
Setelah merasa cukup kuat untuk menghadapi Rahman, Dokter Armanpun menggunakan serpihan dari Pak Rahman yang terluka akibat dihajar habis-habisan olehnya.
Dia menggunakan serpihan itu untuk menemukan dimana keberadaan Pak Rahman saat ini dengan kemampuan manteranya.
Dokter Arman mengucapkan mantera dan lalu dia menggerakkan kedua tangannya dengan gerakan memutar, lalu tidak lama kemudian muncul sebuah portal gaib yang akan membawanya ke sebuah tempat dimana dia akan kembali menghadapi Pak Rahman.
# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #
Sementara itu di tempat dimana Pak Rahman berada, dia tampak begitu bahagia dan sumringah.
Entah apa yang membuat dia begitu bahagia, Mamah dan Ayah juga tidak mengetahuinya.
"Rahman, anda tampak senang sekali? Apakah anda sudah menjadi gila sekarang!"
Ayah menegur Pak Rahman yang tertawa sendiri seperti orang sakit jiwa, Ayah ingin memanfaatkan situasi ini untuk membuat Pak Rahman emosi dan mendekatinya.
"Hahaha! Ya, ucapan anda itu benar! Saya memang sudah gila sekarang, karena sebentar lagi saya akan menjadi orang yang memiliki segalanya, hahaha!"
Pak Rahman menjawab hinaan dari Ayah tanpa rasa emosi, dia justru semakin mengeraskan suara tawanya.
"Haha! Bagaimana mungkin manusia laknatulloh seperti anda bisa memiliki segalanya, yang ada justru anda sedang dinanti-nantikan oleh malaikat penjaga neraka!"
Ayah terus mencaci Pak Rahman, kali ini Pak Rahman berhenti tertawa dan terlihat raut wajah emosi darinya.
"Tukk.. tukk.. tukk..!"
Pak Rahman menghampiri Ayah dengan mata yang menatap tajam kepada Ayah, Ayahpun membalas tatapan tajam dari Pak Rahman.
"Anda sungguh berani sekali mencaci saya sedangkan nyawa anda tidak lama lagi akan saya korbankan, terbuat dari apakah jiwa dan pikiran anda ini!"
Pak Rahman mencekik Ayah dengan tangan kanannya hingga membuat Ayah kesulitan bernafas.
"Lihatlah! Saya bisa saja langsung menghabisi nyawa anda, tetapi saya tidak mau hal itu karena nyawa anda akan saya serahkan kepada raja iblis untuk ditukar dengan keabadian dan kekuatan yang luar biasa!"
Pak Rahman mengangkat tangannya yang sedang mencekik Ayah hingga tubuh Ayah juga ikut terangkat ke atas.
Pak Rahman sungguh benar-benar kuat jika sudah menggunakan kekuatan mantera, dia bagaikan seorang superhero yang memiliki otot kawat dan tulang besi.
"Ahhkkkk!"
Ayah memaksakan diri untuk bernafas sehingga dia tersedak dan batuk, cengkeraman tangan Pak Rahman pada lehernya sangatlah kuat.
Namun ini adalah saat yang tepat untuk melakukan perlawanan kepadanya.
Maka dengan cepat Ayah mengangkat kedua kakinya dan menjepit leher Pak Rahman sekuat tenaga.
__ADS_1
Rupanya Ayah tadi hanya berpura-pura lemas, dia menyimpan tenaganya untuk melakukan perlawanan kepada Pak Rahman.
Pak Rahman terkejut dengan serangan dadakan dari Ayah, dia tidak sempat untuk menghindari serangan itu, alhasil lehernya terjepit oleh kedua kaki Ayah dan dia juga jadi kesulitan bernafas.
"Matilah, Rahman! Dalam keadaan seperti ini anda tidak akan bisa membaca mantera!"
Ayah terus menjepit leher Pak Rahman sekuat-kuatnya, wajah Pak Rahman tampak memerah karena kesulitan bernafas.
Matanya terbuka lebar dan cengkeraman tangannya pada leher Ayah mulai melemah, sementara Ayah terus menjepit lehernya dengan sekuat tenaga.
"Aaaaaaarrrrrhhhh! Matilah, matilah, matilah!"
Ayah menjepit leher Pak Rahman sambil berteriak penuh emosi untuk memperkuat jepitan kakinya pada leher Pak Rahman.
Akhirnya Pak Rahman melepaskan tangannya yang mencekik Ayah, sepertinya kali ini Ayah sukses mengalahkan Pak Rahman.
"Terus, suamiku! Jangan kamu kasih dia ampun!"
Mamah menyoraki Ayah agar Ayah semakin bersemangat, dia sangat senang melihat suaminya masih bisa memberikan perlawanan, namun tiba-tiba.
"Bruukkkk..!"
Bebatuan terjatuh dari atas dan menimpa tepat pada kepala dan juga kaki Ayah yang sedang menjepit leher Pak Rahman, hal itu membuat jepitan kaki Ayah pada leher Pak Rahman menjadi terlepas.
