
"Panah kegelapan menghancurkan cahaya!"
Pak Rahman menyerang Dokter Arman dengan serangan secepat kilat dan nyaris tidak terlihat.
"Cting!"
Namun Dokter Arman yang sekarang sudah jauh lebih sakti dari yang sebelumnya, dengan mudah dia menangkis serangan itu dengan pedang nerakanya sehingga membuat Pak Rahman sangat terkejut melihat kemampuan Dokter Arman yang meningkat dengan pesat.
"Wow, kemampuanmu bertambah dengan pesat ya, lumayan juga! hehe!"
Pak Rahman menyeringai, tampaknya dia merasa senang karena Dokter Arman sekarang bertambah kuat.
"Jangan senang dulu, Roman! Yang tadi itu masih belum seberapa!"
Dokter Arman dengan angkuhnya menjawab ucapan Pak Rahman, dia yang sekarang sudah berbeda dari yang kemarin.
Pak Rahman mengangkat keris panjangnya ke atas, matanya terpejam sebentar lalu dia membaca mantera baru.
"Pasukan pepeteng nyawiji lan kumpul ing awakku!" Lalu kemudian mata Pak Rahman kembali terbuka, "Dayaning pepeteng ngrusak jagad raya!"
Seketika itu tubuh Pak Rahman memancarkan aura energi kegelapan yang sangat besar dan dahsyat, radiasi energi kegelapannya itu hingga menghasilkan tekanan udara yang tinggi.
Efek dari kekuatan itu menimbulkan angin ribut, lalu Pak Rahman mengacungkan keris panjangnya ke atas dan menembakan sinar kilat.
Akibatnya kini awan dimensi alam gaib yang hitam itu menjadi mengeluarkan cahaya halilintar yang menggelegar, siapapun tidak akan berani melawan Pak Rahman dalam mode ini kecuali Dokter Arman.
Dokter Arman sama sekali tidak gentar melihat kesaktian adiknya itu yang sudah diluar batas paranormal manapun.
Dokter Arman mengayunkan pedang nerakanya dan dia memposisikan kuda-kudanya untuk bersiap menghadapi serangan dari Pak Rahman.
Lalu tidak lama kemudian tubuh Pak Rahman melayang ke udara, tubuhnya bagaikan tidak terpengaruh terhadap gravitasi.
"Arman, lihatlah! Di dimensi ini aku lebih hebat ketimbang engkau! Sebaiknya kau bersiap-siaplah karena sebentar lagi ajal akan menghampirimu melalui tanganku! Hahaa!"
Pak Rahman benar-benar sudah kelewatan batas, bahkan kini raut wajahnya sudah seperti psikopat yang haus akan darah.
Hati Pak Rahman benar-benar ingin sekali menghabisi nyawa Dokter Arman, sungguh Pak Rahman sudah melupakan ikatan darahnya dengan Dokter Arman.
"Roman, mungkin kau merasa sangat hebat seperti itu, akan tetapi bagiku kau sangat menyedihkan! Aku sebagai kakakmu benar-benar sangat miris atas kelakuanmu itu!"
Dokter Arman tidak terpengaruh akan kekuatan Pak Rahman, sehebat apapun Pak Rahman tetap bagi Dokter Arman dia adalah Roman adiknya dimasa lalu.
"Sudah ku katakan kepadamu berulang kali jangan panggil namaku dengan nama Roman lagi, aku sudah bukan adikmu, aku adalah Rahman si penguasa kegelapan!"
Pak Rahman sudah tidak ingin lagi Dokter Arman memanggilnya dengan namanya di masa lalu, karena baginya masa lalu adalah kebodohan dan kehancuran.
"Gleggerr!"
__ADS_1
Suara halilintar menghiasi area pertarungan mereka berdua, sinar kilat hampir setiap 3 detik sekali muncul, apakah ini akan menjadi pertempuran terakhir mereka berdua?
"Majulah, Rahman! Ayo serang aku!"
Akhirnya Dokter Arman memanggilnya dengan nama Rahman bukan lagi Roman.
Dokter Arman mengarahkan kepalan tinjunya ke arah Pak Rahman sebagai kode untuk meminta Pak Rahman menyerang lebih dulu.
"Settt!"
Maka tanpa aba-aba Pak Rahman secepat kilat melesat dari atas menuju Dokter Arman, dia menyerang Dokter Arman bagaikan seekor burung elang yang menyergap ular di daratan.
"Tap.. tap.. tap..!"
Dokter Arman melompat ke belakang menghindari serangan Pak Rahman, lalu dengan cekatan dia membalikkan arah lompatannya dan menyerang balik Pak Rahman.
"Hiaaaaattt!"
Dokter Arman menyerang Pak Rahman sambil berteriak penuh semangat, serangan Dokter Arman tidak kalah cepat dari serangan Pak Rahman.
"Cring.. cring..!"
Pedang neraka dan keris kegelapan saling beradu mekanik, setiap kali kedua senjata itu beradu maka timbul percikan api, mereka bertempur sangat sengit.
"Bugh..!"
Pak Rahman berhasil menyarangkan pukulannya pada dada Dokter Arman, merasa kalau Dokter Arman sudah lengah lalu Pak Rahman menebaskan kerisnya ke arah kepala Dokter Arman.
Pak Rahman secepat kilat menebas kepala Dokter Arman, bagaikan kilat yang menembus bayangan, serangan Pak Rahman tidak terlihat sama sekali karena saking cepatnya.
