
"Clap.. clap.. clap.."
Langkah kaki dokter Arman, Bu Maya, Tirta dan Tuyul Dino akhirnya telah sampai di lokasi yang ditunjukkan oleh tuyul Dino.
Mereka semua sedang berada didalam lorong yang cukup luas dan sedikit terang, entah siapa yang membuat penerangan ditempat itu.
Mereka semua melangkah bersama-sama menyisir lorong itu sampai menemukan suatu area yang luas dan dipenuhi oleh api obor persis dengan obor yang dibuat oleh dokter Arman.
"Kalau dilihat dari cara penataan dan teknik serta bahan kayu yang digunakan untuk membuat api obor ini, sepertinya si pelaku menggunakan teknik yang sama dengan saya!"
Dokter Arman mengambil salah satu kayu obor yang menempel pada dinding area tersebut dan mencoba untuk menganalisanya.
"Lantas memangnya kenapa kalau kayu obor itu dibuat dengan teknik yang sama dengan anda, Dok? Saya rasa bukan hanya anda satu-satunya yang bisa memiliki kesaktian seperti itu bukan?"
Bu Maya menjawab ucapan dokter Arman dan sekaligus menyampaikan opini yang ada didalam pikirannya.
Dokter Arman lalu beranjak dari dinding area tersebut, lalu dia menatap ke seluruh penjuru area itu.
"Bukan itu permasalahannya! Bu Maya, apakah suami anda menguasai banyak teknik sihir?"
Dokter Arman bertanya kepada Bu Maya tentang suaminya Bu Maya, tampak ekspresi khawatir di raut wajah dokter Arman.
"Selama saya hidup bersama suami saya, saya belum pernah melihat suami saya menggunakan teknik sihir dan mantera seperti yang anda lakukan, yang saya tahu suami saya hanyalah seorang tabib dan dukun!-
"Oleh karena itulah sampai saat ini saya masih terkejut dengan apa yang telah suami saya perbuat terhadap keluarga anak kecil itu!" sambil menunjuk ke arah Tirta, "Dan juga kepada saya dan putri saya Linda!"
Bu Maya membuang muka saat menceritakan kisah dirinya dan putrinya yang bernama Linda, matanya langsung berkaca-kaca.
Dokter Arman menyadari akan hal itu, segera dia menghampiri Bu Maya dan mencoba untuk menenangkan suasana hati Bu maya.
"Bersabarlah, Bu Maya! Saya yakin putri anda pasti sedang berbahagia di surga!"
Dokter Arman menghibur Bu Maya sambil mengusap bahunya Bu Maya, usahanya tersebut nampak membuahkan hasil.
Bu Maya mulai kembali bersemangat dan lalu melemparkan senyuman hangat kepada dokter Arman.
"Oh iya, saya lupa dengan nama suami anda, Bu Maya, siapakah namanya?"
Dokter Arman menanyakan nama suami Bu Maya, entah untuk apa dia menanyakan hal itu.
"Nama suami saya adalah, Rahman, Dok!"
Bu Maya menjawab pertanyaan Dokter Arman dengan nada lirih seolah untuk menyebut nama itu sangatlah berat.
Sementara itu, setelah Bu Maya memberitahukan nama suaminya lalu dokter Arman tertawa.
__ADS_1
Bu Maya merasa heran karena dokter Arman tertawa setelah mendengar dia menyebut nama suaminya.
"Kenapa anda tertawa, Dok? Apakah nama suami saya itu nampak aneh bagi anda?"
Bu Maya merasa heran dengan dokter Arman, lalu dia mempertanyakan hal itu kepada dokter Arman.
"Haha..! Tidak kenapa-kenapa, Bu Maya! Saya tadi hanya mengira kalau mungkin saja suami anda adalah seseorang yang pernah saya kenal, tapi saat anda menyebut namanya yang kolot itu, saya jadi tertawa! Haha!"
Dokter Arman menjawab dengan begitu santainya, Bu Maya mulai merasa kalau dokter Arman itu sudah tidak waras.
Karena hanya dengan mendengar nama Rahman saja dia bisa tertawa seperti sedang menonton acara lawakan, Bu Maya langsung mengalihkan pembicaraan ke tuyul Dino.
"Baiklah, tuyul Dino! Lalu selanjutnya kita harus kemana lagi?"
Bu Maya langsung bertanya kepada tuyul Dino, namun tuyul Dino tidak menjawab apa-apa.
"Tuyul Dino, jawablah! Selanjutnya kita harus kemana lagi?"
