LEMBU

LEMBU
Chapter 25


__ADS_3

Adzan maghrib telah dikumandangkan, siang pun telah berganti dengan malam. Ayah, Mamah dan Tirta mendekati perahu rakit yang ada di tepi danau. Ayah yang lebih dahulu menaiki perahu rakit, lalu setelah itu bergantian dengan Mamah dan Tirta menaiki perahu rakit. Kini mereka bertiga sudah berada di atas perahu rakit. Ayah yang memegang kendali komando, memegang dayung dan bertugas untuk mendayung perahu rakit menuju ke tengah-tengah danau. Entah kebetulan atau tidak, saat perahu rakit yang mereka naiki berjalan menuju ke tengah danau, banyak ikan-ikan danau yang berlompatan dari dalam air danau seolah-olah memberikan sebuah kode. Namun mereka tidak memperdulikan hal tersebut, Ayah terus mendayung perahu rakit hingga sampai tepat di tengah-tengah danau setu cikaret.


Saat mereka sudah sampai tepat di tengah danau, Ayah, Mamah dan Tirta membuka tas mereka masing-masing.


"Srreeeeettt"


Mereka membuka resleting tas masing-masing. Ayah mengeluarkan sebuah kitab paranormal dari tasnya, sementara Mamah mengeluarkan sesaji yaitu darah ayam cemani, kembang tujuh rupa dan air mawar. Tirta mengeluarkan alat-alat gaib yang sebelumnya mereka dapatkan dengan cara susah payah yaitu, anggrek hitam gaib, sehelai rambut kolong wewe dan mustika ratu ular.


Lalu Ayah mengeluarkan 6 buah lilin lampu, ia nyalakan sumbunya satu persatu. Ayah menyusun lilin itu di sekeliling perahu rakit. Mamah mencampurkan sesaji dengan air mawar lalu ditaruh di hadapan ayah yang sudah duduk sila di tepi perahu rakit. Ia juga memberikan darah ayam cemani yang sudah berada dalam mangkuk tanah liat kepada Ayah, lalu ayah mencipratkan darah tersebut ke permukaan air danau sambil membaca sebuah mantera.


"Shika nawangsa, javunta caksa ashoka"


"Air tanah api udara, semua bersatu dalam kegelapan"


"Wahai kegelapan, hisaplah seluruh cahaya kedalam kegelapanmu dan bawalah serta kami menuju kegelapanmu"


Lalu Ayah menyuruh Tirta untuk menenggelamkan anggrek hitam gaib, rambut kolong wewe dan mustika ratu ular ke dalam air mawar yang telah dicampur oleh kembang tujuh rupa. Setelah itu Ayah menuangkan darah ayam cemani ke air mawar tersebut, secara tiba-tiba air mawar tersebut mendidih dan mengeluarkan asap yang cukup tebal. Lalu kembali Ayah membuka kitab paranormal dan ia buka lembaran selanjutnya. Setelah ia membacanya lalu ia mengambil pusaka kujang pemberian Pak Rahman dari dalam tas, lalu ia goreskan pusaka itu ke telapak tangannya. Darah segar menetes dari tangan Ayah, lalu tetesan darahnya ia teteskan ke air mawar yang mendidih dan mengeluarkan asap. Setelah itu Ayah mengucapkan sebuah kata-kata.


"Terbukalah pintu alam gaib, terbukalah atas perintahku!"


Air mawar semakin mendidih, asap tebal kini menjadi hilang. Perlahan muncul cahaya dari dalam air mawar, semakin lama cahaya itu semakin besar. Cahaya itu berwarna Purple, cahaya itu terlihat seperti membentuk sebuah lingkaran besar yang besarnya melebihi dari ukuran perahu rakit. Rupanya cahaya purple itu kini membentuk sebuah portal, portal penghubung antara dimensi manusia dengan dimensi roh. Kini portal menuju dimensi roh berada tepat di hadapan mereka bertiga. Tirta merasakan ketakutan, akan tetapi ia mencoba melawan rasa takut di dadanya.

__ADS_1


"Menurut buku paranormal yang diberikan oleh Pak Rahman, dihadapan kita sekarang adalah portal menuju alam gaib! Kita akan masuk kesana dan akan mencari Nana!" ucap Ayah, sementara Mamah dan Tirta hanya tertegun melihat sesuatu yang diluar nalar manusia kini ada dihadapan mereka.


"Ingatlah selalu, kita harus terus bersama dan jangan sampai terpisah saat kita berada di alam roh. Lebih baik kita mati bersama daripada kita selamat tapi sendirian!" lanjut Ayah berbicara.


Ayah menjulurkan kedua tangannya agar Mamah dan Tirta menggenggam tangannya. Lalu Mamah dan Tirta pun menggenggam tangan Ayah. Mereka melangkah memasuki portal alam gaib dalam keadaan saling bergandengan tangan. Tekad mereka sudah kuat, lebih baik mati bersama-sama daripada selamat dalam keadaan sendirian.


#### #### #### #### #### #### ####


Sementara itu, Bu Maya dan Dokter Arman sedang dalam perjalanan menuju danau setu cikaret. Mereka berniat untuk menyusul Pak Andi dan keluarganya, mereka berdua ingin menyelamatkan keluarga Pak Andi dari jebakan yang dibuat oleh Pak Rahman suami Bu Maya sendiri. Tak biasa-biasanya Dokter Arman mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ternyata Dokter Arman juga lihai memacu mobil dengan kecepatan tinggi.


