
Jeff rencananya akan langsung pulang. Namun panggilan telpon yang masuk ke ponselnya membuat Ia mengurungkan niat. Setelah beberapa saat berkomunikasi pria itu langsung memerintahkan supir pribadinya untuk mengantar ke sekolah.
Begitu sampai Jeff bergegas turun. Pria itu melangkah lebar sambil tak berhenti menggerutu dalam hati. "Mama." Ia terkejut melihat istrinya sudah duduk di ruang BK sedang berbincang bersama salah satu guru. "Kenapa Mama disini." Ucapnya ikut duduk. "Maaf Pak. Saya yang menghubungi." Jawab wanita paruh baya yang sedang mengobrol dengan istrinya tadi.
"Sudah hadir Bapak dan Ibu sekalian langsung saya jelaskan." Ucap guru BK ketika semua orang tua murid yang bermasalah sudah berkumpul. "Anak Ibu dan bapak sekalian terlibat pertengkaran. Bukan hanya sekali dua kali tapi ini cukup sering. Sekolah sudah memberikan sanksi tegas namun sepertinya tidak ada perubahan. Dengan berat hati saya akan menskors anak yang terlibat." Jelasnya panjang lebar.
__ADS_1
"Boleh saya tanya anak anak dulu Bu?" Ucap Jihan langsung di jawab anggukan cepat. Wanita itu beranjak dari duduk menghampiri anak anak yang sedang berdiri termasuk Jordan yang juga ada di sana. "Mama." Lirihnya sambil menunduk. "Cerita yang sebenarnya seperti apa?" Tanya Jihan karena menurutnya sekolah tak bisa dengan tuntas mengusut kasus seperti ini. "Jawab dengan jujur tak perlu di tutup tutupi. Toh kalian sama sama dihukum kan. Jadi lebih baik ceritakan yang sebenarnya." Lanjutnya karena tak kunjung mendapat jawaban. "Kami menghina Jordan tak punya Mama tante." Jawab salah satu dari mereka. "Jordan tidak terima pukul kami dan terjadi perkelahian." Lanjut yang lain menambahkan. "Jangan diulangi lagi lain kali. Jordan punya Mama. Saya Mamanya." Ucap Jihan tidak terima.
"Maaf Ma." Kata Jordan dalam perjalanan pulang. Remaja itu sedang di obati Mamanya. "Bagus. Sekarang di skors. Besok besok ulangi lagi saja sekalian di keluarkan biar nggak sekolah." Sahut Jeff yang sedaritadi menahan amarahnya. "Maaf Pa." Lirihnya. "Nyusahin aja. Dari dulu kamu tuh pembuat onar. Berapa kali dapat panggilan ke sekolah gara gara kelakuan kamu itu. Bosen Papa dengernya." Omel pria itu panjang lebar. "Papa emang bisanya marah marah. Coba kalau Papa ngertiin Jordan juga nggak akan seperti ini. Selama ini Papa tuh nggak ada waktu buat Jordan. Sibuk sama urusan Papa sendiri. Papa egois." Ia bergegas turun dari mobil meninggalkan kedua orang tuanya.
"Mama mau ngapain?" Tanya Jeff melihat istrinya menuju ke kamar Jordan sambil membawa piring berisi makanan. "Mau liat Jordan. Daritadi belum makan dan nggak mau keluar kamar." Jawabnya. "Biarin aja. Biar dia makan sendiri." Jawab Jeff. "Papa apaan sih. Kasian tau." Tak menghiraukan suaminya wanita itu bergegas masuk.
__ADS_1
"Ibu." Juma langsung memeluk Jihan saat wanita itu baru keluar dari dapur. "Sudah mandi ya." Ia mengusap usap kepala putranya dengan lembut. "Juma mau eskrim." Ia menggandeng tangan Ibunya sambil berjalan.
Jeff menghampiri istri dan anaknya yang sedang makan eskrim bersama di kamar. "Mama nggak tidur siang?" Tanya Pria itu ikut duduk di ranjang setelah mengecup kening istrinya dengan lembut. "Belum ngantuk." Jawab Jihan masih sibuk makan eskrim bersama Juma.
Beberapa saat berlalu pintu terbuka. Jordan berjalan menghampiri ranjang Mamanya. "Pa. Ma. Jordan minta maaf." Lirih remaja itu sambil menunduk. "Mama sudah maafkan sayang. Lain kali jangan diulangi lagi." Jawab Jihan. "Papa juga sudah maafkan. Papa minta maaf juga karena kurang pengertian ke kamu." Jawab Jeff memeluk putranya. "Jordan juga minta maaf sudah ngomong macam macam sama Papa." Ia membalas pelukan dari Papanya.
__ADS_1
Jeff menemani istrinya tidur siang setelah Jordan mengajak Juma entah kemana. Pria itu mendekap tubuh sang istri dengan hangat sembari mengusap punggung Jihan. "Hachu..." Ia panik karena istrinya bersin bersin. "Mama pilek ya." Jeff mengusap hidung mancung sang istri yang memerah. "Kebanyakan minum es sih. Minum obat kan juga nggak bisa karna Mama lagi hamil." Ucapnya. "Papa bikinkan jahe hangat ya." Lanjutnya pria itu menawari. "Nggak usah. Mau tidur saja." Jawab Jihan. "Yasudah tidur." Hanya bisa menurut, Ia mengecup kening istrinya membiarkan Jihan istirahat.