LEMBU

LEMBU
Chapter 28


__ADS_3

Di suatu tempat di alam gaib, Bu Maya yang masih terus berjalan berharap bisa menemui Dokter Arman ataupun Pak Andi, tidak merasa lelah meskipun sudah lama berjalan. Entah karena Bu Maya masih kuat dalam hal fisik atau memang karena di alam gaib tidak ada kata lelah seperti saat di alam manusia. Akan tetapi kalau di ingat-ingat, memang di alam gaib jauh berbeda dengan kondisi di alam manusia. Sama halnya dengan Nana yang tidak pernah merasakan lapar meskipun ia sudah berhari-hari terjebak di alam gaib.


Bu Maya mencoba merubah arah langkahnya, kali ini ia berjalan ke arah tenggara berharap agar bisa menemukan sosok manusia yang ia kenal. Dari kejauhan, Bu Maya melihat suatu area yang di penuhi oleh bebatuan yang berukuran besar. Ia juga seperti seolah mendengar suara gemercik air, ia merasa penasaran apakah di alam gaib juga ada air. Ia pun mempercepat langkahnya agar bisa cepat sampai di tujuan.


Ketika Bu Maya sudah sampai di tujuan, ia benar-benar telah menemukan sumber air sama seperti di alam manusia. Bedanya adalah jika di alam manusia air itu mengalir dari atas ke bawah, maka di alam gaib air itu justru mengalir kesebalikannya yaitu dari bawah ke atas. Air yang sudah sampai atas berubah menjadi awan berwarna hitam pekat, hal tersebutlah yang membuat dimensi tersebut menjadi sangat minim cahaya. Terlebih lagi batu-batu di dimensi gaib sangatlah besar, besarnya hampir sepertiga gunung Salak.


"Alam gaib memang penuh dengan misteri, kalau saja bukan karena aku ingin menolong mereka, aku pasti tidak akan mau masuk kesini!" ucap Bu Maya setelah melihat banyak ke anehan yang berada di luar nalar otaknya.


Kalau saja bukan karena keinginan hatinya untuk menolong keluarga Pak Andi dan sekaligus menghentikan rencana jahat suaminya, pasti Bu Maya tidak akan permah memasuki alam gaib. Akan tetapi, meskipun Bu Maya sempat merasa enggan untuk menolong mereka, tapi di hatinya selalu teringat dengan ucapan arwah putrinya yang mendatanginya saat ia berada di rumah sakit jiwa. Arwah Linda putri kesayangan Bu Maya meminta agar Bu Maya segera menolong Tirta dan keluarganya.


Saat Bu Maya sedang memperhatikan area tersebut, tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang yang ia kenal.


"Tirta! Apa kamu mendengar suara Ayah, Nak!"


Bu Maya merasa sangat mengenali suara teriakan tersebut, tidak salah lagi suara itu adalah suara Pak Andi ayahnya Tirta.


"Itu suara Pak Andi! Sepertinya dia berada di dalam batu yang hampir sebesar gunung itu!" ucap Bu Maya saat memastikan kalau suara tersebut berasa dari dalam batu yang besarnya sepertiga gunung.


"Aku harus mencari pintu masuk kesana!"

__ADS_1


Bu Maya mencoba mencari jalan untuk menyeberangi sungai sumber air yang ia temui itu. Ia terus berjalan di tepi sungai sampai akhirnya ia menemukan sebuah bebatuan yang melayang di atas sungai. Bebatuan itu seperti seolah menjadi jembatan untuk menyeberangi sungai karena bebatuan itu tersusun memanjang seolah membelah sungai.


"Happ"


Bu Maya melompat dari tepi sungai ke susunan bebatuan yang mengambang di atas sungai gaib. Ia melompat dari bebatuan yang satu ke bebatuan yang lainnya sampai ke bebatuan yang terakhir dan ia berhasil melompat sampai ke tepi sungai di seberang.


"Ahhh untung saja aku rutin ikut fitnes tiap hari minggu bersama Ibu-Ibu PKK di halaman rumah Ibu ketua Rukun Tetangga, jadi aku masih bisa lihai melompat. Hehe!" ucap Bu Maya membanggakan diri.


