LEMBU

LEMBU
Chapter 48


__ADS_3

Kini dihadapan Pak Rahman sedang berdiri iblis raksasa yang buas dan ganas.


Iblis itu memiliki tubuh besar dan berbulu seperti seekor Gorilla yang besar.


Kepala dan wajahnya juga dipenuhi dengam bulu dan bentuk wajahnya mirip seekor Kelelawar penghisap darah dengan mata yang berwarna merah.


Lalu terlihat dibagian kepalanya ada dua tanduk yang mirip dengan tanduk sapi, namun ujung tanduknya terlihat membara seperti besi panas.


"Lama tidak berjumpa ya anakku, Lembu!"


Pak Rahman menyambut baik Sosok Siluman Lembu, bahkan dia menyebut siluman itu dengan sebutan anakku.


"Rroooaaaarrrrr!"


Siluman Lembu itu mengaum seperti menjawab sambutan dari Pak Rahman.


"Bersabarlah, Nak! Sebentar lagi aku akan mendapatkan kekuatan dari Raja Azajel dan kita berdua akan menjadi penguasa sekte Illuminati yang baru! Hahahaha!"


Pak Rahman tertawa terbahak-bahak, suara tawanya memekik bersama dengan suara auman dari siluman Lembu.


Entah apa lagi yang sedang dipersiapkan oleh Pak Rahman, tetapi jelas jika didengar dari ucapannya kalau dia ingin menguasai sekte penyembah iblis Illuminati.


# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #


Sementara itu, Bu Maya, Dokter Arman, Tirta dan juga Tuyul Dino sedang melakukan perjalanan bersama menuju ke suatu tempat dimana yang diyakini oleh Tirta kalau ditempat itulah keluarganya berada.


"Hai, Tirta! Dari mana kamu tahu kalau keluargamu berada di tempat itu?"


Dokter Arman bertanya kepada Tirta sambil memandang ke arah gunung yang selalu ada cahaya kilat di atasnya.


"Tuyul Dino yang memberitahukan kordinat keluarga aku melalui penerawangan yang dia tunjukkan kepada aku, Om!"


Tirta menjawab apa adanya, karena memang seperti itulah kenyataannya.


"Kenapa kamu sangat mempercayai hantu tuyul itu, Tirta? Padahal kamu baru saja mengenalnya bukan?"


Dokter Arman kembali bertanya kepada Tirta, Dokter Arman bertanya seperti itu karena dia sama sekali tidak percaya kepada hantu apapun jenisnya.


"Aku sangat mempercayainya karena sebelumnya dia telah menyelamatkan adikku, Nana!-


"Jadi aku sangat percaya kalau Tuyul Dino benar-benar hantu yang baik, Om!"


Tirta menjelaskan kepada Dokter Arman dengan wajah polos dan penuh sukacita, akan tetapi itu tidak cukup mudah membuat Dokter Arman berhenti berhati-hati terhadap gerak-gerik hantu tuyul Dino.

__ADS_1


Selang hampir tiga puluh lima menit lamanya, akhirnya mereka semua sudah sampai di gunung yang menjadi tujuan mereka.


"Glegerrr...!"


Cahaya kilauan dari kilat dan suara halilintar tampak tak pernah berhenti keluar dari atas langit gunung hitam di dimensi alam gaib itu.


Namun rupanya kilat itu tidak pernah sampai menyentuh tanah, sehingga mereka tidak perlu takut tersambar oleh kilat itu.


Mereka mengetahui informasi itu dari hantu tuyul Dino, rupanya gunung itu memiliki nama yaitu gunung kegelapan yang hitam.


"Hei, Tuyul Dino! Katakanlah apakah kita semua harus masuk kedalam gunung itu melalui lorong disana!"


Dokter Arman menunjuk ke sebuah lorong gelap yang ada di kaki gunung itu.


Hantu tuyul Dinopun menjawab ucapan dokter Arman dengan mengangguk.


Lalu dokter Arman kembali merapal sebuah mantera, mantera yang mampu memunculkan pohon kayu yang bila terbakar akan terus menyala.


Dokter Arman membuatkan tiga buah kayu obor dan dia berikan masing-masing satu buah obor kepada Tirta dan Bu Maya untuk dijadikan penerangan.


"Wah, Om Dokter hebat sekali! Nanti Om Dokter ajarkan aku caranya ya, please!"


Tirta terkagum-kagum menyaksikan kehebatan dokter Arman, bahkan dia meminta agar dokter Arman mau mengajarinya trik itu.