["Arman, kau sangat lemah dan mudah lengah, rasakanlah kematianmu i...!"]
Suara hati Pak Rahman terhenti lantaran dia tidak melihat sosok Dokter Arman dihadapannya, padahal dia yakin benar kalau serangannya tadi tepat mengenai kepala Dokter Arman.
Tiba-tiba ada energi yang kuat menyerang dari belakang Pak Rahman, Pak Rahman telat menyadarinya hingga dia terkena serangan itu.
"Breakkk!"
Rupanya serangan itu adalah serangan dari Dokter Arman, Pak Rahman sudah terlambat untuk menghindari serangan itu hingga akhirnya tubuhnya terluka serius akibat seragan dari Dokter Arman.
"Rahman, itu adalah serangan mantera panah api malaikat maut, serangannya begitu cepat dan halus hingga kau tidak akan merasakan kedatangannya!-
"Sekarang giliran aku yang bertanya kepadamu! Apakah kau ingin bertobat atau kau ingin mati ditanganku?!"
Dokter Arman sukses membalikkan keadaan, kini Pak Rahman mengalami luka bakar yang serius di tubuhnya akibat serangan dari Dokter Arman tadi.
"Arrrggghhhh..! Kurang ajar kau Arman, beraninya kau menyerangku secara sembunyi-sembunyi, kalau kau memang jantan hadapi aku langsung!"
__ADS_1
Pak Rahman mengerang kesakitan, dia merangkak dan menepi lalu dia menyembuhkan luka bakarnya dengan bantuan kekuatan mantranya.
"Dalam pertempuran bukan hanya tentang siapa yang terkuat, akan tetapi dalam pertempuran juga diperlukan kecerdasan otak! Rahman ataupun Roman, kau masih sama saja seperti dulu!-
"Kau masih ceroboh dan mudah puas!"
Dokter Arman menyeringai melihat Pak Rahman telah terluka karena serangannya, lalu Dokter Arman kembali pergi menghilang dari pandangan Pak Rahman.
"Bajingan kau, Arman! Mau sampai kapan kau bermain kucing-kucingan dengan aku seperti ini? Cepat kemari dan hadapi aku!"
Pak Rahman meneriaki Dokter Arman yang kembali menghilang, dia geram melihat teknik bertempur Dokter Arman yang begitu pengecut baginya.
Sehingga dia tidak menyadari kalau Dokter Arman sudah ada tepat di belakang punggungnya dan bersiap memberikan serangan kedua kepada Pak Rahman.
"Kau jangan lengah mengawasi musuhmu, Roman!" Dokter Arman yang sudah di belakang Pak Rahman lalu mengarahkan telapak tangannya ke punggung Pak Rahman, "Matahari membakar bumi!" serangan Dokter Arman mengenai Pak Rahman tepat di punggungnya.
"Arrrggghhh!"
Pak Rahman kembali mengerang kesakitan, tubuhnya terpental jauh akibat terkena serangan itu, dia kini bagaikan seekor anak ayam yang sedang dimainkan oleh seekor harimau ganas.
Tubuh Pak Rahman terpental ke bawah membentur tanah dan terseret akibat dorongan dari serangan Dokter Arman, belum juga tubuhnya berhenti tiba-tiba secepat kilat Dokter Arman sudah ada dihadapannya dan kembali memukul Pak Rahman tepat mengenai wajahnya.
"Pukulan Matahari!"
Dokter Arman mengerahkan seluruh kekuatan manteranya pada kepalan tinju kanannya, matanya menatap tajam mata Pak Rahman, Pak Rahman tidak mempunyai kesempatan untuk menghindar.
"Bugghh.."
Tinju Dokter Arman mengenai tepat pada wajah Pak Rahman, akibatnya tubuh Pak Rahman terpelanting ke atas dan menubruk dinding goa.
Lalu tubuh Pak Rahman jatuh ke tanah, kemudian dia tertimpa reruntuhan batu dinding goa akibat terbentur tubuhnya tadi.
Dari kejauhan Dokter Arman merasa kalau serangan dia sudah cukup untuk melumpuhkan Pak Rahman, jadi Dokter Arman menghentikan mode serangnya.
"Krrreekk!"
Terdengar suara retakan pada reruntuhan batu yang menimpa Pak Rahman, Dokter Arman kembali memasang kuda-kudanya.
"Brrakk!"
Pak Rahman melempar batu-batu yang menimpa tubuhnya, ternyata dia masih bisa berdiri padahal tubuh dan wajahnya sudah penuh dengan luka bakar dan luka memar.
"Dasar kau pengecut, Arman! Lihatlah, aku akan mengeluarkan seluruh kesaktianku yang telah aku dapat dari Azazel!"
Pak Rahman mengeluarkan sebuah benda kecil mirip seperti telur puyuh namun benda itu nampak keras dan berwarna hitam pekat.
Pak Rahman menelan benda itu, meskipun Pak Rahman terlihat kesulitan saat menelan benda itu, akan tetapi akhirnya benda itu bisa tertelan dalam keadaan utuh oleh Pak Rahman.
__ADS_1
["Roman, apa lagi yang akan kau lakukan?"]
Dokter Arman merasa jijik waktu melihat Pak Rahman kesulitan menelan benda hitam dan keras dengan bentuk seperti telur puyuh itu.