Lembaran Baru Hidupku

Lembaran Baru Hidupku
Teman Laknut


__ADS_3

Hari ini semuanya menjenguk Jihan setelah mendapat kabar jika wanita itu sakit. Baru saja beberapa langkah masuk ke ruang keluarga tempat sahabatnya berada Satria langsung di sambut lemparan bantal. "Duduk?" Ucap Jihan dengan tegas sambil menatap sekertarisnya. Pria itu mengangguk lalu duduk diikuti yang lainnya.


"Suami aku salah apa Ji?" Tanya Mia. Tak menjawab. Dengan tatapan tajamnya Jihan memutar video Satria yang sedang mengumpatinya membuat pria itu membeku di tempat. Ia melirik Dina yang hanya menampilkan eskpresi datarnya. "Dina..... Keterlaluan dia." Gerutu Satria dalam hati. "Hehe....Ya kan aku cuman mengungkapkan kekesalan Ji. Lagian kamu keterlaluan sih. Masa aku sampai di marah marahin sama suami kamu." Ia mencoba menjelaskan. "Yaudah aku maafkan. Lagian ini kan cuma kesalahan kecil. Gaji kamu sebulan cukup kok buat bayar." Jawab Jihan membuat Satria dan istrinya membulatkan mata. "Ji. Mana bisa begitu. Kamu jangan tega dong. Masa aku nggak di gaji sebulan. Maaf ya." Ucapnya meminta belas kasih. "Coba minta maaf ke suami aku." Satria menelan ludahnya susah payah. Ia takut dengan Jeff. Melihatnya saja tak berani apalagi ngomong. "Kamu sakit begini makin galak." Ucapnya pelan. "Apa?" Jihan menaikkan suaranya. "Hehe. Enggak."

__ADS_1


Beberapa saat berlalu Satria tak kunjung beranjak. "Nggak berani?" Tanya Jihan. "Berani kok." Jawab Satria sambil menarik dan membuang napas agar rileks. "Kenapa masih disini?" Tanyanya lagi. "Masih atur kata kata. Mau ngomong apa gitu. Kalo salah lagi kan sama aja aku di bunuh dua kali." Lirihnya membuat semua yang ada disana menahan tawa.


"Ada apa Ma?" Tanya Jeff baru datang ikut duduk setelah mengecup kening istrinya. "Bang Satria mau ngomong tuh." Ucap Jihan. "Ngomong apa?" Tanya Jeff menatap sekertaris Istrinya. Nada suara pria itu sudah berbeda. Tak selembut ketika berbicara dengan Jihan tadi. "Emmm....Anu.....Saya....Saya...." Ia jadi gugup membuat semuanya tertawa kecuali Jeff yang masih setia dengan wajah datarnya. "Saya apa?" Tegasnya tak sabaran. "Saya minta maaf karena mengumpati bapak." Jawab Satria cepat karena terkejut. "Maafkan nggak ya..." Jeff pura pura berfikir. "Maafkan lah Pak. Kalau nggak hangus gaji saya sebulan. Kan kasihan istri nanti nggak bisa shoping." Satria memelas. "Ih apaan sih." Mia tidak terima dengan penuturan suaminya. "Bantuin napa sih Ma." Bisik pria itu namun istrinya acuh. "Saya maafkan...." Satria tersenyum penuh makna. "Makasih Pak." Ucapnya. "Belum selesai. Ambilin kelinci anak saya yang lepas." Ia melanjutkan ucapannya yang tadi. "Kok saya lagi Pak. Reno, Adit kan ada. Pak Jeff kan bisa suruh pak Bon atau yang lain." Satria mencari alternatif lain. "Yang butuh maaf siapa?" Tanya Reno. "Sialan." Umpat Satria pelan. "Ayo bergegas." Jeff berdiri dari duduk kemudian melenggang pergi. "Punya teman pada laknut semua." Gerutunya bergegas menyusul.

__ADS_1


"Ibu. Kelinci Juma sudah masuk kandang." Ucapnya sambil memeluk wanita hamil itu. "Makasih Om." Lanjutnya. Satria menganggu sambil tersenyum kemudian ikut duduk setelah mencuci tangan. "Dina mana?" Tanya Mia baru kembali dari toilet. "Pulang duluan tadi." Jawab Adit. "Anaknya cowok atau cewek Ji?" Dewi mengusap perut sahabatnya. "Nggak tau. Sengaja biar jadi kejutan aja." Jawab Jihan.


Jeff menghampiri istrinya. "Minum dulu Ma." Ucap Pria itu ikut duduk sembari memberikan segelas susu. "Nggak ada es batunya?" Tanya Jihan. "Mama kan masih sakit. Nggak ada es batu." Jawab Pria itu begitu lembut sembari memberikan ciuman di kening sang istri. Sikap Jeff yang begitu manis dengan Jihan berbanding terbalik ketika berhadapan dengan orang lain. "Papa mau jemput Jordan sama Dika dulu ya Ma. Nanti kalau ada apa apa atau pengen sesuatu telpon aja." Ucapnya berpamitan kemudian pergi setelah mencium sang istri. "So sweet. Noh tiru suami Jihan. Jangan kemana mana main ngacir pergi aja." Kesal Mia memukul bahu suaminya. "Iya Ma iya." Jawab Satria pasrah.

__ADS_1


"Kamu pakai pelet Ji?" Tanya Adit heran dengan Jeff yang begitu lembut dengan istri. "Nggak. Ngaco deh." Jawab Jihan. "Memangnya kamu sama istri nggak begitu?" Ia balik bertanya. "Boro boro begitu. Kalau mau pergi ya tinggal pergi. Hamil juga aku bikin apa apa sendiri. Manisnya cuma kalau mau minta jatah aja." Jawab Dewi. "Mama sih kalau Papa romantis dikit dibilang kesambet." Adit berdecak. "Kalian ini ada aja yang diributin." Lerai Mia sebelum berlanjut. "Oh. Iya Ji. Selama ini kita nggak pernah tau kedua mertua kamu." Satria penasaran. "Sudah meninggal lama. Kira kira beberapa bulan sebelum suamiku nikah dengan almarhum istrinya." Jawab Jihan. "Oh...pantesan. Mereka meninggalnya kenapa?" Tanya Carissa. "Kecelakaan pesawat. Satu keluarga rencananya mau datang kesini. Tapi naas pesawatnya kecelakaan." Lanjutnya bercerita tentang keluarga sang suami.


__ADS_2