
lembu eps 47
Dalam keheningan, tiga manusia saling merenungi nasib mereka yang masih terbelenggu rantai besi.
Ayah, Mamah dan Nana, mereka bertiga sedang merenungi nasib dan juga memikirkan bagaimana caranya untuk bisa terbebasa dari jeratan Pak Rahman.
"Maryam, aku ingin kamu berjanji akan menuruti kata-kata yang akan aku ucapkan sekarang!"
Ayah meminta Mamah untuk menuruti ucapannya, Mamah tidak menjawab karena dia merasakan firasat yang tidak enak dalam hatinya.
"Maryam, jawablah! Jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak!"
Ayah mengeraskan suaranya karena Mamah hanya diam tidak menjawab.
"Maryam, jawablah! Apa kamu sedang melamun?"
Ayah terus memanggil Mamah, barulah akhirnya Mamah menjawab Ayah.
"Iya Mas, maaf! Memangnya Mas mau mengucapkan apa?"
Mamah menjawab dengan suara sedikit lirih, hatinya masih merasakan hal yang tidak enak.
"Berjanjilah kepadaku kalau kau akan menuruti ucapanku ini!"
Ayah berkata kepada Mamah sambil menyandarkan kepalanya ke Tiang kayu tempat mereka dibelenggu oleh Pak Rahman.
"Iya, Mas Andi! Insyaa Alloh aku akan menepati janji itu!"
Mamah menjawab Ayah sambil ikut menyandarkan kepalanya ke tiang kayu.
"Aku yakin orang yang pertama dijadikan tumbal adalah aku, saat Pak Rahman melepaskan aku dan memberikan aku kepada raja iblis itu, aku akan merebut kunci belenggu ini darinya!-
"Lalu akan aku bebaskan kamu dan Nana! Saat kalian sudah bebas, cepat-cepatlah kalian berlari menuju portal dan keluar dari alam gaib ini dan jangan pernah menoleh kebelakang!"
Ayah berceloteh panjang kepada Mamah, rupanya dia merencanakan upaya pembebasan dari jerat Pak Rahman.
"Aku tidak mengerti kenapa kami tidak boleh menoleh ke belakang? Apakah Mas mau mengorbankan diri demi kami?"
Mamah bertanya kepada Ayah, matanya mulai berkaca-kaca sekarang.
"Kamu jangan memikirkan hal itu, yang harus kamu lakukan hanyalah berjanji untuk menuruti kata-kata aku tadi!"
Ayah tidak mau menjawab pertanyaan Mamah, dia tidak ingin membuat Mamah menjadi terbebani pikirannya.
Ayah memang berencana untuk mengorbankan nyawanya untuk bisa menyelamatkan Mamah dan Nana.
"Tapi, Mas! Aku harus tahu...!"
Ucapan Mamah terhenti lantaran Ayah langsung memotong ucapan Mamah.
"Maryam! Aku mohon jangan ada kata tapi, aku mohon turuti saja, ini demi keselamatan anak kita!"
Ayah menundukkan kepalanya, kini matanya juga ikut berkaca-kaca.
__ADS_1
"Baiklah, Mas! Apa yang ingin kau perintahkan kepadaku?"
Mamah akhirnya menuruti ucapan Ayah.
"Maryam, berjanjilah kepadaku sekali lagi!"
Ayah meminta agar Mamah mengucapkan janji kepadanya untuk mematuhi rencananya.
"Iya, Mas! Aku berjanji akan mematuhi perintahmu tadi!"
Setelah itu, Ayah dan Mamah saling berdiam diri, begitupun juga dengan Nana yang memang dari tadi lebih banyak diam tanpa kata-kata.
Entah ada apa dengan diri Nana, semenjak dirinya dibawa oleh Pak Rahman ke dunia ilusi kini dia lebih banyak diam dan melamun.
Nana menundukkan kepalanya ke bawah, rambutnya jatuh ke bawah hingga menutupi sebagian wajahnya.
Tiba-tiba terdengar suara yang membisikkan ke telinganya dengan sangat pelan, hanya Nana yang bisa mendengar suara bisikkan itu.
["Uripmu lan uripku wis dadi siji!-]
["Nyawamu dadi kagunganku!-]
["Dadi inkarnasi anakku!-]
["Manunggal..manunggal..manunggaling kawulo!"]
Mata Nana tiba-tiba berubah menjadi berwarna merah darah dengan pupil yang berwarna kuning seperti mata seekor ular, rupanya bisikkan tadi adalah bisikkan dari iblis yang merasuki dirinya, belum diketahui iblis siapakah yang membisikkan suara itu kepada Nana.
# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #
Pak Rahman dengan jubah berwarna hitam yang selalu dia kenakan terlihat sedang memasuki sebuah lorong yang gelap.
