
"Srekkkk"
Akhirnya efek dari cairan bius yang disuntikkan oleh Pak Rahman kepada Ayah sudah hilang. Kini Ayah bisa kembali menggerakkan anggota tubuhnya meskipun belum sepenuhnya pulih.
"Sialan! Cairan apa yang ia suntikkan kepadaku, tubuhku serasa sangat lemas sekali!" pekik Ayah.
Mamah yang melihat Ayah kesulitan menggerakkan anggota tubuhnya merasa kasihan kepada Ayah.
"Mas Andi, sebaiknya Mas Andi beristirahat saja dulu sebentar sampai tubuh Mas benar-benar pulih! Sepertinya Pak Rahman menyuntikkan bius dosis tinggi kepadamu!" ucap Mamah.
Ayah menghela nafasnya dalam-dalam, "Tapi kalau kita tidak cepat-cepat mencari cara untuk keluar dari sini, aku takut Pak Rahman berhasil menemukan Tirta! Orang tua itu ternyata sangatlah licik!" ucap Ayah emosi.
Mamah pun ikut menghela nafasnya dalam-dalam, "Andai saja waktu itu kita percaya pada ucapan Bu Maya, tapi sudahlah! Mungkin memang takdirnya harus seperti ini!" kata Mamah dengan nada lesu.
Disaat seperti ini, yang paling merasa bersalah sebenarnya adalah Ayah. Waktu Bu Maya mengatakan kalau suaminya itu licik dan jahat, Ayah langsung menolak ucapan Bu Maya mentah-mentah. Ia sangat yakin kalau ucapan Bu Maya itu hanyalah ucapan kosong dari seorang perempuan yang terganggu mental dan kejiwaannya. Akan tetapi, kini ia sangat menyesalinya karena ternyata ucapan Bu Maya itu adalah benar adanya. Ia membuktikannya dengan mata kepalanya sendiri, Pak Rahman ternyata memanfaatkan mereka. Namun, Ayah masih bingung apa alasan Pak Rahman melakukan itu semua kepada mereka.
"Hosh.. hosh.. hosh.."
Kembali Ayah menarik nafasnya dalam-dalam, "Semua ini salahku Maryam, andai saja aku tidak acuh akan ucapan Bu Maya, pasti kita tidak akan terkena jebakannya!" ucap Ayah.
Mamah pun tersenyum mendengar ucapan Ayah, "Mas Andi, manusia itu memang tempatnya salah dan lupa! Mas jangan menyiksa diri sendiri dengan menganggap kalau ini semua adalah kesalahanmu!" Mamah kembali tersenyum, "Mungkin setelah ini Mas akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik dan tidak arogan lagi!" jawab Mamah.
Memang sebelumnya Ayah sangatlah Arogan, sehingga ia tidak pernah mau mendengar ucapan siapapun. Saat itu yang ia percayai hanyalah ucapan Pak Rahman. Memang dalam hal mistis, Ayah adalah orang yang sangat awam sehingga dia bisa dengan mudah dikelabui oleh Pak Rahman. Namun satu hal yang terus mengganjal dalam pikiran Ayah, mengapa harus dirinya dan keluarga yang menjadi korban dari rencana jahat Pak Rahman?
Apakah Pak Rahman memmpunyai dendam kepada dirinya? Apakah Ayah pernah berbuat dzolim kepada Pak Rahman? Ayah ingin mencari tahu jawaban dari semua pertanyaan yang bersemayam di dalam pikirannya.
"Ayah, Mamah, apa kabarnya dengan Kak Tirta? Aku kangen sama Kakak!" tiba-tiba ucapan Nana membuyarkan lamunan Ayah.
"Berdoalah semoga saja Kakakmu selamat diluar sana! Kakakmu diculik oleh hantu kuntilanak merah, ayah tidak mampu mengejarnya saat itu!" ucap Ayah merasa menyesal.
Mamah lalu kembali tertunduk, "Semua itu adalah kesalahanku, Mas! Andai saja waktu itu aku bisa menjaganya sebaik mungkin, pasti Tirta tidak akan tertangkap oleh hantu Kuntilanak merah!" ucap Mamah.
"Srrreekkkk"
Ayah menggeserkan posisi duduknya mendekati Mamah, "Maryam, janganlah menyalahkan dirimu seperti itu! Bukankah tadi kamu sendiri yang bilang kepadaku kalau manusia itu adalah tempat salah dan lupa?" ucap Ayah.
__ADS_1
"Maafkan Mamah, Yah! Mamah tadi terbawa suasana!" jawab Mamah.
Keduanya saling bertatap mata. Andai saja tangan mereka tidak terbelenggu, mungkin sekarang mereka berdua sudah saling berpelukan dan menangis bersama. Namun apalah daya, mereka kini menjadi tahanan dari pria tua yang biadab.
Sementara itu, tiba-tiba Nana seperti merasakan ada sesuatu yang mendatangi tempat mereka terbelenggu.
"Ssrrreeekkk.. Ssrreeekk"
Terdengar seperti suara seseoran yang berjalan dengan menyeretkan kaki. Suara itu sepertinya tidak hanya terdengar satu orang saja, tetapi terdengar sangat ramai.
