
Saat dia menoleh ke sebelah kanannya, dia melihat ada sosok Nana dan segera dia memanggil nama adiknya itu.
"Nana, benarkah itu kamu, adikku!"
Tirta memanggil Nana dengan suara lirih dan lemah.
"Iya, Kak! Ini aku, Nana!"
Nana menjawab ucapan Tirta, Tirta langsung sumringah dan memeluk adik kesayangannya tersebut.
"Syukurlah kamu masih selamat, Dek! Kakak selama ini sangat mengkhawatirkanmu!"
Tirta memeluk erat adik kesayangannya itu, dia tidak ingin kehilangan adiknya lagi.
Akan tetapi selang beberapa menit kemudian Tirta menyadari sesuatu, dia dari tadi tidak melihat Ayah dan Mamah.
"Nana, Ayah dan Mamah kemana? Kenapa Ayah dan Mamah tidak ada bersama kamu?"
Tirta celingukan ke kanan dan ke kiri, dia juga baru menyadari kalau mereka berdua kini sedang ada di dalam penjara besi yang besar.
"Dek, kita ini sedang ada dimana dan..," tiba-tiba Tirta teringat akan sesuatu, "Dino, dia sedang ada dimana sekarang!"
Rupanya Tirta ingat kalau Tuyul Dino masih hidup dan menyelamatkan dirinya dari cengkeramam siluman Lembu, akan tetapi kini dia sama sekali tidak melihat Tuyul Dino itu.
"Kakak bertemu dengan Tuyul Dino?" tanya Nana.
"Iya, Dek! Dino itu tuyul yang baik, tapi dia habis diperalat oleh orang jahat sampai hampir saja musnah, tetapi kakak berhasil menyelamatkannya, sekarang Kakak kehilangan dia lagi!"
Tirta menceritakan kejadian-kejadian yang dia alami saat bersama Tuyul Dino, Nana senang Kakaknya itu bisa berteman dengan Tuyul Dino.
Mereka berdua terlihat sangat dekat sekali, Nana begitu fokus sekali mendengar setiap kisah yang diceritakan oleh Tirta.
Namun tiba-tiba suara keras mengagetkan mereka yang sedang asyik berbincang-bincang.
"Baguslah kau sudah sadar, sekarang giliranmu!"
Suara itu adalah suara Pak Rahman, dia langsung masuk ke dalam penjara besi itu dan mengangkat tubuh Tirta keluar.
Tirta berusaha berontak, akan tetapi dia hanyalah anak kecil yang masih lemah, dengan mudahnya Pak Rahman menyeret tubuhnya yang masih enteng.
"Jangan, Om Jubah, jangan bawa Kak Tirta!"
__ADS_1
Nana mencoba untuk membantu Kakaknya dari Pak Rahman, akan tetapi cukup dengan 1 tendangan saja, dengan mudahnya Pak Rahman menyingkirkan Nana.
"Hey, anak kecil! Kau diam saja disitu, nanti akan ada saatnya untuk dirimu!"
Pak Rahman meninggalkan Nana dan membopong tubuh Tirta untuk memberikannya kepada Raja Iblis melalui portal dimana sebelumnya Ayah dan Mamah sudah menjadi korban tumbal lebih dahulu.
Saat mereka sudah dekat dengan portal itu, Tirta melihat mayat Ayah dan Mamahnya yang tewas dengan cara menyedihkan, tubuh mayat itu kurus dan kering kerontang, mulutnya ternganga dan matanya melotot serta kulit wajahnya berubah menjadi gelap.
"Ayah, Mamah! Hiks.. hiks.. hiks..!"
Tirta tidak mampu menahan tangisnya saat melihat kedua orang tuanya tewas mengenaskan seperti itu.
"Om Jubah, apa yang Om lakukan kepada Ayah dan Mamah? Om jahat sekali! Hiks.. hiks..!"
Tirta memarahi Pak Rahman karena telah menewaskan Ayah dan Mamahnya Tirta, Pak Rahman tertawa terbahak-bahak karena merasa kasihan kepada Tirta.
"Hahaha! Kasihan sekali kamu, Nak! Tetapi apa yang terjadi dengan kedua orang tuamu itu karena ulahnya sendiri yang tidak ingin menjadi pengikutku!-
"Dan sekarang adalah giliranmu! Hahaha!"
Pak Rahman mengarahkan wajah Tirta ke portal itu, Tirta kini melihat langsung penampakan sosok raja iblis berukuran raksasa yang lebih besar daripada planet bumi.
Tirta sangat takut melihat sosok raja iblis itu, dia memalingkan wajahnya saat raja iblis itu membuka sebelah matanya dan menatap tajam Tirta.
