
Terdengar suara jeritan seorang perempuan yang meminta tolong. Mendengar suara tersebut, Dokter Arman segera bergegas turun dari pohon aneh tersebut. Ia mencoba mencari sumber suara itu, rupanya sumber suara itu terdengar berasal dari arah selatan. Dokter Arman pun segera berlari secepat mungkin ke arah selatan. Hingga saat ia sudah sampai di tempat sumber suara itu, ia dikejutkan dengan sebuah penampakan sosok yang membuat dirinya terkejut.
Dokter Arman melihat sosok makhluk yang tinggi besar dan berambut panjang, rambutnya terlihat sangat lengket dan mengeluarkan bau tidak sempat. Bagian dadanya mirip dengan dada manusia, namun memiliki ukuran yang besarnya tidaj wajar. Dokter Arman menebak kalau makhluk tersebut adalah sosok Kolong Wewe. Akan tetapi, kenapa sosok Kolong Wewe itu terlihat seperti sedang kesakitan. Untuk mengobati rasa penasarannya, Dokter Arman pun menghampiri sosok Kolong Wewe tersebut. Sosok kolong wewe itu terdengar merintih.
"Selamatkan! Selamatkan anak kecil itu!" ucap hantu kolong wewe yang memandangi Dokter Arman.
Dokter Arman mencoba memberanikan diri untuk bertanya, "Siapakah yang anda maksud dengan anak kecil? Apakah manusia atau makhluk halus sama sepertimu!" ucap Dokter Arman.
"Dia manusia sama sepertimu! Selamatkan dia, orang tuanya sedang berusaha untuk membawanya pulang! Aku tidak bisa menjaganya dengan baik, Algojo itu memiliki kesaktian yang luar biasa!" tutur hantu kolong wewe.
"Algojo? Sosok apa lagi itu?" lanjut Dokter Arman bertanya.
"Algojo adalah para penjaga perbatasan antara dunia arwah dengan dunia manusia, hanya saja Algojo yang menyerang kami dan membawa anak itu jauh lebih kuat dari yang aku kira! Kemampuannya nyaris mendekati campuran antara kekuatan Algojo dengan manusia, belum pernah aku menemui sosok Algojo sehebat itu!" tutur hantu kolong wewe menjelaskan.
Dokter Arman mulai berpikir kalau anak kecil yang dimaksud oleh Kolong Wewe pastinya adalah sosok anak perempuan yang sudah 3 hari lebih menghilang karena diculik oleh hantu lembu. Tapi kalau memang benar anak tersebut yang dimaksud oleh kolong wewe, itu berarti bukanlah hantu lembu yang menculiknya. Kalau bukan hantu Lembu lalu siapakah yang menculik anak tersebut?
"Sepertinya ada seseorang yang merekayasa musibah yang menimpa anak kecil itu? Mungkinkah ini ulah pengikut sekte kegelapan Illuminati?" Dokter Arman menyentuh dagunya seperti sedang memikirkan sesuatu, "Kalau memang iya, maka aku harus bisa menangkap pengikut sekte penyembah setan itu!"
__ADS_1
Dokter Arman pun pergi meninggalkan hantu kolong wewe yang masih dalam keadaan merintih. Saat ia sudah berada jauh dari hantu kolong wewe, Dokter Arman menoleh ke belakang dan ia melihat kalau hantu kolong wewe secara perlahan hancur lebur seperti debu yang tertiup oleh angin. Melihat kejadian itu, Dokter Arman merasa heran. Dokter Arman baru mengetahui kalau ternyata hantu juga bisa mati. Setelah melihat hantu kolong wewe sudah hancur lebur, Dokter Arman pergi melanjutkan perjalanannya.
#### #### #### #### #### #### ####
Sementara itu ditempat lain di dimensi alam gaib, Ayah, Mamah dan Tirta telah sadar dari pingsan setelah memasuki portal alam gaib. Berbeda dengan Dokter Arman dan Bu Maya yang terpisah setelah memasuki portal alam gaib. Ayah, Mamah dan Tirta justru mereka tetap bisa bersama-sama dikarenakan pada saat memasuki portal alam gaib, mereka memasukinya dalam keadaan saling bergandengan tangan.
Ayah yang lebih dulu sadarkan diri, lalu menghampiri Mamah dan Tirta.
"Mamah, Tirta! Apakah kalian baik-baik saja?" tanya Ayah.
"Entahlah, tapi menurut Ayah sepertinya sekarang kita sedang berada di dalam dimensi alam gaib!" ucap Ayah yang juga melihat area sekitar tempat mereka berada.
