LEMBU

LEMBU
Chapter 31


__ADS_3

Ayah tersadar dari lamunannya, akan tetapi ia masih terus memandangi foto keluarga kecilnya yang kini sedang mendapat ujian yang berat dari Tuhan.


"Ayah yakin kita semua pasti bisa berkumpul kembali, Ayah yakin Tuhan masih mengijinkan kita untuk bersama lagi!" Ucap Ayah dengan nada lirih, tiba-tiba air mata pun menetes dan mengenai foto itu.


Ayah masih larut dalam rasa rindu yang teramat dalam terhadap putri kesayangannya yang bernama Nana. Kerinduannya kini bertambah kuat saat dirinya berpisah dengan Mamah dan Tirta di alam gaib ini.


Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan, Ayah pun mengumpulkan kembali semangat dan tekad pantang menyerahnya. Ia bangun kembali dari posisinya yang masih bersandar di dinding lorong yang keras. Ia menyingsingkan lengan bajunya dan tidak lupa membaca Basmalah untuk melanjutkan perjalanannya.


"Mamah.. Tirta.. Nana..! Tunggulah Ayah, Ayah pasti akan menyelamatkan kalian!"


Ucapan Ayah begitu penuh semangat, layaknya seorang pejuang kemerdekaan pada tahun 1954. Ayah telah siap mengorbankan jiwa dan raganya untuk menyelanatkan keluarganya dan membawa mereka kembali pulang ke alam manusia. Alam dimana Ayah dan yang lainnya hidup dengan damai dan tenteram.


"Prok.. Prok.. Prok.. Prok!"


Suara langkah kaki Ayah terdengar begitu jelas dan menggema di dalam lorong. Suara langkah kaki Ayah telah menggetarkan dinding lorong yang keras. Ayah melangkah layaknya seorang pendekar yang sakti, begitu terlihat gagah dan berani. Apapun yang aka terjadi dan siapapun yang akan mencoba menghentikannya, maka Ayah akan melawannya sampai ke titik darah penghabisan.


# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #


Sementara itu, Mamah dan Nana yang dalam keadaan terbelenggu pada tiang yang terbuat dari kayu namun sangat keras dan kuat. Mamah mencoba mengajak Nana agar suasana tidak terlalu hening.


"Nana, pengalaman apa saja yang kamu alami selama disini? Mamah sangat merindukan kamu!" ucap Mamah.


Nana menoleh ke belakang karena memang mereka berdua dibelenggu pada tiang dalam keadaan saling membelakangi.

__ADS_1


"Nana ngerasa takut banget, Mah! Nana kira Ayah dan Mamah udah lupain Nana. Nana sedih banget, tapi syukur Nana sempat punya teman dengan ibunya yang baik!" Nana menjawab dengan riang, "Ibunya temanku itu juga bilang kalau dia pernah ketemu sama Mamah!"


"Oh ya, kalau begitu siapa nama temanmu itu, Nana!" lanjut Mamah bertanya.


"Namanya Kak Dino, Mah! Dia sejenis hantu tuyul yang baik hati. Ibunya Kak Dino badannya tinggi dan besar dengan rambut panjang yang penuh cairan lengket, biarpun seram tapi dia baik banget sama aku!" Nana menjawab dengan penuh rasa senang.


"Hmmm.. Kalau begitu, nanti setelah kita berdua bebas dari sini, Nana kenalin teman kamu itu sama Mamah ya!" ucap Mamah.


"Oke, Mamah. Mamah pasti suka sama mereka. Tapi, kira-kira kapan kita bisa bebas dari sini, Mah?" kali ini Nana merasa sedih.


"Tenanglah, Nana! Mamah yakin Ayah pasti akan menyelamatkan kita!" jawab Mamah meyakinkan Nana agar tidak terlalu khawatir.


Mamah selalu yakin dan percaya kalau suaminya pasti akan datang untuk menyelamatkan dirinya dan Nana. Sebab ia tahu betul sifat suaminya yang pantang menyerah. Ia merasa sangat beruntung bisa menjadi pemenang yang di pilih oleh hati suaminya. Meskipun dulu banyak pria yang mendekatinya, akan tetapi Ayah lah sosok pria yang paling ia kagumi. Mamah pun mengenang masa-masa lalu saat pertama kali menjalin hubungan dengan Ayah.


"Maryam, kamu ini jadi perempuan mau mencari laki-laki yang seperti apa lagi? Kalu Mas Karyo yang berprofesi sebagai polisi saja kamu tolak, lalu pria yang seperti apa lagi yang kamu mau?" ucap Bu Tinah ibunya Maryam.


