LEMBU

LEMBU
Chapter 43


__ADS_3

Dokter Arman melompat ke atas dan tepat mengarah ke siluman setan keder.


"Rrooooaaaaarrrrr"


Tak ingin kalah siluman setan keder juga ikut mengeluarkan kekuatan penuhnya untuk melawan serangan dari Dokter Arman.


Saat berada diatas sebelum serangannya mengenai setan keder, Dokter Arman mengucapkan kalimat ayat suci Al-Qur'an.


"Bissmillahirrohmaanirrohiim"


"Wa idzaa batosytum batosytum jabbaariin!"


Kekuatan mereka saling beradu satu sama lain.


"Duuaaaaaarrrrr"


"Boooooooommm"


Siluman setan keder dengan penuh nafsu dia mengeluarkan seluruh kekuatannya, sementara Dokter Arman hanyalah manusia biasa yang hanya mengandalkan kekuatan doa dan sedikit ilmu gaib yang pernah dia pelajari jelas bukan tandingan si setan keder.


Akan tetapi, semangat membara dan keyakinan yang kuat dari dokter Arman mampu membuat dirinya terus bisa melawan dan melawan terus siluman setan keder.


Baginya hanya satu, lebih baik mati karena melawan daripada hidup tetapi mengemban rasa malu dihati.


"Bzzzztt.. bzzzttt.."


Benturan dari kekuatan mereka berdua menghasilkan efek listrik yang memancar bagaikan kilat, Bu Maya hanya bisa menyaksikan momen itu tanpa keberanian untuk membantu dokter Arman.


Entah kenapa meskipun Bu Maya tidak mau meninggalkan dokter Arman, akan tetapi seluruh tubuhnya terasa sangat lemas dan tidak bisa digerakkan.


Sepertinya didalam hati Bu Maya terdapat rasa ketakutan yang sangat besar, karena ini pertama kalinya dia harus benar-benar mempertaruhkan nyawa menghadapi makhluk gaib.


"Bzzztt.. bzzzttt.. bzzztt.."


"Dduuuuaaaarrrr!"


Akibat terlalu besarnya benturan energi dari dokter Arman dan siluman setan Keder, tiba-tiba terjadi ledakan yang besar, terlihat ada siluet seseorang yang terpental saat terjadi ledakan.


"Buggghhhh!"


"Srreeekkk"


Rupanya yang terpental itu adalah tubuh dokter Arman, Dokter Arman telah kalah dalam duel tersebut.


"Arrghh!"


Dokter Arman mengerang kesakitan akibat benturan tadi, beberapa detik kemudia dia batuk darah.


"Uhuk.. uhuk.."


Sepertinya Dokter Arman mengalami luka dalam yang cukup serius, namun dia mencoba untuk tetap bertahan dan tetap sadarkan diri.


"Kau bukan tandinganku, Manusia! Jadilah pengikutku, maka akan aku sembuhkan lukamu! Hahaha!"


Setan Keder memberikan sebuah penawaran kepada Dokter Arman, namun Dokter Arman tidak menjawab apapun.


Perlahan-lahan nafas Dokter Arman mulai terengah-engah, pandangannya mulai kabur seperti seseorang yang akan pingsan.

__ADS_1


Sambil tertatih dia mencoba untuk mengucapkan sebuah kata kepada Bu Maya, suaranya cukup terdengar lirih.


"Bu Maya, pergilah! Tinggalkanlah saya, selamatkanlah diri anda!"


"Bruk!"


Tubuh dokter Arman terjatuh ke tanah, kini dia benar-benar hilang kesadarannya.


Sementara itu, Bu Maya masih membatu ditempatnya berdiri, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Sekarang giliranmu! Hahaha!"


Siluman setan keder melangkah ke arah Bu Maya, Bu Maya merasakan ketakutan yang sangat hebat.


Wajah Bu Maya penuh dengan keringat dingin, kakinya bergetar dan terasa sangat berat untuk melangkah.


"Clap.. clap.. clap..!"


Suara langkah kaki Siluman setan keder yang melanglah di atas genangan air hijau terdengar sangat jelas di telinga Bu Maya.


Bu Maya bingung bukan kepalang, dia tidak tahu harus berbuat apa.


Namun dia terikat akan ucapan Dokter Arman tadi saat bertarung melawan siluman setan keder.


["Kekuatan manusia terbesar adalah kekuatan do'a, karena do'a kami pasti didengar oleh Tuhan!"]


Bu Maya memejamkan kedua matanya agar fokus, dia mencoba untuk berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.


"Clap.. clap.. clap.."


Tiba-tiba Bu Maya kembali membuka kedua matanya, kini tatapan matanya penuh dengan keyakinan.


"Bismillahirrohmaanirrohiim!"


Bu Maya mengucapkan kalimat Basmallah dengan hatinya yang tulus dan berserah diri kepada Tuhan.


"Wusssssh!"


Tiba-tiba ada tiupan angin yang meniup cukup kencang dari belakang Bu Maya mengarah ke siluman Setan Keder.