Tirta merasa ketakutan, Ayah dan Mamah mencoba menenangkan Tirta dengan memeluk Tirta. Tirta mulai bisa mengendalikan rasa takutnya, ia kini sudah sedikit berani untuk melanjutkan pencarian adiknya.
"Ayo kita harus segera menemukan Nana!" Ayah berdiri dan mengajak Mamah dan Tirta untuk kembali melanjutkan misi penyelamatan Nana.
Mamah dan Tirta bangkit dari duduk. Mereka bertiga kini sudah mengumpulkan keberaniannya kembali untuk melanjutkan pencarian Nana. Ayah berada di depan memimpin perjalanan, sementara Mamah dan Tirta mengikutinya dari belakang. Untung saja Ayah telah membawa sebuah lampu senter sehingga ia bisa menggunakan lampu senter itu untuk menerangi jalan mereka.
__ADS_1
Setelah mereka berjalan kurang lebih beberapa menit, mereka seperti mendengar suara tawa cekikikan mirip suara tawa perempuan. Suaranya terdengar lirih namun mencekam hingga menggetarkan nyali Ayah, Mamah dan Tirta. Semakin lama suara tersebut semakin terdengar lebih dekat. Hingga akhirnya mereka melihat sesosok wanita berpakaian terusan panjang berwarna merah dengan ada beberapa noda tanah di pakaiannya. Rambutnya panjang hingga menyentuh tanah. Sosok tersebut membelakangi mereka. Ayah, Mamah dan Tirta terdiam dan mencoba ingin mendekati sosok tersebut secara perlahan, hingga tiba-tiba sosok tersebut menoleh ke arah mereka bertiga.
Sosok tersebut terlihat sangat mengerikan, wajahnya rata dengan banyak luka sayatan di wajahnya yang rata. Tak hanya itu saja, sosok itupun membuka mulutnya dan memperlihatkan 4 gigi taringnya yang sangat tajam bagaikan taring harimau. Tiba-tiba sosok itu melesat terbang dan mencoba menerkam Ayah, beruntung Ayah cukup lihai sehingga bisa menghindari serangan tersebut.
"Hati-hati Ayah! Sepertinya itu adalah hantu Kuntilanak merah berjenis kelamin lelaki yang memang terkenal ganas, sebaiknya kita pergi menjauhi dia!" pekik Mamah memperingatkan Ayah.
"Kalau begitu ayo kita segera pergi menjauhinya, bagaimanapun kita sekarang sedang ada di dunia mereka! Kemungkinan kekuatan mereka akan lebih besar jika berada di dunianya!" ucap Ayah, ia mengajak Mamah dan Tirta untuk mengikutinya mencari tempat untuk bersembunyi sementara sampai hantu Kuntilanak merah berhenti memburu mereka.
Mereka bertiga berlari ke arah utara, sementara hantu kuntilanak merah terlihat terbang mengejar mereka.
"Hihihihihihihiiiiii"
Hantu Kuntilanak merah melesat bagaikan burung Elang yang ingin menyambar mangsanya. Seketika ia menculik Tirta dan membawanya terbang bersamanya. Ayah dan Mamah mencoba mengejarnya, akan tetapi Mamah tersandung sesuatu yang terasa seperti gumpalan daging yang panjang sehingga mamah terjatuh. Ia sempat berterika memanggil Ayah, akan tetapi Ayah tidak mendengarnya. Ayah tetap fokus berlari mengejar Tirta yang masih dalam cengkraman hantu kuntilanak merah.
Mamah mencoba menoleh ke belakang dan mencoba mencari tahu benda apa yang membuatnya terjatuh. Dalam samar-samar ia mencoba memperjelas penglihatannya. Ia mencoba untuk bangkit untuk mendekati benda tersebut. Betapa terkejutnya Mamah saat ia mengetahui kalau ia tersandung oleh Ular raksasa yang memiliki panjang yang tidak bisa terukur. Ia mencoba berjalan perlahan untuk menjauhi ular raksasa tersebut, namun kakinya sangat terasa sakit akibat tadi terjatuh.
Mamah kembali memandang ke arah ular tersebut, semakin lama tubuh ular itu terlihat semakin kecil. Hatinya mulai merasa tenang setelah tahu kalau ternyata ular itu bergerak menjauhi dirinya. Mamah mencoba bangkit kembali dan berjalan dalan keadaan tertatih menahan rasa sakit di pergelangan kakinya. Baru beberapa langkah, Mamah seperti mendengar suara langkah kaki dari arah belakangnya. Mamah mencoba menoleh ke belakang secara perlahan. Saat mamah sudah benar-benar menoleh ke belakang, ia kehilangan kesadarannya lantaran tiba-tiba ada sosok yang memukulnya tepat di leher kiri di bawah telinganya.
__ADS_1