LEMBU

LEMBU
Chapter 29


__ADS_3

"Hahahahahahaa! Selamat bertemu kembali, Maryam!" ucap Pria berjubah hitam itu dan membuat Mamah merasa heran dengan ucapan Pria berjubah hitam itu.


"Srrreeeek"


Karung berwarna hitam itupun dibuka oleh pria berjubah hitam, dan terlihat kalau didalam karung tersebut berisi manusia yang usianya masih kanak-kanak. Pria berjubah hitampun mendekatkan anak kecil itu kepada Mamah. Betapa terkejutnya Mamah saat mengetahui kalau anak kecil yang di dalam karung tersebut adalah putri kesayangannya yang selama ini ia cari. Anak kecil itu adalah Nana.


"Nanaaa!"


Suara mamah memekik ketika melihat sosok putri kesayangannya kini ada di hadapannya dalam keadaan hidup namun terbelenggu.


"Ma.. Mamaaah!"


Sama seperti Mamah, Nana juga ikut memekik suaranya ketika melihat sosok Ibunya yang sudah lama tak ia jumpai. Rasa bahagia bercampur baur dengan rasa takut. Bahagia karena mereka telah bertemu kembali, merasa takut karena mereka sama-sama terbelenggu dan menjadi tawanan sosok pria berjubah hitam.


"Mamah, aku takut!"


Nana bersuara lirih karena merasa takut. Mamah kembali menoleh ke arah pria berjubah hitam.


"Siapakah dirimu? Kau apakan anakku, beraninya kau memperlakukan kami seperti ini, lihat saja kalau suamiku menemukan kami, kau pasti akan dihabisi olehnya!"


Mamah terus memaki dan meneriaki si pria berjubah hitam. Sementara itu, si pria berjubah hitam hanya tertawa saja seolah meremehkan ucapan Mamah.


"Hahahaha! Kita lihat saja sehebat apa suamimu! Karena aku juga akan menangkapnya dan akan kujadikan persembahan untuk rajaku!" ucap pria berjubah hitam.


Lalu Pria berjubah hitam pun mengangkat tubuh Nana dan mengikatnya di tiang bersama dengan Mamah.


"Kalian tenang-tenanglah disini, aku akan keluar dan mencari suamimu untuk berkumpul denganmu! Hahahaha!" ucap pria berjubah hitam.

__ADS_1


Setelah selesai dengan mereka, pria berjubah hitampun melangkah meninggalkan Mamah dan Nana.


"Mau kemana kau brengsek! Lepaskan kami dari sini, lepaskaaaa!" Mamah terus memekik dan memaki si pria berjubah hitam, namun pria berjubah hitam tidak hilang meninggalkan Mamah dan Nana.


# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #


Sementara itu di tempat lain, Bu Maya masih berusaha mengejar suara Pak Andi ayahnya Tirta. Ia terus mempercepat langkahnya dikarenakan perlahan-lahan cahaya lampu senter mulai meredup.


"Gawat! Kalau lampu senter ini padam namun aku masih belum menemukan Pak Andi, maka aku yang akan terjebak di dalam tempat ini!" Bu Maya merasa sangat khawatir.


"Prok... Prok..."


Kali ini Bu Maya memutuskan untuk berlari agar bisa secepatnya menemukan Pak Andi.


"Pak Andi! Tunggu saya, Pak!" Bu Maya berteriak memanggil nama Ayah, berharap agar Ayah bisa mendengar suaranya dan berhenti berjalan. Sementara itu, semakin lama suara Ayah semakin terdengar sangat jauh. Hingga akhirnya ia tidak lagi mendengar suara Ayah. Yang lebih parahnya lagi, lampu senter yang ia gunakan pun padam. Seketika tempat itu menajadi sangat gelap dan sunyi. Bu Maya mencoba melangkah dengan meraba dalam kegelapan. Langkah demi langkah ia lakukan secara perlahan-lahan dan penuh hati-hati.


"Hiks.. hiks.. hiks.. hiks.. "


Bu Maya seperti mendengar suara seorang perempuan yang sedang menangis. Bu Maya dibuat penasaran oleh suara itu, ia mencoba mendekati asal suara tangisan tersebut. Jika didengar dari suaranya, sepertinya tidak jauh.


"Halo, siapakah disana? Kenapa kamu menangis?" Bu Maya mencoba memanggil suara tersebut sambil meraba jalan yang gelap gulita.


