
Setelah cukup jauh berjalan menelusuri lorong, Ayah terhenti di pertigaan lorong. Ada lorong disebelah kanan dan kiri. Ia merasa sedikit bimbang untuk memilih jalan mana yang harus ia pilih. Ayah mencoba untuk sejenak menenangkan hati dan pikirannya. Ia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam lalu ia keluarkan dari mulutnya.
Dalam masih keadaan mata terpejam, "Ya Tuhan, tunjukkanlah aku jalan yang benar. Hanya kepadamulah aku berserah diri!"
Ayah masih tetap memejamkan kedua matanya, telinganya seolah ia fokuskan untuk bisa mendengar suara-suara frekuensi rendah yang mungkin bisa membantunya. Dalam keheningan ia mengucap Bissmillah dengan penuh berserah diri.
"Wusssshhhh"
Tiba-tiba ada angin yang bertiup pelan yang Ayah rasakan datang dari lorong sebelah kiri. Ayahpun membuka kedua matanya dan menoleh ke arah kiri memandangi lorong sebelah kiri. Kini hatinya sudah mantap untuk memilih memasuki lorong sebelah kiri. Ia yakin kalau hembusan angin tadi adalah pertanda petunjuk dari Tuhan.
"Alhamdulillah, terima kasih Tuhan atas petunjukmu. Aku akan memilih jalan itu!" ucap Ayah yang lalu berjalan melangkah menuju ke lorong sebelah kiri.
Ayah menelusuri lorong itu dengan lampu senter di kepalanya yang kini sudah sedikit meredup sinarnya. Ia mempercepat langkahnya agar ia bisa cepat menemukan seseorang yang mungkin ia kenal. Ia berharap bisa menemukan Tirta di dalam lorong itu.
Setelah jauh melangkah, akhirnya Ayah melihat sebuah cahaya lampu petromax dari kejauhan. Rasanya sangat asing sekali melihat adanya cahaya lampu petromax di alam gaib ini.
"Cahaya lampu petromax, tidak mungkin bangsa jin memakai lampu petromax! Pasti ada manusia yang tinggal disana!" Ayah berlari mendekati sumber cahaya itu.
Kini Ayah sudah sampai di tempat cahaya berasal. Rupanya cahaya itu berasal dari sebuah area yang cukup besar. Ia melihat banyak lilin yang menyala dan juga obor yang menyala. Dalam keheningan ia seperti mendengar suara dari dalam. Kembali Ayah melangkah mendekati sumber suara yang terdengar pelan olehnya.
Sampailah Ayah disebuah tempat dimana ia melihat ada seorang perempuan yang dibelenggu pada tiang kayu, dibelakangnya juga ada seorang anak perempuan yang ikut dibelenggu pada tiang kayu tersebut. Wajah mereka masih belum terlihat jelas karena mereka dalam posisi menundukkan wajah. Hanya terdengar suara tangisan lirih dari mulut mereka.
"Siapakah kalian, kenapa kalian terbelenggu disini?" tanya Ayah.
Mendengar suara Ayah, sosok perempuan yang terbelenggu dihadapan Ayah kemudian mengangkat kepalanya. Sontak Ayah terkejut setelah mengetahui kalau sosok perempuan yang terbelenggu pada tiang kayu tersebut adalah Maryam, istrinya sendiri.
"Maryam, apa kamu baik-baik saja? Siapa yang dengan teganya membelenggu kamu disini?" tanya Ayah pada Mamah.
"Aku tidak tahu dia siapa, Mas! Hanya saja yang aku lihat pria itu mengenakan jubah berwarna hitam dengan tudung yang menutupi wajahnya!" tutur Mamah menceritakan kepada Ayah, matanya memerah karena menangis.
__ADS_1
Untuk sementara Ayah tidak terlalu mementingkan siapakah pria berjubah hitam yang membelenggu Mamah. Ayah lebih fokus mencari cara untuk bisa membebaskan Mamah dari belenggu yang mengikatnya. Ayahpun mencoba ke belakang Mamah untuk melihat siapakah sosok anak perempuan yang di belakang. Betapa terkejutnya Ayah saat melihat kalau anak perempuan itu adalah Nana.
"Nana!" terdiam sejenak lalu kembali berbicara, "Maryam, kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau anak perempuan di belakangmu ini adalah Nana!" pekik Ayah.
"Aku tadi ingin memberitahukanmu, Mas. Tapi kau sudah lebih dulu berjalan ke belakang!" ucap Mamah.
Ayah langsung membangunkan Nana yang tertidur entah karena lemas atau memang karena mengantuk. Ayah menyentuh dagu Nana untuk membangunkannya.
"Nana, bangunlah sayang! Ini Ayah, Nak!" ucap Ayah dengan suara keras agar Nana terbangun.
