LEMBU

LEMBU
Chapter 41


__ADS_3

"Tes.. tes.. tes.."


Suara air menetes terdengar cukup jelas karena suasana hening.


Bu Maya dan Dokter Arman memantapkan langkah kakinya menuju sumber suara tetesan air itu.


"Dok, Saya masih bingung kenapa anda mengajak saya untuk menghampiri suara tetesan air itu? Itu kan hanya suara tetesan air biasa!"


Bu Maya tidak mengerti mengapa Dokter Arman mengajaknya untuk mencari sumber suara tetesan air yang mereka dengar.


Sementara itu Dokter Arman terus melangkah tanpa memberikan jawaban, matanya seperti sedang mengamati sekeliling area lorong yang mereka masuki.


"Nah itu dia!"


Dokter Arman berlari menghampiri sebuah pohon yang pendek yang memiliki daun berwarna merah, pohon itu tidak ada di bumi, hanya ada di dalam gaib.


"Tuk.. tuk.. tuk.."


Bu Maya ikut berlari mengikuti dokter Arman meskipun dia belum tahu apa yang telah dilihat oleh dokter Arman.


Dokter Arman mematahkan ranting pohon berdaun warna merah tersebut seukuran kurang lebih lima puluh sentimeter, lalu dia mendekatkan batang ranting tersebut ke obor yang dia gunakan.


Seketika api dari oborpun menyambar ke batang ranting itu, kini dokter Arman mempunyai dua obor dalam genggamannya.


"Bu Maya, kemarilah! Ini adalah api obor untuk anda, batang pohon ini jika sudah terbakar maka tidak akan bisa padam lagi!"


Dokter Arman memang sudah bertahun-tahun meneliti alam gaib dan juga sekte penyembah iblis, tidak sangka kalau ternyata dirinya banyak memiliki pengetahuan akan dunia gaib.


"Jadi ini semacam api obor abadi ya! Jadi api ini tidak akan pernah padam!"


Bu Maya menerima api obor pemberian Dokter Arman dengan tangan kanannya, dia terkesima dengan Dokter Arman yang banyak mengetahui alam gaib.


"Di alam gaib, api obor ini tidak akan pernah padam, akan tetapi jika anda bawa ke bumi, maka meskipun sudah anda basahi dengan minyak sekalipun, kayu ini tidak akan bisa terbakar!"


Dokter Arman menyeringai sambil menjelaskan kemampuan batang kayu pohon yang tadi dia patahkan untuk dijadikan api obor untuk penerangan jalan.


"Sekarang ayo kita bersama-sama mendekati suara tetesan air itu, menurut pengetahuanku biasanya hantu setan keder bersemayan ditempat yang lembab dan penuh tetesan air!"


Dokter Arman langsung membalikkan badan dan kembali melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam lorong yang gelap menuju sumber suara tetesan air.


Bu Maya juga mengikutinya dari belakang, dia percaya kepada dokter Arman kalau dokter Arman pasti akan melindungi dirinya.


Beberapa menit kemudian, setidaknya seperti itulah jika menggunakan waktu di bumi.


Akhirnya Dokter Arman dan Bu Maya sudah berada di suatu tempat yang lembab, basah, dan penuh stalagnit yang meneteskan air berwarna hijau.

__ADS_1


"Tess.. tess.. tess.."


Suara air menetes semakin jelas saat mereka memasuki tempat itu, entah air apa yang menetes dari ujung stalagnit itu karena warnanya hijau seperti air kotor.


"Dok, tempat apa ini! Baunya sangat tidak sedap!"


Bu maya menutupi lubang hidungnya dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya.


"Bertahanlah, Bu Maya! Sepertinya ini adalah sarang dari makhluk halus, rata-rata makhluk halus selalu bersarang pada tempat yang kotor, lembab dan berbau busuk!"


Dokter Arman mengamati sekeliling area itu, dia seperti sedang mencari sesuatu tapi entah apa yang dia cari.


"Memang sangat sulit untuk mengerti kalian! Tapi saya sudah menghafal beberapa mantera yang mungkin bisa saya gunakan untuk melawannya!"


Tidak diketahui dokter Arman sedang berbicara kepada siapa dan dengan siapa, namun Bu Maya mencoba untuk tetap tenang dan tidak panik agar tidak mengganggu konsentrasi Dokter Arman.


"Ical peteng, teka cahya!"


Dokter Arman merapal sebuah mantera entah mantera apa itu, namun yang dia lakukan sontak membuat Bu Maya sangat terkejut.


Bu Maya sebelumnya tidak pernah mengetahui kalau ternyata dokter Arman memiliki kemampuan juga dalam hal mistis.


