
Ayah sudah kembali pulang kerumah untuk menjemput Mamah dan Tirta untuk ikut menjenguk Bu Maya yang sedang di rumah sakit jiwa. Ayah pun masuk kerumah untuk mengajak Mamah dan Tirta, tidak lupa ia juga meminta agar Mamah dan Tirta membawa persiapan untuk melanjutkan misi penyelamatan Nana.
"Ciee, yang abis menjenguk Bu Maya enggak bilang-bilang dulu sama Mamah!" sindir Mamah kepada Ayah, rupanya Mamah masih memiliki perasaan cemburu kepada Ayah.
Ayah yang merasa kalau istrinya kini sedang ngambek segera mencoba menenangkan suasana, "Maafkan Ayah, Mah! Ayah tidak bermaksud apa-apa! Ayah hanya ingin memberitahukan kabar Pak Rahman kepada Bu Maya!" jawab Ayah mengutarakan alasan yang sebenarnya kepada Mamah.
Ayah tidak mau kalau nanti Mamah dan Tirta ikut menjenguk Bu Maya akan membuat suasana menjadi lebih dramatis. Sebab Mamah nampaknya masih memikirkan ucapan Bu Maya saat mereka menemukan Bu Maya di rumahnya kemarin malam. Ayah takut kalau nanti Mamah akan terus menanyakan apa maksud ucapan Bu Maya kemarin. Jika itu terjadi, maka Bu Maya bisa saja mengamuk di rumah sakit.
"Kalian sekarang ikut Ayah menjenguk Bu Maya di Rumah Sakit Jiwa! Mamah, Ayah minta nanti kamu jangan mempertanyakan masalah ucapan Bu Maya kemarin kepadanya nanti ya!" pinta Ayah kepada Mamah.
Sebetulnya Mamah memang masih penasaran akan hal tersebut, akan tetapi Mamah merasa kalau ucapan Ayah ada benarnya. Jika ia terus mempertanyakan maksud ucapan Bu Maya kemarin malam, tentu akan membuat Bu Maya semakin depresi.
"Ayah tenang aja, Mamah enggak akan mempertanyakan hal itu ke Bu Maya! Lagi pula, Mamah sudah enggak penasaran kok!" jawab Mamah mencoba meyakinkan Ayah.
Ayah tersenyum ketika mendengar istrinya berkata seperti itu. Akhirnya mereka bertiga segera bergegas pergi menuju rumah sakit jiwa tempat Bu Maya menjalani perawatan kejiwaan.
#### #### #### #### #### #### ####
Sementara di rumah sakit jiwa tempat Bu Maya menjalani perawatan. Dokter Arman selesai membuat surat pengajuan untuk melakukan pemulihan dan perawatan terhadap pasien rumah sakit jiwa yang bernama Bu Maya. Ya benar sekali, kini Bu Maya akan menjalani perawatan privat dari dokter Arman. Dokter Arman merasa kalau sepertinya Bu Maya tidaklah gila. Dokter Arman merasa kalau Bu Maya mengalami gangguan psikis diakibatkan oleh makhluk yang ia sendiri belum tahu seperti apa wujudnya. Memang, dua belas tahun menjadi Dokter Kejiwaan membuat Dokter Arman sangat peka terhadap tingkah laku pasiennya. Ia bisa menebak pasien tersebut benar sedang tergamggu jiwanya atau tidak hanya dengan mengajak pasien berdiskusi dan mengobrol santai.
"Bu Maya, untuk mengikuti prosedur yang berlaku, anda tetap diharuskan menggunakan borgol saat memasuki mobil ambulance dan saat menjalani perawatan di rumahku!" ucap Dokter Arman menjelaskan.
"Hmmm.. kalau begitu, bagaimana aku bisa membantumu jika tanganku masih terbelenggu dengan borgol?!" tanya Bu Maya dengan nada suara pelan.
__ADS_1
"Nanti kalau sudah sampai di rumahku, baru akan ku buka semua borgolnya, Bu!" ucap Dokter Arman, Bu Maya melangkah ke mobil pribadi milik Dokter Arman dipandu oleh salah seorang suster di rumah sakit jiwa itu. Kini Bu Maya sudah berada di dalam mobil Dokter Arman.
Setelah Bu Maya sudah berada di dalam mobil, kini giliran Dokter Arman yang berjalan memutari mobil menuju ke kursi pengemudi. Dibukanya pintu mobil oleh Dokter Arman.
"Ceklek"
Dokter Arman kini masuk ke dalam mobil dan mengambil posisi mengemudi. Segera ia mengenakan sabuk pengaman agar tidak ditegur oleh Pak Polantas di jalanan kota.
"Duduklah dengan nyaman dan nikmati perjalanan, Bu!" ucap Dokter Arman.
Lalu Dokter Arman mengambil kunci mobil yang ia simpan di saku celananya. Dimasukkannya anak kunci itu ke rumah kunci yang berada di area Setir pengemudi. Dihidupkannya mobil tersebut oleh Dokter Arman.