Tak lama kemudian akhirnya Dokter Arman dan Bu Maya kini sudah sampai di area danau setu cikaret. Dokter Arman memarkirkan mobilnya di pinggiran danau, lalu mereka keluar dan melanjutkan pencarian dengan berjalan kaki. Setelah sampai ke dekat kebun bambu di pinggiran danau, mereka melihat kalau ada perahu rakit di tengah-tengah danau dan mereka juga melihat kalau ada lingkaran cahaya berwarna purple berada di dekat perahu rakit tersebut.


"Its Amazing, sungguh luar biasa! Ternyata pintu menuju alam gaib itu memang benar adanya! Kalau begitu berarti mereka sekarang pasti sudah masuk ke dalam alam roh pastinya!" ucap Dokter Arman.


"Itu benar sekali, kita harus cepat masuk kesana sebelum terlambat! Akan tetapi, tidak ada perahu lagi yang bisa mengantarkan kita ke tengah danau mendekati portal tersebut!" ucap Bu maya.


Bu Maya mencoba memandangi sekeliling danau dengan perlahan, lalu akhirnya ia menemukan sebuab perahu rakit ukuran kecil yang dibuat oleh para penjala ikan di danau setu cikaret. Bu Maya dan Dokter Arman memanfaatkan perahu kecil tersebut untuk menuju tengah-tengah danau dan menghampiri portal alam gaib tersebut. Lalu mereka berdua sama-sama menaiki perahu kecil tersebut, dan mereka berhasil mendekari portal alam roh yang dibuka oleh Pak Andi dan keluarga.


Saat mereka berada tepat di hadapan portal alam gaib, mereka tertegun dan takjub melihat portal alam gaib yang menurut sebagian orang hanyalah takhayul. Dokter Arman mengeluarkan ponsel dari kantong celananya, lalu ia mengabadikan portal tersebut dengan memotretnya menggunakan kamera ponsel miliknya. Bu Maya yang melihat Dokter Arman memotret portal tersebut lalu memandangi Dokter dengan tatapan aneh.


"Kenapa anda memandangi saya seperti itu? Ayolah, saya hanya ingin mengabadikannya untuk keperluan penelitian!" ucap Dokter Arman, Bu Maya hanya terdiam dan menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Mereka pasti berhasil membuka portal ini dikarenakan mereka belajar dari suami saya! Saya tidak menyangka kalau mereka ternyata berbakat dalam ilmu paranormal!" ucap Bu Maya takjub.


"Memang terkadang seseorang bisa menguasai ilmu paranormal dalam waktu yang singkat, tetapi ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama! Semua tergantung pada gen darah yang mengalir dalam diri mereka!" celoteh Dokter Arman panjang.


"Apakah sudah sampai sejauh itu penelitian anda, Dokter! Sampai-sampai mencocokkan antara gen dengan kekuatan mistis?" kata Bu Maya.


"Sudah saya katakan kepada anda bukan, kalau saya sudah hampir 10 tahun meneliti Illuminati. Selama masa penelitian itu, banyak pengetahuan tentang hal gaib yang saya temukan!" tutur Dokter Arman.


Setelah itu akhirnya keduanya memutusjan untuk bersama-sama memasuki portal alam gaib. Awalnya tidak terjadi apa-apa, akan tetapi saat tangan mereka menyentuh lapisan portal tiba-tiba tubuh mereka seperti tertarik oleh gravitasi yang sangat kuat. Seketika, Bu Maya dan Dokter Arman terhisap ke dalam portal tersebut.


Saat mereka terhisap oleh portal, mereka kehilangan kesadaran. Lalu beberapa menit kemudian Bu Maya tersadar di area yang gelap dan bayak pohon-pohon tinggi disekitarnya. Ia mencoba menoleh ke kanan dan kekiri mencoba mencari sosok Dokter Arman yang memasuki portal bersama dengannya, akan tetapi ia tidak menemukan sosok Dokter Arman. Rupanya saat memasuki portal alam gaib, saat sudah masuk ke dimensi gaib maka mereka akan terpisah antara satu dengan yang lainnya. Kini Bu Maya talah terpisah dengan Dokter Arman. Bu Maya mencoba berjalan ke arah timur berharap bisa menemukan Dokter Arman, atau jika memang beruntung ia bisa menemui keluarga Pak Andi.


Ditempat lain yang terlihat gelap dan banyak pohon besar, Dokter Arman telah sadarkan diri. Ia tersangkut di atas pohon besar, bentuk pohonnya mirip seperti pohon darah naga yang tumbuh di pulau Sokotra. Ia menoleh ke kanan dan kekiri serta je bawah, ia mencari sosok Bu Maya. Namun, ia tidak menemukan adanya sosok Bu Maya di area tempat ia tersangkut.


"Hmm.. Kenapa aku terpisah dengan Bu Maya? Apakah memang begini hukum dari alam gaib?" guman Dokter Arman di dalam hati.


"Daripada aku bingung mencari-carinya, lebih baik aku turun dari pohon aneh ini dan berjalan menyusuri hutan misterius ini! Mungkin saja Bu Maya berada tidak jauh dari sini!" Dokter Arman berusaha turun dari pohon.


"Toloooong! Tolooooong!"


Terdengar suara jeritan seorang perempuan yang meminta tolong. Mendengar suara tersebut, Dokter Arman segera bergegas turun dari pohon aneh tersebut. Ia mencoba mencari sumber suara itu, rupanya sumber suara itu terdengar berasal dari arah selatan. Dokter Arman pun segera berlari secepat mungkin ke arah selatan. Hingga saat ia sudah sampai di tempat sumber suara itu, ia dikejutkan dengan sebuah penampakan sosok yang membuat dirinya terkejut.

__ADS_1


__ADS_2