
"Awww! Tidak apa-apa, Maryam! Untung saja tubuhmu ringan, jika saja tubuhmu berat mungkin pinggangku sudah terkilir. Hehe!" Ayah meledek Mamah, sementara Mamah hanya mengeluarkan senyuman yang kecut.
Lalu Ayahpun kembali bangkit, "Ayo kita coba lagi! Kali ini kamu harus bisa lebih fokus dan mengendalikan rasa takutmu ya, Maryam!" ucap Ayah sambil tersenyum kepada Mamah.
"Baik, Mas! Ayo kita coba lagi, kali ini aku akan fokus!" jawab Mamah sambil melempar senyuman.
Ayahpun kembali mengambil posisi jongkok dan menghadap tiang, lalu ia peluk tiang kayu tersebut. Mamahpun kembali menginjakkan kaki kirinya ke bahu kanan Ayah dan kaki kanannya ke bahu kiri Ayah. Lalu dengan perlahan-lahan, Ayah berdiri untuk mengangkat Mamah ke atas.
"Prok... prok.... prok..." Suara langkah kaki yang begitu cepat tiba-tiba terdengar.
Mamah pun menengok ke depan dan melihat sosok bayangan hitam berlari menghampiri mereka. Sementara itu, Ayah juga mencoba menoleh kebelakang secara perlahan karena penasaran dengan suara langkah kaki yang semakin mendekati mereka.
"Mas, sebaiknya kamu lari mas!" ucap Mamah kepada Ayah karena ia melihat sosok bayangan hitam mendekat dengan cepat.
"Memangnya suara langkah siapakah itu! Jangan takut, aku akan menghadapinya!" jawab Ayah yang lalu berjongkok kembali menurunkan Mamah yang sedang bertengger di pundaknya.
Baru saja Ayah bangkit dari posisi berjongkok, tiba-tiba saat Ayah menoleh ke belakang muncul sosok pria berjubah hitam dengan membawa sebatang kayu ukuran sedang dan lalu memukul ayah tepat di pipi kirinya.
"Bugghh"
Tubuh ayahpun tersungkur ke bawah akibat pukulan itu. Tak ingin kalah dengan mudah, ayahpun kembali bangkit dan memberi perlawanan kepada pria berjubaha hitam. Ia berlari dan melompat sambil melayangkan tendangan kepada pria berjubah hitam dan tendangan ayah mengenai tepat di dadanya.
"Bugghhh"
Tubuh pria berjubah hitampun tersungkur ke bawah, kayu yang ia pegang lalu terlepas dari genggaman tangannya. Ayah dengan sigapnya langsung mengambil kayu tersebut dan kembali menyerang si pria berjubah hitam. Namun, pria berjubah hitam mampu bangkit dan menghalau serangan dari ayah dengan menangkap kayu tersebut dan menahannya. Ayah yang memang pernah berlatih bela diri langsung melesatkan tendangan ke arah bawah dan mengenai kaki si pria berjubah hitam. Pria berjubah hitampun mengerang kesakitan. Setelah itu Ayah langsung merangkul pria berjubah hitam dari belakang dan mencengkeram tubuhnya. Kini posisi mereka seperti sedang bertarung di arena SmackDown. Layaknya seorang pegulat SmackDown, Ayah mengangkat tubuh pria berjubah hitam ke atas dan lalu membantingnya ke belakang.
"Gubbrakkk"
__ADS_1
Tubuh pria berjubah hitam kini terkapar, ia mengerang kesakitan dan menggeliat sambil menyentuh tulang punggungnya. Ayah yang merasa lelah akibat pertarungan tadi, kini mengambil posisi duduk beralaskan tanah sambil mengatur ritme nafasnya.
"Hosh.. hosh.. hosh"
Ayah masih mengatur ritme nafasnya yang masih terengah-engah karena lelah. Perlahan ia kembali bangun, lalu ia melangkah mendekati pria berjubah hitam yang masih mengerang kesakitan.
"Siapakah kau yang berani-beraninya memperlakukan anak dan istriku seperti ini!" Ayah mendekati pria berjubah hitam dan bermaksud ingin membongkar identitas si pria berjubah hitam itu.
Ia mengarahkan tangannya ke bagian tudung pria berjubah hitam, lalu ia singkapkan tudungnya. Rupanya pria berjubah hitam itu masih menggunakan topeng berwarna merah yang mirip dengan topeng iblis dalam budaya perwayangan. Ayahpun langsung mencoba membuka topeng tersebut, namun rupanya si pria berjubah hitam itu langsung menangkap dan menarik tangan Ayah. Ayahpun tersungkur ke bawah. Pria berjubah hitam langsung menindih tubuh ayah, lalu ia mengambil sesuatu yang tersimpan di dalam kantung pada jubahnya. Terlihat pria berjubah hitam mengeluarkan benda mirip dengan jarum suntik medis. Lalu Pria berjubah hitampun menusukkan jarum suntik itu tepat di leher Ayah sebelah kiri.
"Jlep"
Jarum suntikpun menancap, Pria berjubah hitam menekan pendorong cairan yang ada di dalam suntikan agar cairan itu masuk ke dalam aliran pembuluh darahnya Ayah.