"Gruuuuuuummmmmmmm"
Andai saja jika ia tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh Dokter Arman untuk mengetes tingkat logika milik Bu Maya, pasti Bu Maya akan tetap mendekam di Rumah Sakit jiwa. Dokter Arman adalah pribadi yang baik dan cerdas. Ia membuat pertanyaan-pertanyaan yang menggunakan logika untuk mendeteksi tingkat kesembuhan dan kewarasan pasien. Karena orang yang sakit jiwa akan sulit menggunakan logikanya untuk mencerna suatu permasalahan. Orang-orang dengan gangguan jiwa cenderung akan meluapkan emosinya jika berada dalam keadaan yang membuat dirinya harus berpikir lebih intens. Metode itulah yang Dokter Arman gunakan untuk mengetahui tingkat kewarasan dari pasien. Jika menurutnya pasien sudah sembuh, maka pasien diperbolehkan untuk pulang.
"Saya masih belum mengerti kenapa anda bisa dibawa ke rumah sakit jiwa, padahal anda dalam keadaan cukup waras?" tanya Dokter Arman, dokter Arman tidak berkata kalau Bu Maya itu sudah waras, akan tetapi ia menyebutnya dengan kata cukup waras.
"Entahlah! Banyak hal-hal yang janggal telah saya alami, mungkin jika saya ceritakan kepada Dokter, sepertinya Dokter Arman juga tidak akan begitu mengerti!" jawab Bu Maya.
"Saya sudah seringkali menangani pasien rumah sakit jiwa yang mengalami gangguan jiwa karena ulah makhluk halus, tapi kasus yang menimpa anda saat ini berbeda dengan kasus-kasus yang sebelumnya!" tutur Dokter Arman.
Secara tiba-tiba, Dokter Arman melempar sebuah buku catatan dokumentari berbau paranormal. Bu Maya melihat cover buku tersebut yang bertuliskan, "Membongkar Sekte Iblis di Tanah Air."
__ADS_1
"Buku itu adalah hasil karyaku selama kurang lebih lima tahun sembilan tahun!
"Aku membuat buku catatan itu berdasarkan dari banyaknya kasus-kasus gangguan jiwa yang disebabkan oleh ulah makhluk astral!-
"Beberapa diantaranya ada yang memiliki kasus sama seperti anda, tapi tidak seekstrim yang menimpa anda!" ucap Dokter Arman, ia menatap mata Bu Maya melalui cermin di atas yang biasa digunakan untuk melihat ke arah belakang.
"Apa maksudnya anda, Dok? Memangnya seekstrim apa kasus yang menimpa saya?" tanya Bu Maya, Bu Maya berpura-pura seperti hilang ingatan.
Dokter Arman yang mengetahui kalau Bu Maya sedang berpura-pura lupa langsung tersenyum dan menyindir Bu Maya.
"Saya rasa sebaiknya anda jangan berpura-pura kepada saya! Tidak akan ada yang bisa anda sembunyikan dari saya!" Ceritakan semuanya nanti tanpa ada satupun yang anda tutupi!" ucap Dokter Arman.
Sementara Bu Maya hanya terdiam mendengar ucapan Dokter Arman. Dokter Arman terus memacu mobilnya dengan kecepatan standar enam puluh kilometer perjam. Dokter Arman memang tidak begitu suka terburu-buru. Ia lebih menyukai ketenangan dan santai.
#### #### #### #### #### #### ####
Sementar itu Ayah, Mamah dan Tirta baru saja tiba di rumah sakit jiwa. Merekapun bergegas masuk ke rumah sakit usai memarkirkan motornya di parkiran khusus motor.
Ayah, Mamah dan Tirta segera menuju kamar tempat Bu Maya menjalani perawatan kejiwaan. Mereka berjalan kaki menuju kamar pasien. Akan tetapi, mereka terkejut setelah mengetahui kalau Bu Maya sudah tidak ada di kamarnya.
"Ayah, apakah kamu enggak salah kamar? Disini tidak ada Bu Maya?" tanya Mamah.
"Tidak, Mah! Ayah yakin sekali kalau kamar pasien ini adalah kamar Bu Maya!" jawab Ayah.
__ADS_1
Ayah lalu kembali melangkah keluar kamar, ia bermaksud ingin menuju resepsionis untuk menanyakan kemanakah pasien yang bernama Maya. Ayahpun telah sampai di resepsionis, dan ia mendapat jawaban kalau Bu Maya akan menjalani perawatan privat dari Dokter Arman. Ayah dan Mamah meminta alamat rumah Dokter Arman kepada mbak resepsionis. Didapati kalau Dokter Arman tinggal perumahan elite di kawasan Metland. Ayah dan Mamah bermaksud ingin mendatangi kediaman Dokter Arman, mereka masih ingin menjalin hubungan dengan Bu Maya. Bagaimanapun, mereka masih menganggap kalau Bu Maya telah menjadi tanggung jawab mereka dikarenakan Pak Rahman telah berkorban nyawa untuk mereka.