Raja Iblis itu memerintahkan Pak Rahman agar segera melemparkan Tirta ke dalam portal menuju istana Raja Iblis itu, maka Pak Rahmanpun hendak melempar Tirta ke dalam portal itu, akan tetapi.
"Katon parang neraka!"
Tiba-tiba ada seseorang yang melesat dengan kecepatan tinggi dan langsung menyerang Pak Rahman yang masih mencengkeram Tirta, akibatnya Pak Rahmanpun menghindari serangan itu dan melepas Tirta.
"Happ!"
Pria yang menyerang Pak Rahman itu lalu menangkap tubuh Tirta, Tirtapun berhasil dia selamatkan.
Pria yang menolong Tirta itu tidak lain adalah Dokter Arman yang sudah bertambah kesaktiannya.
Dokter Arman lalu menoleh dan menatap portal menuju istana Raja Iblis itu, dia lalu menatap sosok Raja Iblis yang sangat besar itu.
Raja Iblis itupun menatap tajam Dokter Arman dengan sebelah matanya, Dokter Arman sama sekali tidak takut, lalu dia gunakan senjata yang dia pegang itu untuk menghancurkan portal tersebut.
"Bajingan kau, Arman! Kenapa kau masih bisa hidup!"
__ADS_1
Pak Rahman terkejut setelah mengetahui kalau yang menyerangnya tadi adalah Dokter Arman, dia menjadi sangat emosi sekali, apalagi Dokter Arman telah menghancurkan portal penghubung dengan raja iblis yang dia buat.
"Roman, bertaubatlah selagi nyawa masih ada di dalam tubuhmu sebelum semuanya sudah terlambat!"
Dokter Arman memanglah seorang kakak yang baik, dia tetap saja mengajak Pak Rahman untuk bertobat.
"Arman, kau ini adalah musuhku, ingat itu! Jangan lagi kau panggil aku dengan panggilan Roman sebab aku sekarang sudah jadi musuhmu dan bukan adikmu lagi!"
Pak Rahman alias Roman itu lalu mengekuarkan senjata kris berukuran cukup panjang, dia kali ini akan serius bertarung dengan Dokter Arman.
"Arman, kali ini aku akan lebih serius menghadapimu! Bahkan meskipun kau sudah kalah dariku aku akan tetap mencincang tubuhmu menjadi berkeping-keping!"
Pak Rahman melepas jubah hitamnya dan mengambil posisi kuda-kuda menyerang, sementara Dokter Arman menyuruh Tirta untuk segera menyelamatkan adiknya dan membawanya ke atas goa untuk bertemu dengan Bu Maya di atas.
Tirtapun lalu meninggalkan Dokter Arman dan Pak Rahman, kini pertarungan antara kakak dan adik kembali terjadi.
Flashback On
Dokter Arman teringat dengan masa kanak-kanaknya dulu dimana dia sering sekali bermain perang-perangan dengan adiknya, bahkan sering juga mereka berpura-pura saling bertarung persis seperti adegan pada film-film animasi Jepang dan Hollywood.
Kala itu mereka berdua menggunakan pedang dari batang daun pepaya, tetapi kini mereka berdua bertarung menggunakan senjata mistis sungguhan.
Flashback Off
"Roman, kalau kau memang tidak ingin bertaubat, maka jangan salahkan aku kalau Tuhan akan mencabut nyawamu melalui perantaraku!"
Dokter Arman mengayunkan pedang senjata gaibnya ke atas, terlihat dari pedang itu keluar api yang berkobar dan menyala terang.
"Hahaha! Arman, kau masih bukanlah tandinganku, kekuatanku ini sudah tak terkalahkan, jangan bermimpi terlalu tinggi!"
Pak Rahman mengangkat senjata keris pusaka miliknya itu ke atas, lalu keluarlah sinar halilintar berwarna merah.
Mereka berdua sama-sama terlihat begitu kuat dan hebat, mereka berdua sama-sama dalam posisi kuda-kuda dan menunggu salah satu ada yang mulai menyerang.
Mereka berdua masih belum saling menyerang sampai akhirnya Pak Rahman duluanlah yang melakukan serangan kepada Dokter Arman.
"Panah kegelapan menghancurkan cahaya!"
Pak Rahman menyerang Dokter Arman dengan serangan secepat kilat dan nyaris tidak terlihat.
"Cting!"
__ADS_1
Namun Dokter Arman yang sekarang sudah jauh lebih sakti dari yang sebelumnya, dengan mudah dia menangkis serangan itu dengan pedang nerakanya sehingga membuat Pak Rahman sangat terkejut melihat kemampuan Dokter Arman yang meningkat dengan pesat.