia juga tak tega jika harus meninggalkan istrinya. Meskipun ada banyak orang di rumah tapi tetap saja hatinya tidak tenang. "Mama gimana?" Tanyanya sambil membelai lembut wajah sang istri. "Jangan khawatir. Di rumah banyak orang. Ayo mandi dulu. Bajunya aku siapin." Ucap Jihan. "Biar Papa aja." Jawab Jeff bergegas.
Jihan tersenyum saat Juma berpamitan untuk berangkat sekolah karana sangat lama. Jaffan dan Jalwa berkali kali menghela napas karena takut telat menunggu si bungsu. "Nanti kakak telat loh. Ayo bergegas." Ucap wanita itu seakan tau apa yang dikhawatirkan anak anaknya. "Juma berangkat Bu." Ia melepaskan pelukan dan mengecup pipi sang Ibu. "Iya. Belajar yang baik." Jawab Jihan membalas ciuman putranya. "Kami berangkat Bu." Dika, Jordan dan yang lainnya ikut berpamitan sedikit terburu buru karena waktu di habiskan Juma. "Iya. Hati hati." Jawab Jihan membalas ciuman mereka.
Jeff menghampiri istrinya yang duduk sendiri. "Anak anak sudah berangkat?" Tanya Pria itu sembari membawa bajunya. "Sudah." Jawab Jihan lalu berdiri membantu sang suami untuk berpakaian. "Ini kenapa merah?" Tanya Jeff sambil mengusap pelipis istrinya. "Gatel." Jawab Jihan mengancing kemeja lalu memakaikan dasi. "Ma. Mama udah enakan?" pria itu memainkan kancing daster istrinya seperi anak kecil. "Lumayan." Jihan meraih jas dan segera memakaikan. "Memangnya kenapa?" Ia bertanya pada sang suami sambil menyemprotkan parfum sebagai sentuhan akhir. "Enggak." Jawab Jeff tersenyum. Ia mengurungkan niatnya untu menanyakan sesuatu yang lebih pada sang istri.
__ADS_1
"Jangan kemana mana. Kalo butuh sesuatu minta Bibi. Kalau ada apa apa segera telpon. Dan selalu pegang ponsel Mama. Jangan sampai tidak karen Papa sewaktu waktu akan hubungi. Papa berangkat dulu." Jeff memberikan wejangan pada istrinya sebelum berangkat. "Dengar nggak Ma?" Tanya Pria itu yang masih mendekap erat tubuh Jihan. "Dengar." Jawabnya singkat. "Papa berangkat." Ulangnya lagi setelah itu mencium lembut bibir sang istri dan bergegas pergi setelah mengucapkan salam.
"Huft." Jihan menghela napas. Ia melangkahkan kaki keluar kamar karena merasa bosan. Tubuhnya belum benar benar enakan. Kadang juga masih pusing dan mual. Tapi jika di kamar terus menerus juga bukan hal baik. Ia butuh udara segar.
Baru saja keluar dari lift langkah Jihan terhenti mendengar suara bariton dari Papanya. "Mau kemana kamu?" Tanya Pria paruh baya itu. "Jihan bosen di kamar Pa. Jihan mau duduk di teras belakang." Jawabnya. "Balik ke kamar lagi. Papa nggak yakin kamu cuman mau duduk saja." Wanita hamil itu menggeleng. "Ayolah Pa. Hanya duduk. Di kamar terus selama tiga minggu rasanya nggak enak. Papa bisa bayangkan?" Tanyanya.
__ADS_1
Jihan benar benar tak tahan. Wanita itu bangkit dari duduk kemudian mengecup pipi Papanya. "Sebentar aja Pa." Ucapnya bergegas pergi. "Iya iya tapi hati hati." Tegur Papa sembari menyusul putrinya.
Keduanya menyusuri jalan di taman belakang rumah yang begitu sejuk dan rindang karena banyak pepohonan di samping kanan dan kiri. "Suami kamu tumben ke kantor." Ucap Papa karena selama istrinya hamil Jeff selalu di rumah. Pria itu sesekali di datangi sekertarisnya untuk menandatangani berkas dan melihat laporan. "Ada meeting penting yang katanya dia sendiri harus hadir Pa." Jawab Jihan.
Jeff baru saja selesai meeting. Pria itu langsung duduk di kursinya sembari mencoba menghubungi sang istri untuk yang kesekian kalinya. "Kenapa nggak di angkat sih." Gerutunya sambil menghela napas. "CCTV di rumah kan ada." Ucap Will yang sedang duduk di sofa. "Aku lupa bawa tabnya." Jawab Jeff. "Aku pulang dulu." Lanjut pria itu sembari berdiri. "Ini tandatangani di rumah. Sisanya biar aku yang urus. Besok aku ambil." Will begitu pengertian membiarkan bosnya pulang. Melihat pria itu sangat khawatir pada sang istri membuatnya Iba. "Thanks." Jeff melesat pergi dengan langkah lebarnya sembari membawa berkas yang ada di meja.
__ADS_1
Sampai di rumah, Jeff langsung menuju teras belakang karena salah satu asisten rumah tangga bilang istrinya ada disana. "Mama." Ucap pria itu langsung berhambur memeluk Jihan yang sedang duduk sendiri. "Mama. Mama kenapa keluar keluar sih. Kalau jatuh bagaimana coba. Lagian dari berangkat tadi Papa telpon nggak di jawab. Mama kemana aja?" Cerocos pria itu sembari menangkup wajah cantik istrinya. "Lupa bawa ponsel. Tadi habis jalan jalan sebentar." Jawab Jihan membuat Jeff membulatkan mata. "Jalan jalan? Kan Papa sudah bilang jangan keluyuran. Kenapa bandel banget sih. Kalau terjadi sesuatu bagaimana coba. Kondisi Mama tuh belum baik baik aja. Bahkan dokter juga belum mengizinkan Mama jalan lama lama." Omelnya. Jihan menatap wajah suaminya dengan mata yang berkaca kaca. "Oh enggak. Papa yang minta maaf. Papa terlalu berlebihan. Jangan sedih." Ucap Jeff merasa bersalah. Ia mengecup bibir sang istri kemudian memeluknya lagi. "Maaf Ma. Papa hanya khawatir."