"Baiklah sekarang aku harus menemukan pintu untuk masuk kesana dan menemui Pak Andi!" Bu Maya mempercepat langkahnya dalam mencari pintu masuk agar ia bisa cepat bertemu dengan ayahnya Tirta.


Akhirnya ia menemukan sebuah lubang berukuran besar mirip sebuah gua namun berukuran sedikit lebih kecil. Bu Maya pun memasuki lubang tersebut. Karena keadaan didalam gua sangatlah gelap gulita, Bu Maya merasa sulit untuk menelusuri area di dalam gua tersebut. Beruntung, rupanya Bu Maya sempat mengambil lampu senter milik Dokter Arman yang ia ambil dari dalam mobil Dokter Arman. Meskipun cahaya lampu senternya tidak terlalu terang, akan tetapi itu cukup untuk membantu dirinya mencari jalan didalam gua tersebut.


Kembali Bu Maya mendengar suara ayahnya Tirta, Namun kali ini terdengar sedikit lebih jauh. Bu Maya pun mepercepat langkahnya agar tidak kehilangan ayanya Tirta.


# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #


Ditempat lain, kali ini tempatnya sedikit lebih terang. Mamah telah sadarkan diri dan membuka matanya. Dia terkejut karena kini ia berada di area yang terang namun bukan terang karena sinar matahari, melainkan terang karena banyaknya lilin yang menyala di sekeliling area tempat ia berada. Mamah juga semakin terkejut tatkala ia menyadari kalau dirinya sedang dalam keadaan terbelenggu oleh rantai besi yang membelenggu seluruh tubuhnya dari pundak sampai ke kakinya. Tak hanya itu saja, ia juga terikat di sebuab tiang yang terbuat dari kayu pohon yang besar.


"Tempat apa ini, kenapa aku terbelenggu seperti ini!" ucap Bu Maya dengan suara lirih karena masih merasa sakit di bagian lehernya akibat pukulan dari sosok misterius waktu saat di hutan gaib.

__ADS_1


"Hahahaha! Selamat berkunjung ke alam gaib, Maryam!"


Mamah terkejut setelah mendengar suara seorang pria yang berjalan dari arah belakang dan menyebutkan namanya. Sosok pria tersebut memakai jubah berwarna hitam dan berkupluk, wajahnya tertutup oleh kupluk dari jubahnya sehingga Mamah tidak bisa melihat wajah sosok tersebut dengan jelas.


"Siapakah kamu dan ada masalah apa aku dengan kau sampai kau membelenggu aku seperti ini?!" ucap Mamah kepada sosok berjubah hitam itu.


Sosok pria berjubah hitam itu lalu tertawa terbahak-bahak dan mendekati Mamah.


"Hahahahahahahahahaa! Rupanya kau lupa denganku ya! Tapi baguslah, setelah aku selesai mengumpulkan kalian, baru akan kuberitahu siapakah aku!" ucap sosok pria berjubah hitam itu.


Pria berjubah hitam itu pun berjalan ke arah belakang Mamah. Tak lama kemudia pria berjubah hitam itu kembali mendekati Mamah, namun kali ini ia seperti membawa seseorang kembali. Pria berjubah hitam itu pun membawa sebuah karung yang terbuat dari kain berwarna hitam, di dalam karung tersebut seperti ada seseorang karena karung itu terus bergerak seperti meronta-ronta. Pria berjubah hitam itupun membawa karung hitam tersebut ke hadapan Mamah.


"Apa ini? Kenapa karung itu terus bergerak, apakah ada manusia juga di dalamnya?" tanya Mamah kepada pria berjubah hitam.


"Hahahahahahaa! Selamat bertemu kembali, Maryam!" ucap Pria berjubah hitam itu dan membuat Mamah merasa heran dengan ucapan Pria berjubah hitam itu.


"Srrreeeek"


Karung berwarna hitam itupun dibuka oleh pria berjubah hitam, dan terlihat kalau didalam karung tersebut berisi manusia yang usianya masih kanak-kanak. Pria berjubah hitampun mendekatkan anak kecil itu kepada Mamah. Betapa terkejutnya Mamah saat mengetahui kalau anak kecil yang di dalam karung tersebut adalah putri kesayangannya yang selama ini ia cari. Anak kecil itu adalah Nana.

__ADS_1


__ADS_2