Langkah kaki siluman Setan Keder terhenti akibat datangnya tiupan angin itu.


"Apa lagi ini? Kalian bangsa manusia memang musuh bebuyutan kami!"


Siluman Setan Keder sangat marah saat merasakan kedatangan angin tersebut, dia merasakan kalau angin itu bukanlah angin biasa.


Tiba-tiba Bu Maya bertekuk lutut sambil mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dagunya, dia memiringkan kepalanya menghadap ke atas sambil berdoa dengan penuh berserah diri.


"Ya Alloh! Hamba memang bukanlah hambamu yang taat ibadah dan juga suci!-


"Hamba juga bukanlah hamba yang selalu bersedeka setiap saat, akan tetapi hamba sangat yakin kepada engkau dan hanya kepadamulah hamba takut dan hanya kepada engkaulah hamba percaya!-


"Bila memang takdir hamba harus mati disini maka hamba ikhlas dan pasrah, namun apabila takdir hamba bukanlah seperti itu maka," Bu Maya menurunkan pandangannya dan menatap ke arah siluman setan keder, "Maka musnahkanlah iblis yang ingin menyesatkan hamba yang kini berada dihadapan hambamu yang tidak berdaya ini!"


Bu Maya mengakhiri doanya, namun tidak terjadi apa-apa terhadap siluman setan keder.


"Hahaha! Lihatlah, Tuhanmu sudah enggan mendengar do'amu! Itu berarti memang takdirmu untuk mati sebagai makananku! Hahaha!"

__ADS_1


Siluman Setan Keder tertawa bahagia sekali, dirinya merasa sudah menang.


Sementara itu dengan Bu Maya, dia hanya diam tanpa mengeluarkan kata-kata apapun, dia benar-benar telah berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.


"Kalaj begitu akan aku cabik-cabik tubuhmu!"


Siluman Setan Keder langsung berlari kencang ke arah Bu Maya, dia kembali mengencangkan cakarnya yang setajam pedang samurai untuk mencabik dan mengoyak tubuh Bu Maya.


Siluman Setan keder melompat ke atas, dalam gerakan lambat dirinya benar-benar mengarahkan cakarnya ke arah wajah Bu Maya dan Bu Maya memejamkan matanya pertanda pasrah.


"Ctiing"


"Duaaarrr"


Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi, cakar siluman setan keder tidak mampu menyentuh tubuh Bu Maya bahkan menyentuh kulitnya saja tidak bisa.


Seperti seolah ada perisai tak terlihat yang melindungi Bu Maya.


Tidak hanya itu saja, bahkan perisai tak terlihat itu telah menghasilkan energi kejut yang dahsyat hingga membuat tubuh Setan Keder terpental jauh.


"Brukkk"


Tubuh siluman setan keder membentur dinding lorong, setelah itu datang angin yang bertiup kencang mengarah kepadanya.


Saking kencangnya tiupan angin itu, siluman setan keder sampai tidak mampu melawan angin itu, tubuhnya kembali menempel pada dinding lorong.


Semakin lama tiupan angin itu menerjang tubuhnya, lama-lama angin itu berubah menjadi angin yang panas.


"Aarrrgghh..!"


Siluman Setan Keder mengerang kesakitan, tubuhnya terasa terbakar akibat dari angin panas yang menerjang tubuhnya.


"Hentikaaaan!"


Merasa tidak mampu menahan rasa sakit akibat terbakar oleh angin panas yang menerjang tubuhnya, Siluman Setan Keder memohon kepada Bu Maya untuk menghentikannya.


Ternyata Siluman Setan Keder mengira kalau angin panas itu adalah akibat dari ilmu yang dikeluarkan oleh Bu Maya, padahal sebenarnya angin panas itu adalah wujud dari bala bantuan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa kepada Bu Maya.


"Hentikaaaaa! Aarrgghh..!"


Siluman Setan Keder semakin mengencangkan suaranya, dia bahkan berteriak seperti sedang mengemis.


Perlahan-lahan muncul bara api dari ujung jari Siluman Setan Keder saat dia hendak melawan arus angin panas yang menerjangnya dengan telapak tangannya.


"Aarrrggghhhh! Aku mohon hentikaaaaan!"


Kini seluruh tubuh Siluman Setan Keder telah terbakar oleh api, dalam gerak lambat api yang membakar tubuhnya telah membuat tubuhnya menjadi membara dan perlahan-lahan hancur lebur menjadi debu.


Bu Maya membuka kedua matanya, dia terkejut saat melihat fenomena ajaib yang terjadi kepada Siluman Setan Keder.


"Aaaarrrrgggghhhhh..! Rooaaaaarrrr..!"


Untuk yang terakhir kalinya Siluman Setan Keder mengeluarkan suara aumannya, akhirnya tubuhnya telah benar-benar hancur lebur tanpa sisa.


Bu Maya meneteskan air mata, dia sangat bersyukur karena ternyata Tuhan masih menyayanginya dan memberikannya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.


Kemudia Bu Mayapun menghampiri Dokter Arman yang masih dalam keadaan pingsan.

__ADS_1


__ADS_2