
"Aarrrgghhhhhh!"
Dokter Arman asli kini sudah bangun dari pingsannya sambil berteriak, Bu Maya terkejut melihat Dokter Arman bangun seperti itu.
"Apakah anda baik-baik saja, Dok?" tanya Bu Maya.
Dokter Arman tidak memberikan jawaban, dia justru memturar bola matanya untuk menatap sekelilingnya, dia juga memutar kepalanya untuk mengamati sekeliling area tersebut.
Lalu Dokter Arman kembali memusatkan pandangannya kepada Bu Maya dengan ekspresi heran.
"Kemana siluman setan keder itu, Bu Maya? Apakah anda berhasil membawa saya kabur darinya? Tetapi sepertinya ini tempat yang sama dengan yang tadi?"
Rupanya Dokter Arman mencari sosok siluman setan keder, sebetulnya dia mengkhawatirkan keadaan Bu Maya.
"Kita telah terselamatkan dari siluman itu, Dok! Siluman itu sudah musnah sekarang!"
Bu Maya menjawab pertanyaan dokter Arman, lalu dia berdiri dan menyodorkan tangan kanannya untuk membantu Dokter Arman bangkit.
Dokter Armanpun mengambil tangan Bu Maya lalu dia bangkit dari posisi duduknya.
"Bagaimana caranya? Apakah anda berhasil mengalahkannya? Ternyata anda memiliki kemampuan juga ya, Bu Maya!"
Dokter Arman berdecak kagum dan memuji Bu Maya, Bu Mayapun tersenyum akibat itu.
"Hehehe! Sebetulnya bukan saya yang mengalahkan siluman itu, Dok! Akan tetapi Tuhan yang telah mengabulkan do'a saya," lalu Bu Maya menyilangkan kedua tangannya di tubuh bagian atasnya, "Benar apa kata anda kalau manusia memiliki kekuatan yang paling hebat diantara makhluk lain, yaitu kekuatan do'a yang akan langsung didengar oleh Tuhan!"
Bu Maya memuji balik Dokter Arman, Dokter Arman takjub mendengar pernyataan Bu Maya.
"Ternyata anda telah merasakan betapa besarnya kekuatan do'a yang ikhlas ya, Bu Maya!"
"prok.. prok.. prok..!"
Dokter Arman memberi tepuk tangan untuk Bu Maya.
"Sudahlah jangan terlalu berlebihan, sebaiknya ayo kita lanjutkan lagi pencarian kita!"
Bu Maya memutar balik badannya dan mengajak Dokter Arman untuk melanjutkan pencarian, kini rasa takut dalam diri Bu Maya sudah berkurang dikarenakan dia sudah berserah diri kepada Tuhan.
Dokter Armanpun melangkah mengikuti Bu Maya dari belakang.
__ADS_1
"Clap.. clap.. clap.."
Suara langkah kaki mereka berdua didalam genangan air berwarna hijau terdengar cukup keras karena suasana di alam gaib sangatlah sunyi.
"Oh iya, tadi saat anda terbangun dari pingsan anda berteriak, apakah anda mengalami astral projection dan bertemu dengan monster yang menakutkan sampai anda berteriak seperti itu? Haha!"
Bu Maya melayangkan pertanyaan kepada Dokter Arman dengan nada mengejek sambil tertawa.
"Jika ucapan anda itu adalah pertanyaan, maka akan saya jawab! Namun bila ucapan anda hanya mengejek saya, maka saya hanya diam seolah tidak mendengarnya!"
Dokter Arman menggerutu, sepertinya dia merasa sedikit tersindir oleh ejekan dari Bu Maya.
"Hei, anda ini sudah bukan pria muda lagi, umur anda sudah kepala empat, janganlah mudah tersinggung nanti pamali bisa pendek umur! Hehe!"
Bu Maya mencoba mencairkan suasana dan menenangkan hati Dokter Arman yang sedikit tersinggung dengan ucapannya.
"Saya bertanya dengan sungguh-sungguh, Dokter Arman!"
Bu Maya kembali bertanya kepada dokter Arman, namun kali ini dengan nada yang serius.
"Saya tadi berada di alam bawah sadar saya dan saya berada di tempat yang mengingatkan saya dengan memori lama yang sudah saya kubur dalam-dalam!"
"Jadi adik kandung anda bukan tewas saat berada di diskotik seperti yang pernah anda ceritakan kepada saya waktu itu?"
Bu Maya ingat kalau Dokter Arman pernah menceritakan kalau adik kandungnya tewas saat berada di diskotik akibat ulah sekte penyembah Iblis Illuminati.
"Tidak, Bu Maya! Ternyata bukan seperti itu kejadiannya!"
