
"Tukk.. tuk.. tukk.."
Dokter Arman membopong tubuh Bu maya yang sudah tidak berdaya menuju ke atas goa dimana Tirta dan Nana sedang menunggu dirinya.
Nafas Dokter Arman sudah terengah-engah karena dia juga sudah merasa kelelahan setelah lama bertarung dengan Pak Rahman.
["Bertahanlah, Bu Maya! Aku akan berusaha sekuat tenaga menyelamatkan anda!"]
Dokter Arman menatap wajah Bu Maya yang sudah sangat lemah, dia harus segera mempercepat langkahnya sebelum kehabisan waktu dan portal dimensi alam gaib tertutup.
Sementara untuk bisa membuka portal dimensi gaib kembali dibutuhkan banyak persyaratan khusus dan beberapa alat pusaka yang diperlukan.
Dalam keadaan yang lemah seperti ini sangat tidak memungkinkan bagi Dokter Arman untuk melakukan ritual pembukaan portal alam gaib.
"Brrukkk!"
Dokter Arman terjatuh karena tersandung batu reruntuhan kecil, dia merasa kesakitan dibagian lututnya karena lututnya membentur tanah.
"Aarrrggghhh.. sakit sekali! Tetapi aku tidak boleh menyerah!"
Dokter Arman memaksakan kakinya agar kuat berdiri lagi, nafasnya terengah-engah dan pandangannya sudah sedikit kabur.
Namun beberapa menit kemudian, Dokter Arman berhasil mengumpulkan sedikit tenaganya untuk melangkahkan kaki dan memfokuskan pandangannya.
"Tukk.. tukk..!"
Dokter Arman melangkahkan kakinya secara perlahan-lahan, kontur jalan yang sedikit menanjak membuat dirinya harus sekuat tenaga melangkah sambil menggemblok Bu Maya.
Dokter Arman berjalan dengan penuh hati-hati, akhirnya berhasil sampai di atas dan menemui Tirta dan Nana.
"Om Dokter, Bu Maya, kalian baik-baik saja kan?"
Tirta berteriak setelah melihat Dokter Arman dan Bu Maya berhasil selamat, Tirta langsung berlari menghampiri Dokter Arman.
Melihat kalau dirinya telah berhasil sampai di atas, Dokter Arman lalu membungkukkan badan dan merebahkan tubuh Bu Maya sejenak dan juga merebahkan tubuhnya sendiri untuk mengisi tenaga.
Tirta sudah berada di dekat Dokter Arman begitupun juga dengan Nana yang mengikuti Tirta menghampiri dokter Arman.
"Om Dokter, Om baik-baik saja kan? Aku mengkhawatirkan Om Dokter dan Bu Maya! Hiks.. hiks..!"
Tirta sedih melihat Dokter Arman dan Bu Maya lemah tidak berdaya, dia takut keduanya juga akan meninggalkan dirinya seperti kedua orang tuanya.
Melihat Tirta menangis sedih, Dokter Arman lalu membangunkan badannya dan duduk, lalu dia mengusap kepala Tirta.
"Jangan bersedih, Tirta, Om dan Bu Maya baik-baik saja, kami berdua hanya kelelahan setelah bertarung dengan Rahman!-
Dokter Arman lalu merangkul Tirta yang masih bersedih, "Maafkan Om yang telah gagal menyelamatkan Ayah dan Mamah kamu!"
Dokter Armanpun ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Tirta, sebab dia juga pernah mengalami hal yang sama dengan Tirta.
__ADS_1
Tirta yang melihat Dokter Arman ikut menangis lalu bertanya kepada Dokter Arman.
"Kenapa Om Dokter ikut menangis juga?" tanya Tirta heran.
"Om juga pernah merasakan kehilangan kedua orang tua saat Om masih kecil dulu, kedua orang tua Om meninggal karena kecelakaan lalu lintas yang direncanakan!"
Dokter Arman menceritakan pengalaman pahitnya sewaktu masih kecil kepada Tirta, Tirta setelah mendengar penuturan cerita dari Dokter Arman lalu kembali memeluk Dokter Arman dengan erat.
Keduanya menangis bersama-sama, ada hubungan batin yang terjalin di antara mereka berdua.
Nana dari kejauhan menatap Tirta dan Dokter Arman, lalu dia menghampiri mereka berdua.
Tirta melirik ke arah Nana dan tersenyum, dia sedikit merasa senang kali ini.
"Setidaknya aku tidak terlalu sedih karena masih ada Nana yang akan aku jaga sampai aku dan Nana sama-sama sudah dewasa!-
"Kemarilah, Nana! Kita berpelukan!"
Lalu Nana mendekap Tirta dan Dokter Arman, Dokter Arman merasakan dirinya sudah seperti seorang Ayah yang memeluk erat anak-anaknya.
Dalam hati Dokter Arman, dia mulai merasa kalau dia bertanggung jawab untuk menolong dan membantu kedua anak itu agar bisa hidup normal dan menggapai cita-cita mereka.
Sesaat kemudia Dokter Arman kembali bersemangat, tenaganya kembali pulih karena kedua anak itu membuat dirinya kembali bersemangat.