Nana pun membuka kedua matanya. Rupanya dia tertidur dikarenakan sangat mengantuk. Melihat Ayahnya kini ada tepat di depan matanya, Nana berteriak senang sekaligus bercampur dengan rasa haru. Ia terharu karena akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan kedua orang tuanya.
"Ayaaaahhhhhhh! Hiks... hiks...!"
Tangis Nana pun pecah, ia tidak mampu lagi membendung air matanya. Sayangnya karena ia sedang dalam keadaan terbelenggu, Nana tidak bisa memeluk Ayah dengan tangannya. Namun Ayah mengerti akan hal itu, Ayahpun langsung memeluk Nana. Atmosfer haru sangat terasa. Keduanya menitikkan air mata saat berpelukan.
"Ayah kangen sekali sama kamu, Nak!" ucap Ayah.
Ayahpun melepaskan pelukannya, "Ayah akan selamatkan kamu dan Mamah dari sini!" lalu melihat rantai yang membelenggu Mamah dan Nana pada tiang, "Kalian harus bisa memanjat sampai ke ujung atas tiang untuk melepaskan rantai dari tiang ini!"
Mamah dan Nana merasa kalau cara itu sangat sulit mengingat tiang kayu itu tingginya sekitar hampir tiga meter dan mereka harus memanjat dalam keadaan membelakangi tiang karena mereka terikat dalam posisi membelakangi tiang.
"Bagaimana mungkin kami bisa melakukan itu, Mas! Kalau salah-salah, bisa-bisa kami cedera!" ucap Mamah memprotes saran dari Ayah.
"Kalian akan secara bergantian menginjak pundak Ayah, dengan begitu maka akan sedikit mengurangi kesulitan!" lanjut Ayah memerintahkan kepada Mamah dan Nana.
Sebenarnya Mamah masih belum yakin kalau cara ini akan berhasil, akan tetapi dikarenakan mereka juga sudah tidak ingin berlama-lama jadinya Mamah menyetujui saran dari Ayah. Apalagi mereka takut kalau nanti si pria berjubah hitam yang misterius kembali datang, maka keadaan akan semakin menyulitkan.
"Ayo Mamah naiklah ke pundak Ayah!" perintah Ayah kepada Mamah sambil berjongkok menghadap dan memeluk tiang untuk menjadi pijakan kaki bagi Mamah.
__ADS_1
"Haaap"
Mamahpun menginjakkan kakinya secara bergantian antara kaki kanan dan kaki kiri dengan posisi membelakangi tiang. Kaki kiri Mamah ada dibahu kanan Ayah dan kaki kanan Mamah menginjak bahu kiri Ayah.
"Kau sudah siap, Maryam? Aku akan berdiri secara perlahan, jagalah keseimbanganmu!" ucap Ayah.
"Aku siap, Mas!" jawab Mamah.
"Bissmillahirrohmaanirrohiiim!" Ayah membaca doa lalu mengangkat badannya untuk berdiri secara perlahan-lahan.
Akhirnya Ayah sudah hampir berdiri tegak. Namun rupanya Mamah gagal menjaga keseimbangan tubuhnya. Kaki kanannya terpeleset dan membuat tubuh Mamah merosot kebawah dan menimpa Ayah hingga Ayah ikut tersungkur ke bawah.
"Srrrrrrkkkkkk"
"Gubraaakkk"
"Awwwww"
Nana juga ikut terkena oleh rantai belenggu yang mengikat Mamah yang ikut merosot kebawah tiang.
"Maafkan aku, Mas! Aku tadi sedikit gagal fokus karena jantungku masih berdebar-debar karena rasa takut!" Ucap Mamah setelah melihat Ayah yang tertimpa oleh tubuhnya.
"Awww! Tidak apa-apa, Maryam! Untung saja tubuhmu ringan, jika saja tubuhmu berat mungkin pinggangku sudah terkilir. Hehe!" Ayah meledek Mamah, sementara Mamah hanya mengeluarkan senyuman yang kecut.
Lalu Ayahpun kembali bangkit, "Ayo kita coba lagi! Kali ini kamu harus bisa lebih fokus dan mengendalikan rasa takutmu ya, Maryam!" ucap Ayah sambil tersenyum kepada Mamah.
"Baik, Mas! Ayo kita coba lagi, kali ini aku akan fokus!" jawab Mamah sambil melempar senyuman.
Ayahpun kembali mengambil posisi jongkok dan menghadap tiang, lalu ia peluk tiang kayu tersebut. Mamahpun kembali menginjakkan kaki kirinya ke bahu kanan Ayah dan kaki kanannya ke bahu kiri Ayah. Lalu dengan perlahan-lahan, Ayah berdiri untuk mengangkat Mamah ke atas.
__ADS_1
"Prok... prok.... prok..." Suara langkah kaki yang begitu cepat tiba-tiba terdengar.