Dokter Arman berkata-kata dengan suara pelan, sepertinya dia masih belum ikhlas dengan kenyataan yang menimpa adik kandungnya.
"Kenapa anda bisa lupa dengan kejadian yang seharusnya terus menempel dalam ingatan, bagaimana mungkin kejadian setragis itu bisa anda lupakan dengan mudah!?"
Bu Maya sedikit meninggikan suaranya, dia merasa kesal kepada dokter Arman yang bisa melupakan kejadian tragis yang menimpa adik kandung dokter Arman sendiri.
"Saya ingat kalau dulu hampir 3 tahun saya frustasi akibat tragedi itu, lalu saya mencoba bangkit dengan menjalani Hypnotherapy dan ternyata itu berhasil membuat saya melupakan kenangan masa lalu saya!"
Mata Dokter Arman berkaca-kaca saat menceritakan itu kepada Bu Maya, ternyata Dokter Arman sempat frustasi selama 3 tahun sampai dia harus menjalani pengobatan Hypnotherapy untuk menyembuhkan depresinya akibat kehilangan adik satu-satunya.
Bu Maya merasa simpati kepada dokter Arman, ternyata dokter Arman adalah sosok pria yang sangat menyayangi keluarganya.
__ADS_1
"Kenapa setelah kejadian itu anda tidak menemui keluarga anda? Mungkin saja anda tidak akan sedepresi itu!" ucap Bu Maya.
Dokter Arman menyeringai dan memperlambat langkah kakinya.
"Kami berdua sudah menjadi yatim piatu sejak berusia 10 tahun, kedua orang tua kami mati karena kecelakaan lalu kami berdua hidup di panti asuhan!-
"Lalu 3 tahun kemudian kami di adopsi oleh seorang Dokter baik hati dan kaya raya, kami disekolahkan oleh ayah angkat kami, saya mendapat gelar S2 kedokteran kejiwaan dan adik saya sukses menjadi anggota kepolisian reserse kriminal di Ibukota!-
"Yang pertamakali memulai penelitian terhadap sekte Illuminati adalah adik saya, baru setelah itu dia mengajak saya untuk membantunya, namun justru dialah yang harus jadi korban dari sekte Illuminati! Sampai kapanpun saya tidak akan pernah memaafkan mereka!"
"Bughh!"
Dokter Arman berceloteh panjang lebar lalu karena emosinya jadi membara diapun memukul telapak tangan kirinya dengan tinju kanannya sendiri.
Bu Maya juga turut bersedih mendengar pengungkapan dari Dokter Arman, mata Bu Maya juga ikut berkaca-kaca setelah mendengar pengungkapan dokter Arman yang menyedihkan.
"Kalau anda membenci sekte penyembah Iblis Illuminati dan menjadikan mereka sebagai musuh bebuyutan, berarti anda juga telah menjadikan suami saya sebagai musuh bebuyutan anda! Apakah jika suami saya bertaubat anda akan memaafkan suami saya?"
Bu Maya bertanya kepada dokter Arman seperti itu dikarenakan didalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebenarnya dia masih memiliki perasaan kepada Pak Rahman dan dia sangat mengharapkan agar suaminya itu bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.
"Saya hanya membenci sekte Illuminati, jika suami anda bertaubat berarti dia bukan orang Illuminati, maka saya tidak mungkin membencinya lagi!"
Dokter Arman menjawab pertanyaan Bu Maya sambil melemparkan senyum yang tulus.
Dokter Arman memanglah bukan pria sembarangan, akan tetapi Dokter Arman adalah pria yang memiliki tingkat kesabaran dan keikhlasn diatas rata-rata manusia pada umumnya.
Tidak ada satupun orang didunia ini yang dia benci kecuali orang-orang kelompok penyembah iblis Illuminati.
Dokter Arman dam Bu Maya terus melanjutkan perjalanan mereka sampai tiba-tiba dia mendengar suara anak laki-laki kecil yang semakin dekat dengan mereka.
["Wah, Dino, kamu hebat sekali bisa mengeluarkan cahaya dari telapak tangan kamu seperti lampu senter! Hebat kamu!"]
Suara itu nampak tidak asing ditelinga Bu Maya, namun dia mencoba mendekati sumber suara itu agar semakin jelas terdengar.
["Dino, di tempat ini sangat becek dan airnya berwarna hijau, aku sangat merasa jijik dan mual disini!"]
Akhirnya Bu Maya dan Dokter Arman berada tepat di belakang anak laki-laki kecil itu, anak itu tidak sendirian, dia ditemani oleh anak kecil laki-laki yang hanya memakai celana pendek percis popok dan kepalanya botak plontos.
Anak kecil itupun menoleh ke belakang, kini Bu Maya benar-benar yakin kalau anak kecil itu adalah anak kecil yang dia kenal.
__ADS_1