Sudah hampir 3 pria yang menyimpan rasa kepada Maryam, namun tidak ada satupun yang mampu mencuri hatinya. Padahal, ketiga pria itu ada yang berprofesi sebagai Polisi, Tentara dan juga Pengusaha Property. Namun hati Maryam sama sekali tidak kepincut kepada mereka.


"Aku nggak suka sama polisi, Bu! Nanti aku bakalan makan uang haram hasil mereka menilang dan korupsi!" Maryam menjawab dengan ketusnya.


"Loh loh, tidak semua polisi seperti itu, Maryam! Kamu harus membuka hatimu, kalau begini terus, nanti kamu bisa jadi perawan tua loh!" Bu Tinah kembali menasehati Maryam.


"Maryam sudah punya calon kok, Bu! Besok Maryam akan minta calonku untuk melamar aku!" jawab Maryam lalu pamit pergi untuk bekerja sebagai buruh pabrik.

__ADS_1


Maryam sudah memiliki lelaki idaman yang bernama Andi. Andi bekerja di BPBD setempat. Maryam bukan tertarik karena pekerjaannya, akan tetapi Maryam tertarik dengan kepribadian Andi yang dermawan dan senang menolong sesama. Andi adalah seorang petugas BPBD yang juga membentuk suatu komunitas peduli sesama, Maryam sering ikut bersamanya dalam acara donasi kepada kalangan orang-orang yang kurang mampu. Bersama Andi, Maryam menemukan bahwa kebahagiaan bukanlah dari seberapa banyaknya harta yang dimiliki. Akan tetapi, kebahagiaan justru didapat saat banyaknya orang-orang yang tersenyum bahagia karena harta kita yang kita sedekahkan kepada mereka untuk mengurangi sedikit beban hidup mereka.


Setelah selesai bekerja, Maryam mengajak Andi untuk bertemu di kedai Bakso Pojok untuk membicarakan hal yang penting. Karena sedang tidak sibuk, Andi pun menyanggupinya. Setengah jam kemudian mereka berduapun berjumpa di kedai bakso pojok.


"Mas, Mamah mau menjodohkan aku sama orang lain kalau aku tidak juga menikah bulan ini! Aku nggak suka dijodoh-jodohi, kalau kamu beneran cinta sama aku, bulan ini juga kamu harus melamar aku!" ucap Maryam dengan tegas.


Dengan tenang Andi menjawab, "Kalau memang seperti itu, besok Mas akan melamar kamu, Maryam!" jawab Andi dengan mantapnya.


Maryam tersenyum bahagia mendengar ucapan pria idamannya tersebut.


Keesokan harinya, Andi beserta keluarga mendatangi rumah Maryam dan melamar Maryam. Merekapun telah memutuskan kalau pernikahan akan dilangsungkan minggu depan. Maryam merasa sangat bahagia ketika mendengarnya.


Minggu kemudian, Andi dan Maryam resmi menjadi pasangan suami istri yang sah secara agama dan negara. Mereka hidup bahagia dan damai. Dua tahun kemudin, merekapun dikaruniai oleh dua anak kembar yang mereka beri nama Tirta dan Nana. Hidup mereka semakin bahagia dengan kehadiran sang buah hati. Setelah tujuh tahun kemudian, Andi pun memilih pensiun dini, mereka membeli rumah di Cikaret. Mereka hidup bahagia disana. Andi memutuskan untuk membuka usaha kecil-kecilan dan Maryam juga membuka usaha catering. Namun kebahagiaan itu kini sempat hilang karena musibah yang menimpa putri kesayangan mereka.


Flashback Off


"Hiks.. hiks... hiks..." Mamah tidak kuat menahan tangisnya.


Ia merasa kalau cobaan yang saat ini ia alami sangatlah berat. Meskipun ia senang karena telah mengetahui kalau Nana ternyata benar masih hidup. Akan tetapi, entah kenapa didalam hatinya selalu saja merasakan firasat buruk akan terjadi.


"Mamah, kenapa Mamah masih sedih? Kan sekarang Mamah sudah ketemu sama aku?" ucap Nana.


"Hiks.. hiks, Mamah juga tidak tahu kenapa, Nana! Hati Mamah selalu saja merasakan kalau sesuatu yang buruk akan menimpa kepada kita semua!" jawaban Mamah membuat Nana merasakan khawatir.

__ADS_1


Akankah firasat buruk yang dirasakan oleh Mamah benar-benar akan terjadi. Ataukah itu hanyalah sebuah firasat buruk yang biasa terjadi terhadap seorang Ibu? Terus ikuti kisahnya dalam novel ini.


__ADS_2