Bu Maya menegaskan suaranya agar tuyul Dino mendengar ucapannya dan segera memberika jawaban.
Namun tuyul Dino masih saja terdiam dan terpaku bagaikan patung, Tirta yang melihat Tuyul Dino mematung langsung menghampirinya.
"Dino, kamu baik-baik saja kan? Kamu ke..?"
"Dino, ka.. kamu kenapa?"
Tirta melangkah menjauhi Tuyul Dino, ada perasaan tidak enak didalam hatinya.
"Srekkk"
Tuyul Dino memutar balikkan badannya menghadap ke arah Tirta dan yang lainnya.
Dokter Arman yang melihat mata tuyul Dino berubah menjadi merah bagaikan api langsung mengambil posisi kuda-kuda dan menarik tubuh Tirta agar berada dekat dengannya.
"Om, kenapa Dino jadi berubah menyeramkan?"
Tirta bertanya kepada dokter Arman, Dokter Arman hanya menggelengkan kepalanya pertanda kalau dia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi kepada tuyul Dino.
Flashback On:
Saat di istana kolong wewe, tuyul Dino hendak melarikan diri namun Pak Rahman berhasil melukai kakinya hingga tuyul Dino tidak bisa melangkah.
Lalu Pak Rahman menangkap tuyul Dino dan membacakan sebuah mantera kepada tuyul Dino.
"Ireng lan putih dadi siji, Balia marang ratune geni lan nuruti dhawuhe!"
__ADS_1
Sesaat setelah Pak Rahman membacakan mantera itu, lalu mata Pak Rahman dan mata tuyul Dino sama-sama berubah menjadi warna merah api.
Lalu Pak Rahman membisikkan sebuah perintah ke telinga tuyul Dino.
"Hei, Tuyul kecil! Bawalah keluarga anak kecil ini kepadaku, maka kau akan aku bebaskan dari kutukan raja api ini!"
Lalu Tuyul Dino menganggukan kepalanya pertanda kalau dirinya bersedia melakukan tugas itu, setelah itu Pak Rahmanpun pergi meninggalkannya, lalu datanglah hantu kuntilanak merah yang menolong tuyul Dino.
Flashback Off
Kini Tuyul Dino sedang berada dalam pengaruh mantera kutukan yang diberikan oleh Pak Rahman kepadanya, bola matanya yang merah bukan hanya sekedar berubah saja.
Akan tetapi, bola mata itu juga mengirimkan sinyal kepada si pemberi kutukan yaitu Pak Rahman.
Pak Rahman yang sedang bercengkerama dengan siluman Lembu langsung menerima sinyal yang dikirim oleh Tuyul Dino, wajahnya langsung menyeringai jahat.
"Kau memang tuyul yang bisa aku andalkan!"
Pak Rahman langsung menutup kembali kepalanya dengan tudung hitam dari jubah hitam yang dia kenakan.
"Hei, Lembu! Maukah kau membantuku lagi, Nak?"
Pak Rahman meminta bantuan kepada siluman Lembu, siluman Lembu langsung meresponnya.
"Rroooaaaarrrr!"
"Apapun yang kau butuhkan dariku, aku pasti akan selalu bersedia membantumu, Ayah!"
Siluman Lembu langsung beranjak berdiri, tubuh raksasanya kini berdiri tepat dihadapan Pak Rahman.
"Prajuritku telah mengirimkan sinyal kepadaku dan berhasil membawakan aku tumbal untuk sang raja, namun rupanya calon tumbalku tidak sendirian! Aku perlu bantuanmu untuk menyingkrkan yang lainnya!"
Pak Rahman memerintahkan Siluman Lembu untuk menyingkirkan orang-orang yang sekarang sedang berada bersama dengan Tirta.
Siluman Lembu langsung menerima tugas itu, lalu dia melompat setinggi-tingginya dan melesat jauh menuju tempat Tirta dan yang lainnya berada.
Sementara itu ditempat dimana Tirta dan yang lainnya berada.
Tirta, Dokter Arman dan Bu Maya, mereka bertiga saling bergenggaman tangan.
Mereka akan berusaha semampunya agar tidak terpisah satu sama lain, apalagi Bu Maya tidak mau sampai dia terpisah dengan Tirta.
"Tuyul Dino, kau jangan berbuat macam-macam, kalau kau berani maka kutukanku akan melukai tubuhmu!"
Dokter Arman berteriak agar tuyul Dino bisa mendengarnya, sepertinya dokter Arman tahu kalau tuyul Dino sedang berada dalam pengaruh seseorang namun entah siapakah orang itu.
__ADS_1