Rupanya jarum suntik itu berisikan cairan khusus yang dapat melumpuhkan otot manusia tanpa menghilangkan kesadarannya. Buktinya setelah Ayah terkena jarum suntik, perlahan-lahan Ayah merasakan kalau tubuhnya sangat lemas dan tidak bisa digerakkan. Akan tetapi kesadarannya masih terjaga.
"Siapa kau dasar pengecut, cairan apa yang kau suntikkan kepadaku tadi!" pekik Ayah sambil mencoba mengontrol tubuhnya yang perlahan-lahan tidak bisa di gerakkan.
Ayah dengan nada marah dan kesal kembali berkata-kata, "Dasar pengecut kau, kalau berani hadapi aku secara jantan! Dasar kau pria aneh pengecut, buka topengmu kalau kau memang pemberani!" Ayah terus memaki dan meracau.
Pria berjubah hitam mendekati Ayah yang sudah tidak berdaya lagi. Sambil tertawa ia mengejek Ayah, "Kau itu terlalu bersemangat sehingga mudah sekali dibodohi, Pak Andi!" ucap Pria berjubah hitam.
Ayah pun terkejut setelah mendengar pria berjubah hitam itu menyebut namanya. Muncul banyak tanya dalam hatinya Ayah.
"Siapa kau! Dari mana kau tahu namaku!?" ucap Ayah dengan berteriak.
"Hahahahahaa" Pria berjubah hitam pun kini berada tepat di hadapan Ayah, "Apakah anda lupa dengan saya?"
__ADS_1
Sosok pria berjubah hitam itupun mendekatkan telapak tangan kanannya ke topeng merah yang ia pakai. Lalu ia pun melepas topeng merah tersebut sehingga kini wajah dibalik topeng itu terlihat sangat jelas oleh Ayah.
"Senang berjumpa dengan anda, Pak Andi!"
Sosok itu kini terasa sangat familiar dimata Ayah. Ya tentu saja familiar, karena sosok dibalik topeng merah itu adalah sosok Pak Rahman, Lelaki paruh baya yang sebelumnya telah membantu Ayah dan keluarga untuk menemukan cara menolong Nana.
"Pak.. Pak Rahman, tidak! Bagaimana mungkin bisa anda masih hidup, bukankah anda sudah mati ditangan ratu siluman ular?" tanya Ayah kepada Pak Rahman, mata ayah sama sekali tidak berkedip saat melihat Pak Rahman ada dihadapannya.
"Haha! Ratu Siluman Ular adalah bagian dari rencanaku! Aku butuh banyak tumbal untuk mendapatkan apa yang aku mau!" ucap Pak Rahman sambil tertawa seperti seorang psycho.
Ayah dengan wajah bingung dan terpaku mendengar pernyataan Pak Rahman, "Apa maksud anda, Pak Rahman? Saya benar-benar tidak mengerti?" ucap Ayah.
Pak Rahman kini membelakangi Ayah dan menghadap ke arah Mamah dan Nana, "Aku ingin menjadi paranormal terhebat di dunia, untuk mendapatkan kekuatan itu aku harus memberikan banyak nyawa manusia sebagai persembahan kepada Raja Iblis di alam ini!-
"Tepat di hari ketujuh besok, saat bulan purnama di malam selasa kliwon, aku akan mempersembahkan kalian kepada raja iblis, kemudian aku akan mendapatkan kekuatan yang sangat luar biasa darinya!-
"Dengan kekuatan itu aku bisa membunuh tanpa menyentuh, mengobati hanya dengan menyentuh saja dan aku bisa melihat masa lalu dan masa depan! Saat itu aku akan hidup bergelimangan harta. Hahahahaahaa!" Pak Rahman tertawa dengan lantangnya, sungguh berbeda sekali kepribadian Pak Rahman yang dulu dengan yang sekarang.
Tanpa basa-basi lagi Pak Rahman pun langsung menghampiri Ayah dan menyeretnya ke arah tiang kayu dimana Mamah dan Nana sudah terbelenggu. Ayah ikut dibelenggu oleh Pak Rahman bersama mereka.
"Tunggu dulu! Bukankah kalian harusnya berempat, kemana putra kalian? Apakah kalian berpisah dengannya?" ucap Pak Rahman.
Ayah, Mamah dan Nana hanya diam tidak menjawab pertanyaan Pakn Rahman.
"Hehehehe! Kalau memang ia terpisah, maka saya akan mencarinya sekarang sampai ketemu, agar raja iblis benar-benar puas dengan persembahan yang saya berikan!" ucap Pak Rahman lalu melangkah meninggalkan Ayah dan yang lainnya dalam keadaan terbelenggu pada tiang kayu yang kuat dan keras.
Ayah hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasibnya, ia merasa sangat bodoh dan naif karena dengan mudahnya mempercayai Pak Rahman yang berpura-pura seolah ingin membantu mereka menolong Nana.
__ADS_1
"Maafkan Aku, Maryam! Ternyata dugaanmu benar, harusnya aku mendengarkan ucapan Bu Maya waktu itu!" ucap Ayah menyesal.
"Sudahlah, Mas Andi! Sekarang menyesalpun sudah terlambat. Daripada terus disesali, lebih baik kita bersama-sama mencari cara untuk bisa keluar dari sini terlebih dahulu!" jawab Mamah.