"Tampilake kabeh sing ora katon!"


Dokter Arman mengepalkan tangan kanannya seperti sedang hendak meninju, lalu dia hantamkan tinjunya kebawah mengenai genangan air berwarna hijau.


Seketika sinar terang benderang itu menerangi seisi area tersebut, kini area yang gelap itu kini berubah menjadi sangat terang dan berwarna putih.


Akibat sinar terang itu, terlihat jelas sekali air berwarna hijau yang menetes dan menggenang dibawah.


Tak lama kemudian Dokter Arman menghentakkan kembali tinjunya kebawah dan menghasilkan energi kejut yang menyebar ke seluruh penjuru hingga mengenai sesosok makhluk yang terlihat tembus pandang.


"Bzzzt... bzzztt..."


Rupanya setelah terkena gelombang energi itu, makhluk transparan itu kini perlahan mulai terlihat wujudnya oleh Dokter Arman dan Bu Maya.


Bu Maya mulai merasa takut saat dia melihat postur tubuh dari makhluk itu yang sangat besar dan berwarna abu-abu.


Makhluk itu memiliki 4 buah mata di wajahnya dengan mulutnya yang lebar dan hidungnya yang hampir mirip dengan seekor babi, penampakannya sangat menyeramkan.


Akhirnya dalam beberapa detik, makhluk itu sudah terlihat seluruh wujudnya.


"Lihatlah, Bu Maya! Itu adalah sosok hantu setan keder! Dia sebenarnya ras siluman yang hobi memakan manusia!"


Dokter Arman menjelaskan kepada Bu Maya identitas dari makhluk aneh yang ada dihadapan mereka saat ini.

__ADS_1


"Apa kata anda, Dok! Dia hobi memakan manusia? Kalau begitu kita harus pergi dari sini!"


Bu Maya mengajak dokter Arman untuk berlari pergi meninggalkan makhluk menyeramkan tersebut, namun dokter Arman menolak ajakan itu.


"Dokter Arman, ayo kita pergi dari sini! Bukankah tadi anda bilang makhluk itu berbahaya!" pekik Bu Maya.


Dokter Arman memberikan isyarat dengan telapak tangannya, pertanda kalau dia meminta Bu Maya untuk diam dan jangan berisik.


"Peteng murub geni. geni asalé saka neraka!"


Dokter Arman memposisikan batang kayu yang menjadi obor miliknya itu seperti sedang memegang sebuah pedang, kemudia dia berteriak.


"katon parang neraka!"


Seketika api yang membakar obor itu memanjang ke arah depan dan membentuk sebuah senjata mirip dengan golok, apakah ini ilmu golok neraka?


"Dokter Arman! Sehebat itukah anda, saya tidak menyangka...!"


Ucapan Bu Maya terhenti lantaran Dokter Arman langsung berlari ke arah sosok siluman hantu keder yang masih berdiri dihadapan mereka.


"Hiaaatttt...!"


Dokter Arman melompat dan menghujamkan golok neraka itu tepat ke arah setan keder.


Bagaikan pendekar dalam film-film silat, Dokter Arman benar-benar melompat sekuat tenaga hingga tinggi sekali.


"Srriing"


"Brrrrr"


Setan keder dengan mudah menghindari serangan dari dokter Arman, golok neraka hasil mantera dokter Arman mengenai tanah.


Tanah yang tertancap oleh golok api neraka itu langsung membara bagaikan cairan perut bumi, setan keder terkejut melihat kehebatan kekuatan itu.


"Hahaha! Kalian bangsa manusia memang cukup pandai dalam kekuatan gaib!-


"Tapi bagaimanapun kalian tetap akan kalah dari kami! Kalian hanyalah makhluk fana yang lemah!-


"Tidak akan pernah bisa kalian mengalahkan kami makhluk yang abadi hingga akhir Zaman!"


Siluman setan keder itupun langsung bergerak menyerang balik ke arah Dokter Arman, dia menggunakan kuku tangannya yang tajam bagaikan pedang samurai.


"Roaaaaarrrr"


Siluman setan keder itu mengaum saat melompat dan mengarahkan cakarnya ke arah wajah dokter Arman.

__ADS_1


Bu Maya yang melihat setan keder melakukan serangan balik merasa khawatir kalau dokter Arman akan kalah dan kehilangan nyawanya.


Sebenarnya Bu Maya ingin sekali pergi dari tempat itu, akan tetapi dia tidak tega kalau harus meninggalkan dokter Arman sendirian menghadapi siluman Setan Keder.


__ADS_2