Ayah merasa kecewa karena serangannya terhenti oleh reruntuhan batu, tetapi dia merasa yakin kalau Pak Rahman tidak mungkin selamat dari serangan tadi dan kepala Pak Rahman juga tertimpa reruntuhan batu, seharusnya Pak Rahman mati karena itu.
Tiba-tiba datang lagi reruntuhan batu dari atas, rupanya itu adalah ulah dari siluman Lembu peliharaan Pak Rahman.
Ayah melihat siluman itu datang dengan membawa sesuatu di kedua tangannya.
Ternyata Siluman Lembu itu membawa Tirta, Bu Maya dan satu makhluk misterius berkepala botak.
"Tirta! Tidak mungkin akhirnya anakku berhasil dia tangkap! Kurang ajar!"
Ayah sangat marah semarah-marahnya ketika melihat Tirta berada dalam genggaman siluman itu, matanya melotot dan giginya saling beradu karena emosi.
Lalu Siluman Lembu itu turun dan mencari Pak Rahman, namun dia tidak menemukan sosok tuannya.
Lalu tiba-tiba Pak Rahman keluar dari tumpukan reruntuhan dalam keadaan semrawut dan luka parah di kepalanya, Siluman Lembupun menghampiri Pak Rahman.
Lalu Siluman Lembu itu mentransfer sebagian kekuatannya kepada Pak Rahman untuk menyembuhkan lukanya, dalam waktu beberapa detik Pak Rahman kembali pulih seperti sediakala tanpa bekas luka sedikitpun.
["Sial, bagaimana mungkin dia masih bisa hidup setelah aku jepit lehernya dan kepalanya tertimpa reruntuhan?"]
Ayah terkejut melihat Pak Rahman yang masih bisa bernafas dan kembali pulih setelah menyerap energi dari Siluman Lembu.
__ADS_1
Pak Rahmanpu menghampiri Ayah, dengan emosi dia lalu memukul perut Ayah sampai Ayah memuntahkan darah.
"Anda benar-benar membuat saya naik pitam, grrrrr!"
Pak Rahman hendak menghajar Ayah kembali, namun dia mengurungkan niat itu dan memalingkan tubuhnya lalu menghampiri siluman Lembu.
"Lembu, berikan anak kecil laki-laki itu kepadaku, aku akan percepat upacara persembahannya sekarang!"
Pak Rahman menerima tubuh Tirta yang sedang dalam keadaan pingsan, sementara dia meminta agar siluman Lembu menjauhkan tubuh istrinya sendiri yaitu Bu Maya dan juga tubuh Tuyul Dino dari area itu agar nanti mereka berdua tidak mengganggu upacara persembahan yang segera berlangsung.
Siluman Lembu menuruti perintah itu, lalu dia melompat ke atas dan membawa tubuh Bu Maya dan Tuyul Dino menjauh dari tempat Pak Rahman berada.
["Maya, kenapa kau juga harus ikut campur! Kalau aku tahu kau akan membantu mereka, harusnya kau juga aku bunuh saja saat itu!"]
Pak Rahman tidak menyangka kalau istrinya akan ikut menghentikan dirinya, tetapi dia sudah tidak mempedulikan itu karena sekarang dia akan melangsungkan upacara persembahan.
Pak Rahman ikut membelenggu Tirta bersama dengan yang lainnya.
Lalu Pak Rahman membaca sebuah mantera dengan nada pelan, lalu dia menyentuhkan telapak tangannya ke tanah, maka tiba-tiba keluar penjara besi berbentuk kubus dari dalam tanah.
Pak Rahman memasukkan tubuh Tirta ke dalam penjara besi itu, lalu dia juga menghampiri Ayah, Mamah dan Nana.
Dia memasukkan mereka bertiga ke dalam penjara besi itu, satu persatu diantara mereka dipaksa masuk kedalam penjara besi itu oleh Pak Rahman.
Lalu Pak Rahman menggambarkan sebuah gambar yang luas dengan bentuk bintang dengan 6 sudut lancip persis seperti lambang bintang David, penjara besi itu tepat berada ditengah-tengah gambar.
Dia menggambar menggunakan campuran darah hewan dan minyak misik, lalu di tiap-tiap sudut lancip itu masing-masing dia pasang api obor yang menyala terang.
Lalu dia juga menyirami penjara besi itu dengan sisa dari campuran darah hewan dan minyak misik.
# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #
Sementara itu saat Siluman Lembu sudah berada diluar, rupanya sudah ada seseorang yang menunggu Siluman Lembu itu, dia adalah Dokter Arman.
Dokter Arman berniat ingin menyelamatkan Bu Maya dan Tuyul Dino, lalu dia mengeluarkan kekuatan manteranya yang lebih kuat.
"Katon parang neraka!"
Dokter Arman menebas Siluman Lembu itu tepat di kepalanya, kepala Siluman Lembu itu langsung putus dan tubuhnya terjatuh ke bawah.
Lalu Dokter Arman menyelamatkan Bu Maya dan juga Tuyul Dino dari tangan Siliman Lembu.
__ADS_1