Dokter Arman lalu kembali menggemblok tubuh Bu Maya lalu dia berdiri dan bersiap kembali melanjutkan perjalanan pulang.
"Ayo Tirta dan Nana, kita harus kembali bersemangat untuk bisa keluar dari dimensi kelam ini dan pulang untuk kembali tidur di kasur yang empuk!"
Dokter Arman berjalan sambil menggemblok Bu Maya, sementara Tirta dan Nana mengikuti Dokter Arman dari samping kanan dan samping kirinya.
# # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # # #
Sementara itu di dalam goa, dimana tubuh Pak Rahman tergeletak tak bernyawa.
Tiba-tiba ada angin dingin yang berhembus dan mengenai tubuh Pak Rahman.
Tiba-tiba kedua mata Pak Rahman kembali terbuka, namun itu bukanlah Pak Rahman asli melainkan itu adalah iblis yang memanfaatkan tubuh Pak Rahman.
Iblis itu meminjam tubuh Pak Rahman untuk mengucapkan sebuah mantera yang entah mantera untuk apa itu.
"Dhuh ratuning pepeteng seneng-seneng, bukak mripat lan kekuwatanmu!-
"Tangia lan lumebu ing wadhahmu, aku iki abdimu sing setya!-
"Goleka wadhah kanggo sampeyan sing wis daksiapake!-
Angin semakin berhembus kencang dan tiba-tiba kilat kembali muncul.
Dokter Arman terkejut melihat situasi yang tiba-tiba menjadi kacau kembali.
__ADS_1
"Brukk!"
Tiba-tiba Nana terjatuh dan mengeluh kesakitan dibagian kepalanya.
Tirta mencoba menolong Nana dengan membopongnya, akan tetapi tubuh Nana tiba-tiba menjadi sangat berat sekali.
["Ada apa dengan anak ini?"]
Dokter Arman merasa heran dengan apa yang telah terjadi pada Nana, dia merasakan ada sesuatu yang aneh sedang terjadi pada Nana.
"Om, aku tidak kuat mengangkat tubuh Nana, dia sangat berat sekali, Eeuuuhh..!"
Tirta masih berusaha sekuat tenaga mencoba menggotong tubuh adik kesayangannya itu, namun usahanya tetap tidak membuahkan hasil.
Dokter Arman mencoba membantu Tirta mengangkat Nana, akan tetapi Dokter Arman juga sama tidak kuatnya mengangkat tubuh Nana.
Dokter Arman mencoba menggunakan bantuan mantera namun dia tidak punya cukup tenaga untuk menggunakan mantera.
"Kak Tirta, cepat pergi tinggalkan aku sendiri, akan terjadi sesuatu yang buruk pada diriku, aku tidak mau kakak celaka karena aku!"
Nana memerintahkan Tirta untuk segera pergi meninggalkannya, dia merasakan ada sesuatu yang buruk yang akan mengambil alih tubuhnya.
Dokter Arman mulai memperhatikan seluruh tubuh Nana, lalu dia menemukan adanya tanda segel di bahu kiri Nana.
Dokter Arman memusatkan pandangannya pada tanda segel di bahu kiri Nana, dia baru sadar kalau itu bukan tanda biasa melainkan tanda segel kontrak wadah iblis.
"Kurang ajar, Roman, kau sungguh kejam sekali! Tega-teganya kau menjadikan seorang anak kecil sebagai wadah Iblis!"
Dokter Arman sangat emosi, tetapi dia juga belum tahu pasti Iblis apakah yang akan mengambil alih tubuh Nana.
Sementara itu kembali kepada mayat Pak Rahman yang sedang merapal mantera dan sesaat lagi akan mengucapkan mantera terakhirnya.
"Bangkitlah, Paduka Ratu Iblis, merasuklah ke dalam tubuh anak itu!"
Setelah mengucap mantera terakhir lalu perlahan-lahan mayat Pak Rahman terbakar oleh api yang entah dari mana api itu berasal, sepertinya itu adalah efek samping dari penggunaan mantera.
Meskipun Pak Rahman sudah musnah, akan tetapi masalah baru akan segera mendatangi Dokter Arman, Tirta dan Bu Maya.
Kembali pada tempat dimana Tirta dan Dokter Arman berada yang sedang menyaksikan keanehan yang terjadi pada Nana.
Semakin lama tanda segel di bahunya semakin memanjang dan memenuhi seluruh bagian tubuh sebelah kirinya, tiba-tiba wajah Nana juga ikut berubah.
Wajah sebelah kirinya menjadi keriput tua dan seram, rambutnya secara tiba-tiba menjadi bertambah panjang.
"Tirta, kita harus lari tinggalkan Nana, dia akan segera kehilangan kendali dan mungkin akan membunuh kita!"
Dokter Arman menarik Tirta untuk pergi meninggalkan Nana yang sedang dalam proses perubahan.
Tirta melawan Dokter Arman dan tidak ingin ikut pergi, namun Dokter Arman sekuat tenaga memangku Tirta sambil menggemblok Bu Maya, Dokter Arman memaksakan diri untuk berlari meninggalkan Nana sendirian.
__ADS_1
"Tidaaakk..! Nana, aku tidak mau kehilangan adikku! Om Dokter, lepaskan aku! Nana...!"