Akhirnya Bu Maya melihat adanya sedikit cahaya dari kejauhan. Ia mencoba mendekati cahaya tersebut. Rupanya suara tangisan itu berasal dari seorang perempuan berambut panjang dan memakai pakaian daster putih polos dan bersih, perempuan itu duduk membelakangi Bu Maya tepat di sumber cahaya sambil menunduk dan menangis. Bu Maya yang merasa penasaran mencoba menghampiri dan berkomunikasi dengan perempuan itu.


"Halo Mbak, Mbak kenapa menangis? Apakah Mbak juga tersesat disini?" Bu Maya bertanya kepada perempuan berambut panjang itu.


Perempuan berambut panjang itu tetap menangis dan tidak menjawab pertanyaan Bu Maya. Bu Maya pun kembali mencoba berkomunikasi dengan perempuan berambut panjang itu.

__ADS_1


"Kalau Mbak tersesat juga disini, mari ikut saya! Kita cari jalan keluar dari sini bersama-sama!" ajak Bu Maya.


Sosok perempuan itu pun akhirnya mengeluarkan suara dan menjawab pertanyaan Bu Maya.


"Hiks... Percuma saja, siapapun yang sudah masuk ke sini maka tidak akan pernah bisa pergi keluar dari sini! Hiks.. hiks" sosok perempuan itu menjawab sambil menangis.


Bu Maya adalah sosok wanita yang baik hati. Ia pun mencoba menenangkan sosok perempuan berambut panjang itu agar tidak menangis lagi dan yakin kalau ia bisa membawa sosok perempuan itu ikut keluar dari dimensi tersebut.


"Percayalah Mbak! Kalau kita yakin dan bekerjasama kita pasti bisa keluar!" Bu Maya masih mencoba membujuk sosok perempuan berambut panjang itu.


Bu Maya mencoba menyentuh tengkuk sosok perempuan berambut panjang itu, tujuannya untuk menenangkan perempuan tersebut. Namun, saat telapak tangannya menyentuh tengkuk perempuan itu, tiba-tiba Bu Maya merasakan rasa panas di telapak tangannya. Rasa panas itu hampir sama seperti panas dari setrikaan uap. Sontak Bu Maya pun menarik kembali tangannya dari tengkuk perempuan berambut panjang itu.


"Bu Maya, Larilah!"


Terdengar suara seorang laki-laki paruh baya yang meneriaki Bu Maya dan menyuruh Bu Maya untuk berlari. Mendengar suara tersebut, spontan Bu Maya pun menoleh ke arah sumber suara tersebut dan rupanya itu adalah suara dari Dokter Arman. Dokter Arman terlihat menggunakan api obor untuk menerangi langkahnya.


"Dokter Arman, benarkah itu anda?"


Bu Maya masih belum begitu percaya kalau sosok yang memanggilnya adalah sosok Dokter Arman. Ia hanya menatapi Dokter Arman dari jauh dan tidak sama sekali mendekati Dokter Arman.


"Cepatlah anda lari, Bu Maya! Hantu disini sangat licik dan ganas!" tegas Dokter Arman mengajak Bu Maya untuk pergi.


Seketika itu juga otak Bu Maya pun berpikir dan teringat kalau di alam gaib ini tidak ada lagi manusia selain dirinya, Dokter Arman dan mungkin keluarga Pak Andi. Setelah menyadari itu, Bu Maya pun mulai mencium aroma bau pandan yang menyengat ke hidung. Bulu kuduk Bu Maya pun berdiri tatkalai ia merasakan hawa panas dan bau pandan yang semakin lama semakin terasa. Bu Maya mencoba memberanikan diri untuk menoleh secara perlahan-lahan ke araha kanannya dimana tadi sosok perempuan berambut panjang sedang menangis. Kini suara tangisan itu sudah tidak lagi terdengar, namun berganti dengan bau pandan dan hawa panas.


Ketika Bu Maya sudah benar-benar meneh ke kana, ia melihat kalau sosok perempuan berambut panjang itu kini sudah berubah menjadi sosok yang berbeda. Sosok itu kini berubah menjadi sosok laki-laki bertubuh besar dengan banyaknya bulu-bulu lebat di sekujur tubuhnya dari atas kepala hingga ke ujung kaki. Bulu-bulunya berwarna hitam pekat dan kedua bola matanya berwarna hitam dengan pupil mata berwarna merah.


"Bu Maya, cepat lari kesini!"

__ADS_1


Dokter Arman kembali memanggil Bu Maya dan memerintahkan Bu Maya untuk secepatnya mengikutinya dari belakang. Bu Maya yang sudah dalam keadaan takut langsung bergegas berlari mengikuti Dokter Arman. Sementara itu, sosok pria berbulu itu juga ikut mengejar Bu Maya.


__ADS_2