"Haha! Nanti setelah kamu dan keluargamu beserta kita semua sudah berhasil selamat dari dimensi ini, maka Om akan ajarkan kamu semua hal yang Om kuasai!"


Dokter Arman dengan senyuman yang tulus menjawab permintaan dari Tirta.


"Yeayy.. Janji ya, Om Dokter?"


Tirta sanagat senang hati mendengar jawaban dari dokter Arman, bahkan dia meminta agar dokter Arman mau berjanji akan mengajarkan trik itu setelah berhasil pulang ke bumi dengan selamat.


"Iya, Tirta! Om berjanji kepada kamu!"


Dokter Arman menjawab permintaan Tirta dengan senyuman yang tulus, Tirta merasa sangat senang mendengar ucapan dari dokter Arman.


"Sudahi dulu percakapan kalian berdua, Dok! Sebaiknya kita harus secepatnya masuk kesana dan menyelamatkan mereka dengan membawa mereka pulang ke bumi!"


Bu Maya memotong pembicaraan antara Dokter Arman dengan Tirta, memang benar mereka tidak boleh menyia-nyiakan waktu sebelum semuanya terlambat.


Mereka harus lebih dulu menemuka dan menyelamatkan keluarga Tirta, barulah setelah itu mereka akan menyadari Pak Rahman untuk bertaubat dan berhenti menjadi penyembah iblis Illuminati.


"Tuk.. tukk.. tukk..!"

__ADS_1


Mereka semua melangkah bersama menuju sebuah lorong yang akan membawa mereka masuk kedalam inti gunung tersebut dimana didalam inti gunung gaib itulah keluarga Tirta berada.


Kini Dokter Arman, Bu Maya, Tirta dan Tuyul Dino sudah masuk ke dalam lorong itu, suasana disana sangatlah gelap gulita.


Untung saja Dokter Arman mempunyai kemampuan menumbuhkan pohon gaib yang batang kayunya bisa dijadikan api obor untuk penerangan jalan.


Seperti sebelumnya dimana kondisi area didalam lorong itu terlihat lembab, becek dan juga mengeluarkan bau tak sedap yang begitu menyengat.


Bu Maya yang tidak kuat menghirup bau tak sedap itu langsung menutup hidungnya dengan menggunakan jari tangan kanannya.


Bau tak sedap dari ruangan itu sama persis dengan bau tak sedap yang dihasilkan oleh kotoran sapi, hanya saja di dalam area lorong itu sedikit tercium bau busuk.


"Clap.. clap.. clap.. clap.."


Langkah kaki Dokter Arman, Bu Maya dan Tirta yang menginjak genangan air terdengar sangat jelas dikarenakan suasana di dalam lorong tersebut sangatlah sunyi dan sepi.


Hanya Tuyul Dino saja yang bisa melangkah diatas air, oleh karena itu tidak terdenga suara langkah kaki tuyul Dino yang menginjak genangan air di tempat itu.


"Tempat ini sang menjijikkan sekali, apakah semua setan menyukai tempat yang kotor dan menjijikkan seperti ini!"


Bu Maya menggerutu lantaran dirinya sudah tidak tahan dengan bau tak sedap dari tempat itu, namun dokter Arman mencoba menenangkan suasana.


"Tenanglah, Bu Maya! Iblis dan makhluk sejenis lainnya memang menyukai tempat yang kotor dan bau busuk!-


"Tapi tetaplah fokus kepada tujuan anda, jangan sampai anda menyerah hanya karena bau tidak sedap ini! Haha!"


Dokter Arman mengejek Bu Maya sambil tertawa untuk mencairkan suasana, upaya dokter Arman membuahkan hasil.


Akibat ucapan dokter Arman tadi, kini Bu Maya tidak lagi terdengar mengeluh dan menggerutu lagi.


Kali ini Bu Maya hanya terdiam menahan rasa mual yang bergejolak didalam perutnya, terlihat ekspresi terpaksa dari raut wajahnya.


"Dino, apakah tempat Ayah, Mamah dan Adikku masih jauh?"


Tirta bertanya kepada tuyul Dino yang menjadi juru navigasi mereka.


"Bersabarlah, Tirta! Sebentar lagi kita akan segera bertemu dengan keluargamu!"


Tuyul Dino menjawab ucapan Tirta, matanya masih berwarna biru terang karena dia sedang dalam mode Navigasi.


"Clap.. clap.. clap.."


Perjalanan mereka masih harus berlanjut, entah apakah mereka bisa bertemu dengan keluarga Tirta dengan mudah, atau mereka akan mendapatkan rintangan sama seperti sebelumnya?

__ADS_1


__ADS_2