"Ayah, Mamah, suara apa itu?" tanya Nana.
Ayahpun memandang ke seluruh penjuru area untuk memastikan dari mana datangnya suara menyeret itu.
"Sepertinya kita kedatangan tamu tidak di undang, Mas!" ucap Mamah tatkala ia melihat adanya banyak bola bercahaya melayang mendekati mereka muncul dari pintu lorong yang gelap. Di antara bola-bola itu ada yang berwarna putih dan ada yang berwarna merah dan nampak mengeluarkan api.
"Ggrrrrrrrrrrr"
Semakin dekat bola-bola melayang itu, terdengar suara derum mirip makhluk buas. Semakin lama mereka semakin mendekat. Saat mereka memasuki area yang terkena sinar dari lilin dan obor yang menyala, kini sosok mereka terlihat jelas oleh Ayah, Mamah dan Nana. Rupanya bola-bola itu adalah sepasang mata milik Siluman buas dengan rupa yang menakutkan.
Kembali mereka bersuara. Di antara mereka, ada yang berwujud seperti singa, ada yang berwujud seperti kerbau dengan tiga tanduk dan ada juga yang berwujud seperti serigala. Mereka semua berjalan dengan dua kaki.
"Ayah, Mamah, aku takut!" ucap Nana setelah melihat banyaknya Siluman jahat di sekeliling area tempat mereka terbelenggu.
"Rrooooaaaarrrrr"
Tiba-tiba Siluman dengan bentuk serigala dengan taring yang tajam dan mata mengeluarkan api melompat dan hendak menerkam ke arah Ayah, Mamah dan Nana. Sontak ketiganya berteriak panik, namun tiba-tiba.
"Bzzzzztt.. Bzzzttt"
Tubuh Siluman serigala itu tersetrum saat ia melompat dan seperti membentur sebuah perisai tak kasat mata yang mungkin mengandung energi listrik.
"Gedebug"
Tubuh Siluman serigala itupun terjatuh kebawah. Lalu ia mencoba bangkit namun tubuhnya terlihat lemas akibat benturan tadi.
__ADS_1
Siluman yang lain menertawakan apa yang terjadi kepada iblis serigala. Giliran Siluman kerbau bertanduk tiga mencoba mendekat. Ia terlihat membawa rantai panjang dengan ujungnya terikat sebuah bola besar yang membara bagaikan cairan perut bumi yang menggumpal. Lalu ia memukulkan senjatanya ke arah area dimana Ayah, Mamah dan Nana terbelenggu.
"Bzzzzztt.. Bzzzztt.. Bzzztt"
Hasil yang sama juga ia dapatkan, setrum dari perisai tak kasat mata itu menjalar melalui senjata rantainya dan menyengat tubuhnya hingga ia terpental jauh ke belakang.
Melihat kejadian itu, Siluman berbentuk singa tidak berani untuk mencoba mendekat.
"Sepertinya, Pak Rahman memasang segel yang melindungi kita! Mungkin dia tidak ingin sampai kita menjadi santapan dari iblis-iblis liar yang kemungkinan akan menemukan kita disini!" ucap Ayah setelah menganalisa kejadian tadi.
"Huft.. Setidaknya kita merasa aman selama kita masih ada di area ini," ucap Mamah bernafas lega.
Lalu Mamah pun menghibur Nana, "Lihatlah Nana, Nana tidak perlu takut, mereka tidak bisa menyentuh kita! Kita aman ada disini!" ucap Mamah.
"Iya, Mah. Tapi tetap saja mereka itu menyeramkan! Aku takut lihat wajah mereka!" ucap Nana sambil memejamkan kedua matanya.
Tiba-tiba datang sekelebat sinar dari lorong yang gelap, sinar itu sangat terang sekali.
"Alam semesta, alam roh. Raja pepeteng, tangia saka turu. Sujud lan nuruti kekarepanku!"
Tiba-tiba terdengar suara yang familiar ditelinga mereka, seperti membaca sebuah mantera.
"Numpes mungsuh ing ngarepku!"
"Crasshh!"
"Blarrrr"
Siluman itu pun terpental setelah terkena sinar cahaya yang mengenai mereka. Rupanya sinar itu adalah mantera milik Pak Rahman.
"Kalian siluman kelas rendahan, pergi menjauhlah! Mereka bukan makanan yang layak untukmu! Mereka adalah persembahanku untuk tuanku, Ajazel!"
Melihat kesaktian Pak Rahman yang tinggi, siluman itu pun melangkah pergi menjauh. Setelah siluman itu menjauh, Pak Rahman mendekati Ayah dan yang lainnya.
"Kalian jangan panik, mereka tidak akan bisa memakan kalian! Kalian adalah makanan khusus untuk tuanku!" ucap Pak Rahman.
__ADS_1
Ayah yang merasa sangat emosi lalu meneriaki Pak Rahman, "Hei pria tua bajingan! Lepaskan saya, kalau anda memang hebat, ayo kita bertarung secara jantan!" Ayah sudah tidak punya rencana lain untuk keluar selain dengan menantang Pak Rahman bertarung.