Entah apa yang akan dia lakukan, namun sepertinya dia akan melakukan suatu ritual karena terlihat tangan kirinya sedang menggenggam sebuah buku ilmu hitam yang telah dia ambil dari Pak Andi ayahnya Tirta.
Pak Rahman sudah berada di dalam lorong tersebut, dia berada ditempat yang digenangi oleh air berwarna hijau.
Ternyata dia sekarang sedang berada ditempat dimana siluman setan keder sebelumnya telah ditaklukkan oleh Dokter Arman dan Bu Maya.
Pak Rahman menatap ke arah genangan air, lalu dia menyeringai.
"Hmmm... Sepertinya habis ada pertarungan antar siluman ya disini! Dasar siluman rendahan, kalian hanya bisa merusak saja!"
Pak Rahman lalu merapal sebuah mantera sambil mengepalkan tangan kanannya.
"Banyu lan lemah. Gawe jagad anyar kanggo aku!"
Pak Rahman membuka kepalan tangannya dan lalu menghentakkan telapak tangannya ke genangan air berwarna hijau itu.
"Wussssshh...!"
Lalu seketika hembusan angin kencang datang dan meniup genangan air itu dengan kencangnya, jubah yang dipakai oleh Pak Rahmanpun ikut meliuk-liuk tertiup angin.
Kini tempat yang tadinya lembab dan penuh dengan genangan air, kini berubah menjadi tempat yang kering dan tidak lembab lagi.
__ADS_1
Setelah itu Pak Rahman mengangkat kedua tangannya ke atas, lalu tiba-tiba permukaan tanah ditempat itu terangkat ke atas dan membentuk sebuah bangunan yang bila dilihat dari atas akan terlihat seperti bentuk bintang segi enam atau bintang Dajjal.
Setelah itu Pak Rahmanpun kembali merapal sebuah mantera yang lainnya.
"Geni neraka ing tanganku. Padhangake lan padhangake panggonan iki!"
Setelah mengucap mantera itu, Pak Rahman kembali mengangkat kedua tangannya ke atas.
Seketika bagian tengah dari bangunan berbentuk bintang segi enam itu retak dan berlubang, dari lubang itu keluar semburan api yang menyala dan bersinar terang.
Kini tempat yang dulunya lembab, basah dan gelap itu telah menjadi tempat yang kering dan terang benderang.
Entah bagaimana caranya Pak Rahman bisa sampai memiliki kesaktian yang luar biasa, namun yang pastinya dia dapatkan kekuatan itu dari iblis.
Pak Rahman merubah posisinya dari berdiri menjadi duduk bersila sambil menempelkan telapak tangan kanan ke tanangan kirinya seperti gaya seorang biksu.
Dia memejamkan kedua matanya dan mengucapkan mantera pemanggilan iblis.
"O anakku. anakku si Lembu!-
"Sowan lan lakonana dhawuhe bapakmu iki!"
Rupanya Pak Rahman memanggil iblis dengan sebutan anak, tapi juga dia menyebut nama Lembu, iblis siapakah yang dia panggil.
"Wussssshhh.."
Lagi-lagi datang angin yang berhembus kencang, namun kali ini terdengar suara auman datang mengiringi angin kencang itu.
"Rroooaaaarrrrrr!"
Auman makhluk itu terdengar sangat memekik ditelinga dan juga sangat menyeramkan.
Suara auman itu sangat mirip dengan suara auman seekor ikan paus biru yang sedang berteriak, jika didengar oleh telinga manusia biasa dapat membuat si pendengar akan kehilangan pendengarannya.
"Brukk.. brukk.. brukk.."
Terdengar suara hentakkan langkah dari makhluk yang berukuran besar, sepertinya itu adalah langkah dari raksasa.
"Brukk.. bruk.. brukk.."
Suara langkah itu kini semakin dekat, suara aumannya juga semakin dekat dan semakin memekik ditelinga namun Pak Rahman sama sekali tidak terkena efek apapun dari suara auman itu.
Saat mengetahui kalau raksasa itu sudah berada cukup dekat, Pak Rahmanpun berdiri dan mengangkat tangannya.
Lalu dia menggerakkan kedua tangannya dengan gerakan seperti sedang membuka tirai jendela.
Seketika itu dinding lorong tiba-tiba bergetar dan terbelah, lalu terpisah dan terbuka bagaikan kain tirai jendela yang dibuka.
Kini dihadapan Pak Rahman sedang berdiri iblis raksasa yang buas dan ganas.
Iblis itu memiliki tubuh besar dan berbulu seperti seekor Gorilla yang besar.
Kepala dan wajahnya juga dipenuhi dengam bulu dan bentuk wajahnya mirip seekor Kelelawar penghisap darah dengan mata yang berwarna merah.
__ADS_1
Lalu terlihat dibagian kepalanya ada dua tanduk yang mirip dengan tanduk sapi, namun ujung tanduknya terlihat membara seperti besi panas.
"Lama tidak berjumpa ya anakku, Lembu!"