
Empat tahun berlalu begitu cepat. Rumah tangga Jihan selalu di warnai kebahagiaan yang luar biasa. Setiap harinya wanita itu tak berhenti bersyukur atas nikmat yang telah tuhan berikan. Di tatapnya bingkai foto keluarga yang terpasang di dinding. Ia mengusap air matanya mengingat sang Papa yang sudah pergi lama. "Jihan sayang Papa. Terimakasih untuk segalanya." Gumam wanita itu.
"Ikannya besar besar. Wah...Ibu beli lagi ya?" Celoteh Jabar sambil mengetuk ngetuk akuarium besar di depannya. "Iya. Itu ikan baru Ibu." Sahut Juma yang baru datang sambil mengusap kepala adiknya kemudian memeluk sang Ibu. "Mandi terus ganti baju habis itu makan." Jihan mengecup pipi putranya. Jabar menghampiri keduanya bersama sang adik ikut berpelukan. "Kakakmu bau keringat ya?" Tanya Jeff sambil tertawa kecil melihat anaknya menjauh setelah memeluk Juma sebentar. "Iya Pa. Juma kan baru basket. Juma mandi dulu deh." Pamitnya bergegas pergi.
__ADS_1
Jihan hanya makan bersama suami dan ketiga anaknya karena yang lain masih belum pulang. Selesai menyuapi si kembar Ia beralih makan sepiring bersama Juma dan suaminya. "Heh jangan dekat dekat itu nanti kebentur loh." Tegur Jihan memperingati si kembar yang bermain di dekat guci. "Oke Ma." Jawab keduanya kompak bergegas menjauh. "Ibu takut kebentur atau gucinya pecah?" Tanya Juma sambil tertawa kecil. "Dua duanya. Mahal itu." Jawab Jihan. "Em. Pa beli krupuk yuk sekalian rujak petis. Enak deh. Udah lama nggak makan." Lanjutnya. "Rujak petis? Apaan itu?" Tanya Jeff tidak mengerti. "Rujak pakai bumbu kacang." Jawab Jihan. "Biar nanti Papa suruh bibi bikinin aja." Ucap Jeff agar istrinya tak perlu repot repot keluar.
Jeff menghampiri Asisten rumah tangga di dapur. "Bi. Tolong bikinin rujak petis ya sama kerupuk juga." Ucap Pria itu. "Buat Bu Jihan ya pak?" Tanyanya di jawab anggukan. "Saya belanja dulu kalo gitu. Ada mau apa apa lagi pak?" Jeff menggeleng. "Itu saja." Jawab pria itu bergegas pergi.
__ADS_1
Sore hari semuanya berkumpul menemani Jihan dan Juma yang sedang makan rujak petis begitu lahap. "Enak ya Ma?" Tanya Jeff sambil mengusap sudut bibir istrinya. "Enak banget." Jawab Jihan tak berhenti mengunyah. Wanita itu kemudian meneguk es teh manis yang begitu menyegarkan. "Ibu, Papa. Ada yang mau lamar Jalwa." Ucap gadis itu malu malu. "Suruh datang." Jawab Jihan. "Kapan waktunya dibicarakan biar kita siap siap." Lanjutnya di tanggapi anggukan. "Bagus. Segerakan menikah jika sudah ada calonnya." Sahut Jeff. "Siapa yang mau lamar kamu? Dokter itu ya?" Jason menggoda adiknya. "Iyalah. Siapa lagi." Sahut Julian. "Terus kalian kapan lamar anak orang?" Tanya Jaffan tiba tiba. "Kamu sendiri?" Tanya Jason dan Julian bersamaan. "Duh jadi dewasa nggak asik." Keluh Jordan. "Iya. Banyak yang harus ini itu. Ibu kalau nggak nikah memangnya kenapa sih?" Tanya Dika membuat Jihan tersedak. "Pelan pelan Bu." Juma bergegas membantu Ibunya minum. "Nikah itu banyak hukumnya tergantung situasi dan kondisi. Memang kalian kalau di ceramah kemana saja?" Dika dan Jordan terkekeh pelan. "Ngantuk Ma." Jawabnya. "Kebiasaan ngantuk dengerin ceramah. Kalau nonton bola aja betah." Sindir Jaffan. "Eh iya Juma. Kamu sering di tanyain anaknya pak Bagas yang teman satu kelas kamu tuh. Siapa namanya? Kanza? kayanya naksir kamu deh." Jason menggoda adiknya. "Apaan sih. Basi tau nggak." Jawabnya sambil berdecak kesal. "Cantik kok. Mau ketemu kamu aja sampai keseringan ke cafe kakak." Julian ikut ikutan. "Agresif kaya buaya. Buat kakak aja kalo mau. Juma ma ogah. Lagian kakak kakak tuh buruan pada nikah biar hengkang dari rumah biar Juma manja manja sama Ibu." Ya begitulah Juma, semakin dewasa sikapnya dingin, cuek dan hangat hanya kepada Ibu atau Papanya saja. Jalwa memukul lengan adiknya. "Ada kami nggak ada kami nggak ada bedanya kamu tetep manja. Lihat meluk Ibu terus begitu." Kesalnya. "Sudah. Kok pada ribut." Lerai Jeff.
Tepat tengah malam dua insan baru saja menyelesaikan penyatuan. Mereka saling berpelukan dengan hangat untuk mencurahkan rasa cinta dan kasih sayang. "Terimakasih Ma. Papa sangat bahagia. Dengan adanya Mama membuat hidup Papa terasa lengkap. Meskipun kita sama sama pernah berumahtangga sebelumnya namun Mama cinta pertama Papa. Terimakasih atas segala yang Mama berikan. Itu semua sangat berharga." Ungkap Jeff menatap lekat wajah sang istri. "Terimakasih juga untuk Papa yang sudah menerima anak anak dengan baik. Menjadi sosok Ayah yang luar biasa. Yang memperlakukan mereka seperti anak sendiri meskipun tidak ada ikatan darah. Terimakasih untuk perjuangannya menjadi kepala keluarga yang baik, pengayom dan dewasa. I love you." Jihan mengecup bibir suaminya. "I love you more." Jawab Jeff mencium bibir istrinya dalam dalam.
__ADS_1